Universitas Airlangga Official Website

Santri, Sekolah Berasrama, dan Emosi yang Terlupakan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas pendidikan dan kesehatan mental peserta didik, satu emosi penting justru sering terlewatkan: kebosanan akademik. Emosi ini kerap dianggap sepele—sekadar kurang motivasi atau tanda kemalasan. Padahal, riset psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kebosanan adalah indikator serius yang dapat memengaruhi keterlibatan belajar, prestasi akademik, hingga kesejahteraan psikologis siswa.

Isu ini menjadi semakin relevan di lingkungan sekolah berasrama dan pesantren, tempat siswa menjalani rutinitas belajar yang padat, terstruktur, dan berulang setiap hari. Dalam konteks ini, kebosanan bukan semata persoalan individu, melainkan fenomena sistemik yang perlu dibaca secara lebih jernih dan ilmiah.

Kebosanan Bukan Sekadar Masalah Sikap

Selama ini, pendidikan cenderung memusatkan perhatian pada kecemasan ujian, stres belajar, atau kelelahan akademik. Kebosanan jarang masuk dalam radar kebijakan pendidikan. Padahal, menurut teori emosi akademik, kebosanan muncul ketika siswa merasa kehilangan kendali atas proses belajar dan tidak menemukan makna dari aktivitas yang dijalani.

Jika dibiarkan, kebosanan dapat berkembang menjadi sikap apatis, rendahnya partisipasi kelas, hingga penurunan prestasi. Pada lingkungan berasrama, efek ini bisa berlipat ganda karena siswa tidak memiliki banyak ruang untuk mengalihkan diri dari aktivitas belajar yang monoton.

Pesantren dan sekolah Islam berasrama di Indonesia memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter, disiplin, dan nilai spiritual. Namun, struktur pembelajaran yang ketat, metode pengajaran yang kurang variatif, serta jadwal harian yang padat berpotensi menimbulkan kejenuhan belajar, terutama pada santri usia remaja.

Pesantren di Indonesia memiliki karakteristik yang sangat khas. Selain mengajarkan kurikulum umum, pesantren juga menanamkan pendidikan agama secara intensif, disiplin kolektif, serta nilai-nilai moral dan spiritual. Struktur ini memiliki banyak keunggulan, tetapi sekaligus menyimpan tantangan tersendiri dari sisi psikologis. Rutinitas yang padat, metode pembelajaran yang cenderung seragam, serta tuntutan kepatuhan tinggi dapat membuat sebagian santri mengalami kejenuhan belajar, terutama jika kebutuhan afektif dan psikologis mereka tidak terakomodasi secara memadai.

Sayangnya, hingga kini kebosanan akademik jarang dibahas secara terbuka dalam wacana pendidikan pesantren. Santri yang tampak mengantuk, lambat merespons, atau kurang antusias sering kali langsung diberi label kurang disiplin, tanpa upaya memahami kondisi emosional yang mendasarinya.

Mengukur Emosi, Mengelola Pendidikan

Hingga saat ini, belum banyak instrumen psikologis yang benar-benar sesuai dengan konteks budaya dan religius pesantren untuk mendeteksi kondisi tersebut.

Salah satu kendala utama dalam menangani kebosanan akademik adalah ketiadaan alat ukur yang sesuai dengan konteks budaya Indonesia, khususnya pesantren. Banyak instrumen psikologis dikembangkan di Barat dan tidak selalu relevan secara bahasa maupun makna.

Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab tantangan ini dengan mengadaptasi dan memvalidasi instrumen kebosanan akademik yang digunakan secara internasional agar sesuai dengan konteks pesantren Indonesia. Melalui proses adaptasi bahasa, penilaian pakar, dan pengujian statistik terhadap ratusan santri tingkat SMP, penelitian ini menghasilkan alat ukur yang valid dan reliabel.

Instrumen tersebut mengungkap bahwa kebosanan santri bukan hanya soal rasa jenuh, tetapi mencakup aspek emosional, kognitif, motivasional, hingga fisik, mulai dari pikiran yang mudah melayang, hilangnya semangat belajar, hingga kelelahan dan rasa mengantuk berkepanjangan.

Temuan ini membawa pesan penting: kebosanan akademik adalah sinyal, bukan kesalahan siswa. Ketika santri merasa bosan, yang perlu ditinjau bukan hanya sikap individu, tetapi juga desain pembelajaran, relevansi materi, serta ruang partisipasi yang diberikan kepada siswa.

Bagi guru, pemahaman tentang kebosanan dapat menjadi dasar untuk:

  • memperkaya metode pembelajaran,
  • meningkatkan interaksi dua arah di kelas,
  • mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa,
  • serta menyeimbangkan tuntutan akademik dan kebutuhan emosional.

Bagi pengelola pesantren dan sekolah berasrama, data kebosanan akademik dapat menjadi bahan evaluasi kebijakan pendidikan, termasuk penataan jadwal, variasi aktivitas, dan penguatan layanan bimbingan konseling.

Pendidikan yang Memanusiakan

Mengelola emosi akademik bukan berarti melemahkan disiplin atau menurunkan standar pendidikan. Justru sebaliknya, pendekatan berbasis emosi membantu menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, efektif, dan berkelanjutan.

Pesantren memiliki modal besar untuk mengembangkan pendidikan yang tidak hanya kuat secara moral dan spiritual, tetapi juga peka terhadap kesehatan psikologis santri. Dengan dukungan riset dan alat ukur yang tepat, kebosanan dapat diidentifikasi lebih awal dan direspons secara konstruktif.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana siswa mengalami proses belajar itu sendiri. Mengakui dan memahami kebosanan akademik adalah langkah kecil, namun penting, menuju sistem pendidikan yang lebih berdaya dan manusiawi.