UNAIR NEWS – Non Governmental Organization (NGO) yang bergerak di bidang islamic global development, Santrinesia, menggaet Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) UNAIR sebagai media partner gelar Santrinesia Talks.
Acara itu mengusung tema Santrinesia Talks:”Talkshow and Sharing Session with UAE Mosque Imam”. Kegiatan tersebut berlangsung secara daring melalui zoom meeting pada Sabtu (17/2/2024).
Hadir dalam acara tersebut, Imam Masjid Uni Emirat Arab (UEA) sekaligus alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya UNAIR, Ahmad Musyaddad. Musyadad mengatakan, perjuanganya untuk menjadi Imam di UEA bermula ketika ia memasuki masa skripsi.
“Ketika saya menjalani skripsi, teman saya memberikan informasi bahwasanya ada pendaftaran menjadi imam di UEA oleh Kementerian Agama,” tutur Musyaddad.
Musyaddad melanjutkan, setelah mendapatkan informasi tersebut ia diterima sebagai imam setelah menjalani berbagai proses seleksi. Mulai dari, lanjutnya, Computer Assisted Test (CAT), dua kali wawancara bersama Kementerian Agama, dan satu kali wawancara dengan pihak masjid.
Kuliah dan Dakwah
Musyaddad menerangkan, menjadi imam dan belajar di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris UNAIR tidak memiliki keterkaitan secara keilmuan. Namun, lanjutnya, ia mendapatkan manfaat besar dalam mencapai menjadi tujuan hidupnya.
“Meskipun terlihat tidak ada relevansi secara keilmuan antara menjadi imam dan berkuliah pada Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, namun hal tersebut memiliki manfaat bagi hidup saya,” tutur Musyaddad.

Musyaddad melanjutkan, melalui perkuliahan pada Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris tersebut, membuatnya bisa berkomunikasi dengan banyak orang pada negara lain melalui kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Sehingga, lanjutnya, ia bisa berdakwah tidak hanya pada masyarakat dalam negeri saja tetapi juga luar negeri.
Tantangan Menjadi Imam
Musyaddad mengatakan, ada beberapa tantangan berat yang harus ia hadapi ketika menjadi imam masjid di UEA. Hal itu dikarenakan, lanjutnya, terdapat perbedaan jamaah salat dan budaya yang signifikan dengan masyarakat Indonesia.
“Saya memiliki beberapa tantangan ketika menjadi imam masjid di UEA, seperti permintaan jamaah yang berbeda-beda. Sehingga, saya sebagai imam harus menghadapi permintaan para jamaah tersebut yang tidak saya temui di Indonesia,” terang Musyaddad.
Musyaddad melanjutkan, tantangan lainya adalah sulitnya menjalani hidup dengan kesendirian. Meskipun, lanjutnya, ia tidak memiliki kendala secara finansial, namun menjalani kehidupan sendiri di negeri orang bukanlah hal yang mudah.
Penulis: Muhammad Rizal Abdul Aziz
Editor: Nuri Hermawan





