Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh volatilitas nilai tukar terhadap return indeks MSCI saham-saham syariah di seluruh Asia dengan pendekatan penelitian kuantitatif menggunakan model Exponential Generalized Autoregressive Conditional Heteroscedasticity (EGARCH) periode 2 Januari 2015 sampai dengan 30 Juni tahun 2020.
Kita selama ini mengetahui jika Volatilitas nilai tukar dapat berdampak pada kondisi perekonomian yang dapat menggambarkan kekuatan ekonomi negara tersebut. Jika nilai tukar terapresiasi, negara memiliki cadangan nilai tukar surplus dan kondisi yang baik untuk sektor ekonomi internasional dan sebaliknya. Volatilitas yang terjadi pada nilai tukar juga berdampak pada pasar modal, hal ini dikarenakan mayoritas emiten memiliki utang dalam denominasi mata uang asing. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, negara-negara berkembang pernah mengalami krisis keuangan seperti crash pasar saham pada tahun 1978, krisis mata uang Meksiko pada tahun 1994,
Krisis mata uang Asia pada Juli 1997, dan krisis subprime mortgage AS 2008-2009. Peristiwa ini ditandai dengan pengembalian aset negatif yang signifikan dan volatilitas yang tinggi, dan dampaknya dengan cepat mempengaruhi negara berkembang lainnya (Walid et al., 2011). Dampak krisis keuangan turut menyebabkan hilangnya kepercayaan investor terhadap pasar modal konvensional akibat krisis keuangan Asia tahun 1997. Momen krisis menjadi titik balik yang signifikan bagi industri pasar modal syariah. Meningkatnya kebutuhan akan keterbukaan pasar modal syariah semakin terasa setelah krisis keuangan tahun 2008 ketika permintaan meningkat di negara-negara maju, khususnya Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara berkembang seperti Mesir, Malaysia, dan Sudan (Kassim, 2013). Kebutuhan pasar modal syariah menunjukkan bahwa investor memperhatikan perlunya diversifikasi ekonomi aset mereka untuk meminimalkan kerugian.
Bagi investor, penting untuk memperhatikan hubungan antara nilai tukar dan indeks harga saham karena hubungan keduanya sangat erat. Jika nilai tukar naik, indeks harga saham secara tidak langsung akan naik. Naik turunnya harga saham disebabkan oleh apresiasi mata uang asing yang pada akhirnya menyebabkan fluktuasi permintaan investor terhadap saham di pasar modal (Elton et al., 2014).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa volatilitas nilai tukar berpengaruh signifikan terhadap return indeks MSINI (India), MSCNI (China), dan MSKRI (Korea). Sementara itu, volatilitas nilai tukar tidak berpengaruh signifikan terhadap return indeks negara-negara Asia Tenggara, MSIDI (Indonesia), MSMYI (Malaysia), MSTHI (Thailand), dan MSPHI (Filipina). Setiap indeks saham memiliki karakteristik dan sikap investor yang berbeda dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar. Di sisi lain, indeks saham MSIDI (Indonesia), MSMYI (Malaysia), MSTHI (Thailand), dan MSPHI (Filipina) yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan menunjukkan bahwa jika terjadi shock nilai tukar bersifat volatile. Investor dalam indeks saham ini tidak akan bereaksi terhadap pasar valuta asing. Indeks Islami MSCI Asia Tenggara dapat menjadi alternatif sebagai investasi diversifikasi untuk meminimalkan risiko nilai tukar. Sedangkan implikasinya bagi pemerintah khususnya China dan Korea yang volatilitas dolarnya berdampak negatif terhadap saham syariah, pemerintah harus disarankan untuk menambah ruang stimulus fiskal dan memberikan kemudahan berbisnis di sektor riil, termasuk pariwisata. dan kegiatan ekspor-impor, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar.
Penulis: Sylva Alif Rusmita., SE., CIFP
Link Jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/JEBIS/article/view/39018/23294





