Universitas Airlangga Official Website

Serum MMP-7 dan Fungsi Hati pada Atresia Bilier

Ilustrasi oleh Halodoc
IIustrasi bayi dengan atresia bilier (Foto: Halodoc)

Atresia bilier adalah penyakit fibroinflamasi progresif pada saluran empedu. Penyakit ini merupakan penyebab utama transplantasi hati pada anak-anak. Atresia bilier memiliki beberapenegakan diagnosis atresia bilier dapat melalui pemeriksaan penunjang ultrasonografi perut (USG). Bisa juga melalui skintigrafi hepatobilier, kolangiopankreatografi retrogradasi endoskopik (ERCP), dan biopsi hati.

Diagnosis yang cepat pada atresia bilier sangat penting karena intervensi tepat waktu dengan operasi Kasai. Hal ini memberikan hasil yang paling baik dalam hal menghindari kebutuhan akan transplantasi hati. Studi telah menemukan berbagai kemungkinan penyebab atresia bilier, seperti kerentanan genetik, keterlibatan sistem imun, dan infeksi virus. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan penyumbatan saluran empedu di luar hati dan perkembangan fibrosis hati.

Peradangan yang berkepanjangan, dengan respons imunologis, transformasi sel epitel bilier menjadi sel mesenkim. Selain itu akanterjadi penumpukan matriks dan pembentukan pembuluh darah baru yang tidak terkendali. Dugaannya ini adalah sebagai faktor yang berperan dalam perkembangan fibrosis hati. Pemeriksaan biokimia rutin perlu untuk mengevaluasi tingkat kolestasis, tingkat cedera hepatoseluler, dan fungsi hepatosit. Namun, tidak ada tes non-invasif yang baku dalam menentukan diagnosis atresia bilier.

Matrix metalloproteinases (MMP) adalah sekelompok enzim yang berperan dalam degradasi komponen matriks ekstraseluler (ECM) melalui penggunaan katalisis zinc-dependent. Hal ini memungkinkan migrasi seluler dan reorganisasi jaringan. MMP mengalami sintesis sebagai zymogen, yang merupakan bentuk tidak aktif yang menjadi aktif setelah terelpas dari sel. Studi sebelumnya telah mengindikasikan bahwa tes MMP-7 serum sangat sensitif dan spesifik dalam membedakan atresia bilier dari bentuk kolestasis neonatal lainnya.

Beberapa penelitian sebelumnya telah membahas potensi diagnostik biomarker serum dalam membedakan atresia bilier dari bentuk kolestasis neonatal lainnya. Dengan berfokus pada peran matriks metaloproteinase, termasuk MMP-7. Sebagai contoh, sebuah studi menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas kadar MMP-7 serum dalam mengidentifikasi atresia bilier/. Hal itu menunjukkan bahwa MMP-7 dapat menjadi biomarker non-invasif yang potensial untuk kondisi ini.

Sensitivitas dan spesifisitas diagnostik ditentukan masing-masing sebesar 98,67% dan 95,00%, dengan nilai prediktif negatif ditemukan sebesar 98,28%. Kadar serum MMP-7 telah menunjukkan potensi yang baik dalam mengindikasikan derajat keparahan fibrosis hati. Hal ini juga dapat membantu dalam mengidentifikasi atresia bilier pada bayi yang menderita kolestasis.

Studi ini merupakan penelitian potong lintang yang melibatkan bayi atresia bilier di RSUD dr Soetomo Surabaya, Januari 2022-April 2023. Pengumpulan data klinis, data demografi dasar, dan sampel darah, pelaksanaannya adalah pada saat awal pasien datang. Kadar MMP-7 terevaluasi dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Penelitian ini terjadi setelah mendapatkan persetujuan etik tertulis dari Komite Etik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo dan setelah mendapatkan persetujuan dari orang tua maupun wali pasien. Analisis statistik menggunakan perangkat lunak SPSS 25.0.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 85 bayi dengan atresia bilier, dengan usia rata-rata 11 (7-35) minggu, 46 (54,1%) anak laki-laki, dengan onset ikterus pada usia 2 (1-20) minggu. Nilai MMP-7 adalah 1,91 (0,39 – 9,95) ng/ml, Albumin 4,06 (1,41 – 4,79) g/dl, Aspartate aminotransferase (AST) 235,37 ± 130,48 U/L, Alanine aminotransferase (ALT) 143. 2 (30 – 641) U/L, Gamma-glutamil transpeptidase (GGT) 361 (23,9-3746) U/L, bilirubin direk 8,75 ± 4,28 mg/dl, dan bilirubin total 12,34 ± 6,36 mg/dl. Kadar MMP-7 menunjukkan korelasi positif dengan kadar albumin (r = 0,232; p = 0,033), tetapi berkorelasi negatif dengan kadar AST (r = -0,252; p = 0,020) dan ALT (r = – 0,275; p = 0,011). Nilai bilirubin langsung atau total, hemoglobin, leukosit, trombosit, dan fungsi koagulasi tidak berhubungan dengan MMP-7 (p>0,05).

Pada penelitian ini menghasilkan sebuah hipotesis bahwa MMP-7 yang dapat menjadi algoritma diagnostik dalam memprediksi terjadinya atresia bilier pada bayi dengan kolestasis. Namun, untuk meningkatkan pemahaman dan manfaat penggunaan klinis MMP7 dalam mendiagnosis atresia bilier, perlu adanya penelitian lebih lanjut yang berfokus pada beberapa aspek lainnya. Perlu juga penelitian berskala besar untuk membuktikan keakuratan MMP-7 dalam memprediksi atresia bilier dan sebagai penanda prognostik kerusakan hati di berbagai populasi. Studi multisenter perlu untuk mengetahui kadar MMP-7 setelah intervensi terapeutik seperti prosedur Kasai atau transplantasi hati dan menilai korelasinya dengan hasil luaran dan perkembangannya.

Penulis: Dr Bagus Setyoboedi, dr SpA(K)

Sumber: ‘Serum matrix metalloproteinase 7 (MMP-7) and liver function in biliary atresia’, Journal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research, 6(7), pp. 990-996. doi: 10.48309/jmpcr.2024.437084.1099