Kekayaan hayati di dunia memberi peluang untuk penemuan tanaman berkhasiat obat. Dalam sejarahnya, obat justru banyak ditemukan dari tanaman obat yang telah digunakan secara turun temurun. Kandungan senyawa aktif dari tanaman berkhasiat obat dapat digunakan untuk beragam kebutuhan kesehatan. Salah satu senyawa yang mulai banyak dikaji adalah α-Hederin.
α-Hederin adalah senyawa bioaktif alami yang banyak ditemukan di tanaman berkhasiat obat yang aromatik (Aromatic and Medicinal Plants). Senyawa ini berhasil untuk diidentifikasi, dikarakterisasi, dan diisolasi menggunakan berbagai teknologi ekstraksi dan karakterisasi, seperti HPLC, LC-MS, dan NMR. Uji biologis telah mengungkapkan bahwa senyawa ini memiliki berbagai sifat biologis, terutama aktivitas antikanker. Bahkan, aktivitas antikanker α-Hederin banyak diuji pada beberapa jenis kanker misalnya kanker esofagus, hati, payudara, kolon, kolorektal, paru-paru, ovarium, dan lambung.
Mekanisme kerja antikanker α-hederin bervariasi, antara lain melalui induksi apoptosis dan penghentian siklus sel, pengurangan produksi ATP, serta penghambatan autophagy, proliferasi atau pembelahan sel, invasi, dan metastasis. Menariknya, mekanisme kerja antikanker seperti yang dimiliki oleh α-hederin ini justru menjadi target untuk pengembangan agen kemoterapi baru.
Berdasarkan fakta diatas, sekelompok peneliti yang berasal dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga bekerjasama dengan peneliti dari Maroko, Brunei Darussalam, Malaysia, Sudan dan Arab Saudi melakukan pengkajian literatur terkait sifat dan mekanisme kerja antikanker senyawa α-hederin.
Dari hasil penelusuran pada literatur didapatkan kesimpulan bahwa sebagai senyawa yang melimpah di alam, α-hederin potensial dikembangkan sebagai antikanker pada berbagai jenis penyakit. Bahkan, α-hederin memiliki karakter farmakodinamika antikanker yang berbeda-beda pada setiap jenis penyakit kanker. Hal ini menjadikan α-hederin kandidat senyawa obat kanker yang ideal. Meskipun demikian, peneliti menyatakan karakter farmakokinetika α-hederin belum banyak diteliti. Selain itu, diperlukan pula uji aktivitas antikanker senyawa α-hederin secara in vivo pada hewan coba.
Penulis: apt. Andi Hermansyah, PhD
Artikel dapat diakses di https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0753332223009964





