Saat ini, nanopartikel sudah menjadi penelitian yang sering dilakukan oleh banyak orang. Nanopartikel memiliki kelebihan dalam penerapannya ke semua bidang seperti Kesehatan, energi, pangan, dan pertanian. Mekanisme pembuatan nanopartikel memiliki tiga metode utama yaitu melalui metode fisika, kimia, dan biologi. Metode fisika dikenal memiliki metode yang presisi dalam menghasilkan nanopartikel namun memiliki kekurangan yaitu prosesnya yang mahal. Metode kimia dikenal dapat menghasilkan nanopartikel dengan ukuran yang berskala nano (1 – 100 nm) tetapi sering sekali ditemukan efek toksik dari bahan kimia yang digunakan. Metode biologi merupakan metode baru yang menggunakan bahan – bahan alam seperti tanaman, jamur, dan bakteri sebagai agen reduktornya.
Metode biologi atau yang selanjutnya dikenal sebagai metode sintesis hijau merupakan metode yang memiliki beberapa kelebihan seperti harga ekonomis, tidak bersifat toksik, dan mudah untuk dibuat. Adanya sintesis hijau membuat produksi nanomaterial dapat berjalan lebih cepat, mudah, dan aman. Drai sekian banyaknya logam atau semi logam yang ada di dunia, selenium menjadi salah satu material logam atau semi logam yang sering dimanfaatkan oleh manusia baik sebagai suplemen maupun diaplikasikan ke barang lainnya. Pemanfaatan selenium perlu dioptimalkan kembali melalui berbagai metode rekayasa material seperti pemanfaatan nanoteknologi.
Adanya nanoteknologi pada material selenium dapat meningkatkan nilai dan luas permukaan pada selenium tersebut. Selenium ketika memasuki tubuh terbukti masih mengalami kesulitan untuk dicerna. Sementara itu, selenium sudah menjadi mikroelemen penting bagi tubuh karena dapat digunakan sebagai precursor peningkatan antioksidan di dalam tubuh. Produksi nanopartikel selenium (SeNPs) diharapkan dapat menjadi suplemen bagi tubuh sebagai mikroelemen tambahan dari luar tubuh. Penelitian ini juga melakukan berbagai karakterisasi pada SeNPs untuk memastikan material selenium telah berukuran nanometer. Berbagai karakterisasi telah dilakukan seperti UV-Vis spektroskopi, FTIR, PSA, dan SEM untuk membuktikan bahwa metode sintesis hijau telah mampu dalam menciptakan SeNPs.
Bahan tanaman okra dipilih karena tanaman tersebut telah terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi melalui kandungannya seperti kuersetin. Manfaat okra telah dirasakan oleh banyak manusia terutama sebagai sumber gizi dan vitamin bagi tubuh manusia. Okra dikenal juga dalam perannya sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit degeneratif seperti kanker dan diabetes. Pemanfaatan okra dalam penelitian mendukung perannya sebagai reduktor dalam menstabilkan ion selenium sehingga menghasilkan material stabil dengan berukuran nano. Ekstrak okra juga dapat berperan sebagai agen penstabil atau lebih dikenal dengan capping agent terhadap material selenium tersebut sehingga SeNPs yang dihasilkan dapat awet dalam jangka waktu yang lama.
SeNPs yang diujikan dalam pengukuran aktivitas antioksidan menunjukkan adanya peningkatan nilai aktivitas antioksidan berdasarkan jumlah dosis yang diberikan. Hasil tersebut menampilkan kemampuan SeNPs sebagai agen antioksidan yang baik sehingga diharapkan dapat berperan lebiih jauh dalam peningkatan antioksidan di dalam tubuh. Selain itu, hasil uji DPPH dan ABTS menunjukkan bahwa SeNPs dapat menampilkan nilai aktivitas antioksidan yang tinggi sehingga layak ketika dijadikan suplemen untuk manusia.
Penulis: Dr. Raden Joko Kuncoroningrat Susilo, S.Si., M,Si.
Informasi penelitian ini dapat dilihat pada: Green Synthesis of Selenium Nanoparticles from Okra (Abelmoschus esculentus ) Extract with Characterization and Antioxidant Activity | Susilo | Indonesian Journal of Chemistry





