Dalam kondisi fisiologis, Reactive Oxygen Species (ROS) berperan dalam proses seluler seperti pertahanan terhadap agen infeksi. Pada konsentrasi rendah, ROS terlibat dalam menginduksi respons mitogenik. Sebaliknya, kelebihan ROS, bersama dengan Reactive Nitrogen Species (RNS), mengganggu keseimbangan redoks tubuh, yang mengarah pada stres oksidatif.
Stres oksidatif merupakan faktor kunci yang memicu kerusakan seluler dan struktural, serta diyakini berkontribusi terhadap perkembangan berbagai penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan neurodegeneratif, kanker, dan penuaan. Menanggapi permasalahan ini, banyak peneliti yang fokus mengembangkan obat atau senyawa dengan sifat antioksidan untuk mengurangi efek merugikan dari kelebihan ROS dan RNS.
Senyawa dengan sifat penangkap radikal bebas telah menarik perhatian besar di kalangan peneliti yang berupaya mengembangkan molekul dengan kemampuan tersebut. Aktivitas antioksidan menggambarkan kinetika dari setiap reaksi yang terbentuk antara antioksidan dan radikal target. Peran senyawa antioksidan adalah menghambat reaksi selama fase inisiasi dan propagasi radikal bebas dengan cara berinteraksi langsung dengan radikal tersebut atau dengan mediator radikal.
Dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya kebutuhan akan antioksidan, banyak peneliti melakukan hibridisasi molekular terhadap senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan sebagai langkah untuk meningkatkan sifat antioksidannya. Senyawa dengan sifat penangkap radikal bebas telah menarik perhatian besar di kalangan peneliti yang berupaya mengembangkan molekul dengan kemampuan tersebut.
Menanggapi hal tersebut, dirancanglah konsep hibridisasi molekular. Hibridisasi molekuler adalah konsep yang relatif baru dalam desain dan pengembangan obat, yang didasarkan pada penggabungan gugus farmakofor dari berbagai senyawa bioaktif. Tujuannya adalah untuk menghasilkan beberapa molekul hibrida baru dengan aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan obat induknya. Beberapa contoh molekul hibrida yang telah dikembangkan antara lain turunan kumarin-tiazol, kumarin-kalkon, triazol-kalkon, dan tiazadiazol-kalkon. Kalkon, tiazol, dan kumarin merupakan farmakofor yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dan telah menjadi subjek penelitian yang luas.
Pada penelitian ini, dilaporkan serta dibahas proses sintesis, elusidasi struktur, dan evaluasi aktivitas antioksidan dari beberapa molekul hibrida yang tersusun dari tiga farmakofor, yaitu kumarin, tiazol, dan kalkon yang terbentuk secara simultansecara simultan.
Dalam penelitian ini, sebanyak sepuluh senyawa hibrida yang menggabungkan tiga farmakofor, yaitu kalkon, kumarin, dan tiazol telah berhasil disintesisis. Sintesis senyawa target dilakukan dengan menggunakan reaksi siklisasi Hantzsch antara 3-(bromoasetil) kumarin dan kalkon-tiourea sebagai bahan awal, dengan berbagai variasi substituen yang digunakan. Turunan kalkon-tiourea dengan substituen yang bersifat donor elektron menghasilkan rendemen produk yang lebih tinggi (80–99%), sedangkan yang memiliki substituen penarik elektron menghasilkan rendemen lebih rendah (70–80%).
Struktur molekul dari senyawa hasil sintesis dielusidasi menggunakan teknik spektroskopi, yang terdiri dari UV-Vis, FTIR, HR-ESIMS, ¹H-NMR, dan ¹³C-NMR. Aktivitas antioksidan dievaluasi menggunakan uji DPPH dan ABTS, yang menunjukkan bahwa senyawa hasil sintesis memiliki aktivitas antioksidan yang sedang.
Penulis: Dr. Hery Suwito, Drs., M.Si.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





