Kelemahan yang dialami oleh pasien kritis saat dirawat ruang perawatan intensif yang dikenal dengan istilah intensive care unit-acquired weakness (ICU-AW). Walaupun ICU-AW merupakan masalah serius, namun seringkali luput dari perhatian. Prevalensi global ICU-AW berkisar antara 25% hingga 85% di ICU dan sekitar 36% terdeteksi setelah pemulihan dari sakit kritis. ICU-AW dapat terus berlanjut bahkan setelah perawatan di ICU selesai. Pasien yang mengalami ICU-AW dapat memengaruhi lama perawatan, durasi penggunaan ventilator mekanis, dan angka kematian di ICU serta rumah sakit. Meskipun sebagian pasien pulih sepenuhnya, namun sebagian lagi dapat mengalami kelemahan jangka panjang. Kelemahan yang berkepanjangan akan menyebabkan keterbatasan fungsional dan penurunan kualitas hidup. Derjad keparahan ICU-AW berhubungan dengan severitas penyakit, durasi penggunaan ventilasi mekanis, kondisi sepsis, kegagalan multi-organ, hiperglikemia, imobilisasi jangka panjang, dan lama rawat di ICU.
Neuromuscular electrical stimulation (NMES) adalah metode fisioterapi yang menggunakan impuls listrik untuk merangsang otot agar berkontraksi. Impuls listrik ini disalurkan melalui elektroda yang ditempatkan di atas kulit di sekitar area otot yang ditargetkan, seperti otot quadriceps (bagian depan paha). Terapi ini membantu menjaga dan meningkatkan kekuatan otot pada pasien ICU yang tidak mampu melakukan gerakan fisik aktif, seperti pasien yang disedasi atau terlalu lemah untuk latihan.Alat NMES dapat mengirimkan impuls listrik ke saraf yang menyebabkan otot berkontraksi meniru potensial aksi yang berasal dari sistem saraf pusat. Metode ini telah digunakan selama bertahun-tahun untuk tujuan memperkuat dan mempertahankan kekuatan otot serta mencegah atrofi, terutama pada pasien yang tidak bergerak. Beberapa penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa penggunaan NMES pada pasien ICU-AW dapat meningkatkan kekuatan otot dan mengurangi lama rawat di ICU.
Creatine kinase (CK) merupakan salah satu biomarker penting yang menggambarkan adanya gangguan muskuloskeletal. Creatine kinase terutama ditemukan di otot rangka dan jantung, serta di otak dan jaringan lain dalam jumlah kecil. Peningkatan kadar CK berhubungan dengan kerusakan, gangguan, atau penyakit neuromuskular lainnya. Muscle-spesific creatine kinase (CK-MM) yang merupakan subtipe kreatin kinase yang paling umum ditemukan di sistem muskuloskeletal dan merupakan biomarker penting untuk diagnosis dan pemantauan gangguan otot rangka.
Berdasarkan fakta ilmiah yanga ada saat ini, maka peneliti ingin menganalisis efek NMES terhadap perubahan nilai kreatin kinase, kekuatan otot global, dan otot quadriceps femoris pada pasien ICU-AW. Penelitian ini melibatkan 23 pasien ICU yang mengalami kelemahan otot setelah dirawat lebih dari 48 jam dan menggunakan ventilator lebih dari 24 jam. Pasien diberi terapi Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES) setiap hari selama 5 hari. Pengukuran dilakukan sebelum, selama, dan setelah terapi menggunakan Medical Research Council Scale for Muscle Strength (MRC-SS), manual muscle testing (MMT), dan kadar kreatin kinase (CK-MM). Alat NMES dipasang pada otot quadriceps femoris, dengan intensitas disesuaikan hingga pasien merasakan kontraksi nyaman. Data dianalisis menggunakan SPSS, dengan uji statistik seperti Friedman dan Wilcoxon untuk mengukur perbedaan signifikan pada kekuatan otot dan kadar CK-MM.
Penelitian melibatkan 23 pasien ICU dengan kelemahan otot. Terapi NMESmenunjukkan peningkatan signifikan pada kekuatan otot global dan quadriceps femoris antara hari pertama, ketiga, dan kelima (p < 0,001). Analisis menunjukkan hubungan signifikan antara durasi penggunaan ventilator dan peningkatan kekuatan otot, dengan pasien yang menerima NMES mengalami pemulihan lebih cepat. Selain itu, kadar CK-MM menurun secara signifikan setelah terapi (p < 0,05), mencerminkan perbaikan kerusakan otot. Hasil ini menunjukkan bahwa NMES efektif meningkatkan kekuatan otot dan mempercepat pemutusan ventilator, menjadikannya solusi potensial untuk kelemahan akibat perawatan intensif.
ICU-AW berdampak buruk pada pemulihan pasien karena memperpanjang penggunaan ventilator dan rawat inap. NMES direkomendasikan sebagai terapi untuk pasien ICU yang tidak kooperatif atau mengalami penurunan kesadaran, karena mampu merangsang kontraksi otot melalui impuls listrik. Penelitian ini menunjukkan bahwa NMES efektif meningkatkan kekuatan otot global dan quadriceps femoris, serta menurunkan kadar CK-MM, yang menandakan perbaikan kerusakan otot. Kombinasi NMES dengan terapi standar ICU membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi lama rawat inap. Pemantauan sistematis ICU-AW menggunakan MRC-SS diperlukan untuk mengidentifikasi pasien berisiko tinggi dan merencanakan strategi penanganan ventilasi lebih efektif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa neuromuscular electrical stimulation (NMES) secara signifikan dapat meningkatkan kekuatan otot global dan otot quadriceps femoris, serta menurunkan kadar kreatin kinase (CK-MM) pada pasien ICU yang menggunakan ventilator. Temuan ini menunjukkan bahwa NMES dapat menjadi intervensi yang efektif untuk mengurangi kejadian ICU-AW, yang pada akhirnya dapat meningkatkan luaran klinis pasien, termasuk mengurangi durasi rawat inap di ICU dan mempercepat pelepasan ventilator.Dengan demikian NMES dapat menjadi intervensi yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot dan mengurangi kerusakan otot pada pasien ICU dengan ICU-AW. Oleh karena tidak membutuhkan kerja aktif dari pasien, maka NMES sangat bermanfaat bagi pasien yang dalam kondisi kritis atau tidak kooperatif. Ini menjadi bagian penting dari pendekatan rehabilitasi modern di ICU. Dengan memahami manfaat NMES, rumah sakit dan tim medis dapat mempertimbangkan terapi ini sebagai bagian dari protokol rehabilitasi pasien ICU, khususnya untuk mereka yang memiliki risiko tinggi mengalami kelemahan otot.
Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)
Link: https://www.apicareonline.com/index.php/APIC/article/view/2405
Baca juga:





