Universitas Airlangga Official Website

Soroti Folklor Pulau Parang, Mahasiswa MKSB Raih Penghargaan di Konferensi Internasional

Ilham Baskoro, Mahasiswa Fastrack MKSB UNAIR dalam Konferensi Internasional SUTERA 2025 (Foto: Dok. Narasumber)
Ilham Baskoro, Mahasiswa Fastrack MKSB UNAIR dalam Konferensi Internasional SUTERA 2025 (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Ilham Baskoro, Mahasiswa Fastrack Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mendapatkan penghargaan. Kali ini, ia berhasil mempresentasikan ide terbaiknya dalam Konferensi Internasional SUTERA 2025 di Thailand. Dalam konferensi tersebut, ia meraih penghargaan Anugerah Azah Aziz Kertas Terbaik: Budaya (Gangsa) pada Senin (25/8/2025).

Konferensi tersebut menghadirkan peserta dari berbagai negara di lingkup Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura bahkan Brunei Darussalam. Para akademisi dari berbagai negara tersebut mempresentasikan gagasan masing-masing. Baskoro, sapaan akrabnya, mempresentasikan gagasan mengenai folklor di Pulau Parang, Karimunjawa.

“Pastinya dengan mengikuti konferensi ini menjadi pengalaman terbaru sekaligus mendapatkan banyak relasi dari berbagai negara. Di sini saya menyampaikan gagasan tentang sebuah nilai folklor yang berada di Pulau Parang. Terkejut juga bisa mendapatkan penghargaan tersebut,” ucapnya

Presentasikan Ide Budaya Lokal

Penghargaan yang Baskoro raih berawal dari kegiatan pengabdian masyarakat di Pulau Parang hingga menghasilkan gagasan tentang folklor tersebut. Ia menyampaikan bahwa folklor bukan hanya mencakup cerita turun temurun dari nenek moyang akan tetapi juga memori kolektif dari masyarakat setempat.

“Di sini saya mempresentasikan bahwa dengan folklor ini menjadikan informasi bagi masyarakat tersebut untuk terus peduli akan nilai budaya di sekitarnya. Kemudian pengetahuan baru akan nilai potensial folklor juga penting untuk terus dijaga ke depannya,” ungkapnya.

Baskoro awalnya mencoba untuk mengenalkan gagasannya tersebut dengan mengikuti seleksi terlebih dahulu. Ia tidak menyangka bahwa bisa lolos hingga tahap presentasi dan mendapatkan penghargaan. Di sana idenya mendapatkan apresiasi banyak akademisi luar negeri.

“Saya ingin menunjukkan bahwa folklor di kancah internasional dapat berpotensi untuk terus dikembangkan informasinya sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia. Ternyata hasil gagasan ini menjadi bahan yang bernilai dan dianggap baru dalam lingkup ilmuwan internasional,” sambungnya.

Sebagai penutup, Baskoro menekankan pada masyarakat awam juga mahasiswa untuk tidak menganggap rendah budaya lokal kota sendiri. “Justru sebagai mahasiswa kita harus bisa menghargai dan mengembangkan budaya tersebut. Kancah Internasional, budaya Indonesia sangat unik dan ekspresif,” tegasnya.

Penulis: Ersa Awwalul Hidayah

Editor: Yulia Rohmawati