Universitas Airlangga Official Website

Soroti Ketidakadilan Gender, UKM Kependudukan UNAIR Dorong Pengarusutamaan Gender

Foto Dr Lutfi Agus Salim SKM, M Si pada Seminar Nasional ADFEST 2025 pada Ahad (21/9/2025). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebagai bentuk komitmen terhadap isu kesetaraan gender, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kependudukan Universitas Airlangga (UNAIR) menyuguhkan Seminar Nasional bertema Inclusive Leadership for Gender Quality in Every Space. Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu (21/9/2025), di Aula Ternate Lt.1 Aseec Tower, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR. 

Kegiatan tahunan ini, merupakan serangkaian acara dari Airlangga Demography Festival 2025. Menghadirkan Narasumber Dr Lutfi Agus Salim SKM M Si selaku Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia Provinsi Jawa Timur sekaligus pembina UKM Kependudukan UNAIR 2025. 

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa seks merupakan kategori fisik dan biologis yang tidak dapat diubah, seperti kemampuan melahirkan atau menyusui. Sementara itu, gender lebih dipahami sebagai peran sosial yang dihubungkan dengan jenis kelamin tertentu, hingga sifatnya dapat berubah seiring perkembangan zaman.

“Perbedaan fungsi biologis tidak bermasalah, yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan gender menimbulkan ketidakadilan,” tegasnya.

Ketidakadilan gender hadir dalam lima bentuk, yakni stereotip dan labeling, marginalisasi jenis pekerjaan, subordinasi, beban ganda, dan kekerasan. Menurut Dr Lutfi, permasalahan tersebut masih kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. “Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki lebih dominan melanggengkan ketimpangan gender,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dr Lutfi menyoroti berbagai bentuk peristiwa Pelecehan seksual, berawal dari  Anger Rape (karena amarah), Sadistic Rape (menyakiti korban), Domination Rape (dominan seperti dosen kepada mahasiswa), Exploitation Rape (memanfaatkan posisi), dan Seductive Rape (melibatkan kerelaan yang bias). Ia menegaskan bahwa kekerasan seksual bukan sekadar akibat dorongan biologis, melainkan niat dan kesempatan pelaku.

Selain itu, Dr Lutfi menekankan bahwa tubuh manusia, khususnya perempuan, kini juga berada dalam kontrol kapitalisme. Ia mencontohkan bagaimana standar tubuh ideal, pusat kebugaran, hingga produk kosmetik dimanfaatkan sebagai daya tarik kapitalis untuk meningkatkan perekonomian. “Tubuh yang seharusnya menjadi ranah pribadi justru dijadikan komoditas publik,” jelasnya.

Sebagai solusi, hadir pengarusutamaan gender (PUG) sebagai strategi untuk mengintegrasikan perpektif gender menjadi satu dimensi bagi laki-laki dan perempuan yang didorong melalui peningkatan Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM). Ia menambahkan, masih terdapat anggapan masyarakat bahwa kesetaraan gender hanyalah ‘budaya barat’ yang diadopsi di Indonesia.

“Ketidakadilan gender harus diperkecil hingga akhirnya hilang. Upaya ini memerlukan dukungan aspek hukum, budaya, fasilitas, serta pendidikan, termasuk pendidikan gender bagi laki-laki,” pungkasnya.

Penulis: Bethari Sri Indrajayanti

Editor: Khefti Al Mawalia