UNAIR NEWS – Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu internasional pada Senin (14/9/2026). Forum itu dihadiri langsung oleh Dr Leon Moosavi BA MA PGCert SFHEA PhD selaku dosen Departemen Sosiologi, University of Liverpool. Dalam kesempatan ini, Dr Leon mengajak peserta berdiskusi terkait diskursus dan hubungan antara sepak bola dan muslim.
Dr Leon membuka kuliahnya dengan menegaskan bahwa sepak bola tidak sekadar permainan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang menyerupai institusi agama. Pembahasan mengalir ke isu yang lebih spesifik, bagaimana identitas muslim dibentuk, dipertaruhkan, dan tidak jarang direndahkan. Poin-poin yang disampaikannya mengacu pada riset etnografi dan wawancara yang ia lakukan terhadap 40 penggemar.
Sepak Bola sebagai Ruang Identitas dan Kepercayaan
Leon menjelaskan bahwa melalui sudut pandang sosiologis, sepak bola memiliki kriteria sebuah agama. Sepak bola banyak menyatukan orang melalui ritual, simbol, dan sejenisnya yang memunculkan sebuah identitas baru.
Ia menyoroti adanya identitas ganda, keberadaan muslim sekaligus warga Inggris masih menjadi hal yang dipertentangkan oleh masyarakat di sana. “Pada satu waktu, orang-orang mengatakan kamu tidak bisa menjadi orang Inggris sekaligus muslim. Kamu harus memilih salah satu di antara keduanya,” jelasnya.
Di samping ketegangan antara identitas agama dan kebangsaan, Prof Leon juga mengangkat keberadaan lapisan identitas lokal. Menurutnya, identitas ini tidak jarang akhirnya mengalahkan identitas nasional yang dimiliki seseorang.
“Ada frasa umum yang kerap diucapkan orang-orang di Liverpool. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah orang Liverpool, bukan inggris,” paparnya.
Islamofobia yang Tersembunyi di Balik Sorak Sorai Stadion
Terkait islamophobia, Prof Leon memaparkan temuan risetnya terkait diskriminasi yang dialami penggemar muslim di stadion maupun media sosial. Menurut ceritanya, salah satu penggemar klub sepak bola di Inggris lebih memilih diam ketika mendengar ujaran rasis demi menjaga keselamatannya.
Prof Leon juga menegaskan bahwa islamophobia di stadion seringkali tidak terlihat terang-terangan, berbeda dengan apa yang terjadi di ruang digital. “Islamofobia biasanya lebih halus, tersembunyi, dan senyap. Itu sebabnya banyak orang yang tidak sadar apabila ujaran tersebut benar-benar terjadi di stadion,” ucapnya.
Salah satu contoh menarik yang disampaikan Prof Leon adalah terkait Mohamed Salah, seorang pemain Liverpool asal Mesir, yang justru mengubah suasana sebagian pendukung dengan nyanyian yang dilontarkan pendukung. Fenomena ini menjadi bukti bagaimana satu individu dapat menggeser persepsi publik terhadap Islam, mesk islamophobia sendiri tetap muncul di ruang daring.
“Mereka menyanyikan lagu tentang Mohamed Salah. Ini hal yang aneh karena pendukung sepak bola justru menyanyikan lirik tentang Allah di dalam stadion,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Prof Leon mengingatkan peserta bahwa riset terkait muslim dan sepak bola masih sangat minim pembahasannya. Topik ini juga banyak menyimpan lapisan sosial yang penting untuk terus dikaji, mulai dari identitas, kepemilikan, hingga relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan muslim di dunia sepak bola. Ia berharap, riset yang ditulisnya mampu mengisi kekosongan diskursus tersebut dan mendorong mahasiswa untuk terus menggali fenomena sepak bola melalui perspektif yang lebih kritis.
Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia





