Pandemi COVID-19 tidak hanya menyerang sistem pernapasan tetapi juga berdampak pada organ lain, termasuk jantung. Salah satu kondisi langka namun serius yang muncul adalah Spontaneous Coronary Artery Dissection (SCAD), yaitu robekan spontan pada dinding pembuluh darah koroner tanpa adanya trauma. Penyakit SCAD dapat menghambat aliran darah ke jantung dan berpotensi mengancam nyawa. Sebuah tinjauan sistematis terbaru mengungkapkan hubungan antara COVID-19 dan SCAD, memberikan wawasan penting bagi tenaga medis dalam mendiagnosis dan menangani kondisi ini.
Penyakit SCAD umumnya terjadi pada wanita muda tanpa faktor risiko penyakit jantung tradisional. Namun, pada pasien COVID-19, kondisi ini dapat dipicu oleh peradangan sistemik, kerusakan pembuluh darah, dan peningkatan risiko pembekuan darah akibat infeksi virus. Tinjauan ini menganalisis 12 laporan kasus SCAD pada pasien COVID-19, dengan mayoritas pasien berusia rata-rata 49 tahun dan 58,3% di antaranya adalah wanita. Gejala khas COVID-19 seperti demam dan sesak napas ditemukan pada 66,7% kasus, sementara SCAD sendiri sering muncul dengan nyeri dada dan peningkatan kadar troponin (83,3%), penanda kerusakan jantung.
Diagnosis SCAD memerlukan ketelitian karena gejalanya mirip dengan serangan jantung biasa. Pemeriksaan angiografi koroner menjadi andalan (91,7% kasus), dengan lokasi robekan paling sering terjadi di arteri Left Anterior Descending (LAD) (50%). Penanganan SCAD bervariasi tergantung kondisi pasien. Terapi konservatif, seperti pemberian obat pengencer darah dan beta-blocker, dipilih untuk kasus stabil. Sementara itu, intervensi seperti Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi. Kabar baiknya, tidak ada kasus kematian atau komplikasi serius setelah penanganan dalam tinjauan ini.
Temuan ini menegaskan bahwa SCAD adalah salah satu komplikasi kardiovaskular yang perlu diwaspadai pada pasien COVID-19, terutama wanita dengan riwayat kehamilan atau kondisi pascapersalinan. Pemahaman tentang gejala dan faktor risiko SCAD dapat membantu diagnosis dini dan penanganan tepat waktu. Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme pasti di balik hubungan COVID-19 dan SCAD, tinjauan ini menjadi langkah awal penting dalam meningkatkan kesadaran akan kondisi tersebut.
Dengan terus berkembangnya pemahaman tentang dampak COVID-19 pada tubuh, diharapkan tenaga medis dapat lebih siap menghadapi komplikasi tidak terduga seperti SCAD, sehingga pasien mendapatkan perawatan yang optimal dan peluang kesembuhan yang lebih besar.
Penulis : Dr. Andrianto, dr.,Sp.JP (K)., FIHA., FasCC.





