Strategi Fortifikasi Garam, Mahasiswa FKM UNAIR Raih Juara I IPHO

17 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) meraih Juara I Indonesian Public Health Olympiad (IPHO) pada (30/10/2026) dalam kompetisi yang diselenggarakan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI). Mereka mengusung Symphoni, rancangan program fortifikasi garam dengan zat besi sebagai alternatif strategi pencegahan anemia remaja di Kabupaten Bangkalan, Madura.

Tim tersebut terdiri atas Mohammad Ikhda Humal Khusna, Ballighannisa Aghnia Hidayah, dan Wiritanaya Bian Putri Atmaja di bawah bimbingan Dr Muthmainnah SKM MKes dan Damai Arum Pratiwi SKM MKM.

Ballighannisa menjelaskan, gagasan Symphoni berangkat dari persoalan konsumsi tablet tambah darah (TTD) pada remaja putri. Rasa amis, aroma yang kurang nyaman, dan efek mual menjadi beberapa kendala yang membuat konsumsi TTD belum optimal. Karena itu, tim berupaya mencari alternatif intervensi yang sesuai dengan potensi pangan lokal Bangkalan.

“Kami awalnya ingin mencari cara agar TTD bisa dikonsumsi secara rutin. Namun, setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing dan melihat kondisi di Bangkalan, kami mencoba mencari solusi melalui fortifikasi,” jelasnya.

Sebagai dasar analisis situasi, tim menggunakan dua tesis yang membahas anemia dan literasi gizi di Bangkalan. Temuan tersebut membantu mereka mengidentifikasi kesenjangan antara capaian konsumsi TTD dalam profil kesehatan dan kondisi yang tergambar dari penelitian lapangan. Hasil analisis itu kemudian menjadi dasar penyusunan rancangan program.

Setelah mempertimbangkan sejumlah alternatif pangan lokal, tim memilih garam karena Bangkalan merupakan salah satu wilayah penghasil komoditas tersebut. Mereka mengembangkan konsep Double Fortified Salt (DFS), yakni garam yang diperkaya zat besi selain kandungan yodium.

Ballighannisa menerangkan bahwa fortifikasi merupakan proses penambahan zat gizi untuk meningkatkan kandungan suatu bahan pangan. Dalam konsep DFS, zat besi dilindungi melalui proses enkapsulasi agar kandungannya tidak mudah rusak. 

Proses aglomerasi juga digunakan untuk menyesuaikan bentuk partikel fortifikan dengan garam. Ia menegaskan, “Kami tidak membuat produk garamnya secara langsung, tetapi menyusun pedoman pemberlakuan DFS di Kabupaten Bangkalan.” Dengan demikian, inovasi yang diusung tim berada pada tahap perencanaan program, bukan produksi garam fortifikasi.

Symphoni berfokus pada penyusunan pedoman implementasi. Mulai dari pemetaan pemangku kepentingan, perumusan kebijakan, hingga penelitian dan pengembangan formulasi. Tim turut mempertimbangkan keterlibatan perguruan tinggi dengan kompetensi teknologi pangan, farmasi, dan gizi untuk mendukung pengembangan teknis fortifikasi.

Dalam prosesnya, kedua dosen pembimbing berperan mengarahkan analisis masalah, pemilihan solusi, hingga penyusunan materi presentasi. Ke depan, tim berharap rancangan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui advokasi bersama pemangku kepentingan di Bangkalan maupun peluang hibah pengabdian kepada masyarakat UNAIR. Dengan demikian, Symphoni berpeluang dikembangkan dari perencanaan menjadi program kesehatan yang dapat diterapkan.

Penulis: Abraham Chrisanta Putra
Editor: Yulia Rohmawati

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top