Mikrobioma usus memainkan peran sentral dalam patogenesis dan progresi penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD), yang mencakup penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, melalui interaksi kompleks antara faktor genetik, imunologis, lingkungan, dan diet. Disbiosis berkontribusi terhadap gangguan barier epitel, peningkatan permeabilitas usus, dan aktivasi imun mukosa yang berkelanjutan. Perubahan komposisi mikrobiota ini menyebabkan penurunan produksi metabolit mikroba protektif, terutama asam lemak rantai pendek, yang berperan penting dalam menjaga homeostasis imun dan integritas mukosa. Dalam konteks ini, terapi nutrisi yang berorientasi pada modulasi mikrobioma semakin dipandang sebagai komponen fundamental dalam manajemen IBD, tidak hanya sebagai terapi pendukung, tetapi juga sebagai intervensi terapeutik yang berpotensi memengaruhi aktivitas penyakit secara langsung. Berbagai intervensi nutrisi berbasis bukti menunjukkan bahwa peningkatan asupan serat, prebiotik, dan makanan fermentasi dapat meningkatkan produksi butirat, asetat, dan propionat, yang berfungsi menekan jalur inflamasi, memperkuat tight junction epitel, serta mendorong diferensiasi sel T regulator. Selain itu, konsumsi asam lemak omega-3 dan senyawa polifenol berkontribusi pada modulasi respons imun dengan menurunkan produksi sitokin proinflamasi, menghambat aktivasi nuclear factor kappa B (NF-κB), dan mengurangi stres oksidatif di mukosa usus. Nutrisi enteral eksklusif, khususnya pada penyakit Crohn, menunjukkan efektivitas yang konsisten dalam induksi remisi, terutama pada populasi pediatrik, melalui mekanisme pengurangan paparan antigen diet, perubahan komposisi mikrobiota, serta supresi aktivasi sel imun efektor. Artikel ini juga menyoroti pentingnya identifikasi dan koreksi defisiensi mikronutrien—seperti vitamin D, zat besi, vitamin B12, seng, dan kalsium—yang sering terjadi akibat inflamasi kronik dan malabsorpsi, serta berperan dalam disfungsi imun, keterlambatan penyembuhan mukosa, dan peningkatan risiko komplikasi sistemik. Probiotik dan makanan fermentasi tertentu dapat mendukung pemulihan keseimbangan mikrobiota dan membantu mempertahankan remisi, khususnya pada kolitis ulseratif, meskipun efektivitas klinisnya sangat bergantung pada strain, dosis, dan durasi pemberian. Secara keseluruhan, pendekatan nutrisi berbasis mikrobioma menawarkan strategi yang menjanjikan untuk induksi dan pemeliharaan remisi IBD. Namun, heterogenitas respons pasien menegaskan perlunya nutrisi presisi yang mempertimbangkan fenotipe penyakit, profil mikrobioma, status nutrisi, dan konteks klinis individual. Integrasi terapi nutrisi berbasis mikrobioma ke dalam tata laksana multidisipliner IBD berpotensi meningkatkan luaran klinis jangka panjang dan kualitas hidup pasien, meskipun masih diperlukan uji klinis terkontrol berskala besar serta pengembangan panduan klinis yang lebih terstandardisasi dan aplikatif.
Penulis:
Dr. dr. Deasy Fetarayani, Sp.PD, K-AI, FINASIM
dr. Amie Vidyani, Sp.PD, K-GEH, FINASIM
dr. Henry Sutanto
Informasi lebih lengkap dari tinjauan pustaka ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://doi.org/10.1016/j.semerg.2025.102575
Gut microbiome-centric nutritional strategies in inflammatory bowel disease: Modulating dysbiosis for therapeutic benefit
Deasy Fetarayani, Amie Vidyani, and Henry Sutanto





