Fungi adalah pilar stabilitas ekosistem darat yang tidak dapat dinegosiasikan. Fungi berfungsi sebagai bio-katalisator utama dalam siklus nitrogen dan dekomposisi material organik kompleks, keberadaan fungi menentukan vektorisasi nutrisi dan resiliensi antropogenik tanah perkotaan. Namun, tekanan urbanisasi di Surabaya telah memicu degradasi habitat mikrobiologis melalui pemadatan mekanis dan polusi kimia, yang mengancam integritas fungsional tanah. Dalam kerangka strategis konservasi Surabaya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) harus dikelola bukan sekadar sebagai estetika visual, melainkan sebagai unit fungsional penyeimbang ekosistem. Laporan ini menyajikan audit mikrobiologis komparatif antara dua tipologi manajemen lahan: Lapangan Olahraga (monokultur rumput intensif) dan Lokasi Revegetasi Lama (vegetasi pohon asli >10 tahun). Analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak manajemen vegetasi terhadap kelimpahan dan komposisi taksonomi fungi guna merumuskan kebijakan pengelolaan RTH yang berbasis data ilmiah. Akurasi dalam laporan teknis ini dijamin melalui integrasi protokol morfologi dan molekuler tingkat tinggi.
Untuk memitigasi risiko identifikasi yang bias, audit ini menerapkan standar identifikasi ganda. Pendekatan morfologis (makroskopik/mikroskopik) memberikan profil awal mikroekologi, sementara analisis molekuler pada lokus Internal Transcribed Spacer (ITS) digunakan untuk mencapai resolusi spesies dengan tingkat kepercayaan absolut. Korelasi antara isolasi ini dan variabel fisikokimia di bawah ini memberikan dasar bagi evaluasi performa biologis tanah. Variabel fisikokimia bertindak sebagai pembatas ekofisiologis bagi perluasan miselium fungi. Penelitian ini mengungkapkan perbedaan termal yang drastis: suhu di Lapangan Olahraga mencapai 30-36°C, jauh melampaui Lokasi Revegetasi yang stabil di 26°C akibat perlindungan tajuk (shade cover). Meski fungi memiliki plastisitas termal hingga 35-45°C sebagai biokatalisator yang kuat, suhu di area revegetasi jauh lebih mendekati titik optimum (25-30°C) untuk pertumbuhan vegetatif yang berkelanjutan.
Analisis teknis menunjukkan bahwa Lapangan Olahraga memiliki struktur yang jauh lebih kompak dengan dominasi pasir halus dan lempung (69%). Kondisi ini secara strategis menguntungkan bagi retensi nutrisi dan air, menciptakan habitat mikrobial yang lebih stabil dibandingkan Lokasi Revegetasi yang memiliki proporsi kerikil tinggi (4,32%). Porositas besar pada area revegetasi memicu drainase cepat, yang secara ironis dapat membatasi ketersediaan sumber daya bagi fungi dekomposer, meskipun memiliki vegetasi pohon yang lebih beragam. Kepadatan koloni fungi merupakan indikator sensitif terhadap status karbon organik tanah. Data kuantitatif mengungkap disparitas yang signifikan antara kedua lokasi, yang mencerminkan dampak langsung dari manajemen permukaan tanah.
Uji statistik t-test mengonfirmasi bahwa H0 diterima; kelimpahan di Lapangan Olahraga secara signifikan lebih tinggi. Hal ini merupakan implikasi dari manajemen vegetasi: monokultur rumput di lapangan menyediakan input serasah yang konsisten dan mudah terurai. Sebaliknya, pada lokasi revegetasi, meskipun terdapat pohon besar seperti Ficus benjaminadan Albizia saman, praktik pembersihan serasah rutin telah memutus pasokan karbon organik, sehingga menekan populasi fungi hingga ke level kritis (0,96 log CFU/g). Ini menunjukkan bahwa manajemen “estetik” kota justru merusak fungsi biologis tanah.
Dominansi Filum Ascomycota di kedua lokasi menegaskan peran mereka sebagai penggerak utama siklus karbon perkotaan. Namun, komposisi spesies yang ditemukan membawa implikasi strategis yang berbeda. Penicillium yang ditemukan di kedua area memiliki kapasitas unik untuk mendegradasi zat xenobiotik seperti pestisida. Ini adalah aset vital bagi RTH Surabaya dalam menghadapi polusi urban. P. simplicissimum di area revegetasi sangat krusial; fungi ini memproduksi asam organik (oksalat/sitrat) yang meningkatkan ketersediaan Fosfor bagi tumbuhan. Penemuan Aspergillus parasiticus di area publik memerlukan pemantauan ketat. Sebagai produsen aflatoksin, keberadaannya di area aktivitas manusia (RTH) harus dikelola agar tidak mencapai ambang batas patogenik. Genus Culvularia pada (Sport Field) dan Paecilomyces pada (Revegetation) menunjukkan bahwa perbedaan mikrohabitat fisik menentukan spesiasi mikrobiologis.
Berdasarkan temuan di atas, manajemen RTH Surabaya memerlukan pergeseran paradigma dari pemeliharaan lanskap statis menuju manajemen ekosistem fungsional. Fungi tanah adalah bioindikator fundamental bagi stabilitas Surabaya. Kepadatan koloni yang tinggi pada area rumput dibandingkan area pohon yang dibersihkan membuktikan bahwa intervensi manusia seringkali kontraproduktif terhadap kesehatan mikrobiologis. Keberlanjutan ekosistem kota bergantung pada kemampuan kita menjaga kemitraan simbiotik antara vegetasi dan mikrobiota tanah.
Catatan:
Artikel ilmiah populer ini disarikan dari artikel yang dipublikasikan di Jurnal Internasional Q4:
Intan Ayu Pratiwi *, Devida Thalia Salsabella, Annisa Nur Fatimah, Anisa Selvia Widyar Iswara, Mochammad Aqilah Herdiansyah, Sucipto Hariyanto, Bambang Irawan, Thin Soedarti and Muhammad Hilman Fuadil Amin.
Molecular Evaluation of Soil Fungi in Sport Field and Old Revegetation Sites in Urban Green Spaces, Surabaya, Indonesia. Annals of Agri-Bio Research 30 (2): 74–84, 2025





