Universitas Airlangga Official Website

Studi Eksperimental Pencegahan Alternatif Preeklamsia dengan Pravastatin

Foto by Alodokter

Kurang lebih 2% -8% dari semua wanita hamil di seluruh dunia menderita preeklamsia. Enam hingga sepuluh persen kehamilan di Amerika Serikat disertai dengan preeklamsia dan angka cenderung lebih tinggi pada negara berkembang seperti Indonesia. Di Indonesia, preeklamsia menjadi penyumbang terbesar kedua kematian ibu setelah perdarahan dan menjadi beban perawatan kesehatan yang masif di Indonesia.

Preeklamsia adalah kondisi klinis khusus pada kehamilan yang dianggap sebagai penyakit multi-sistemik yang muncul setelah 20 minggu kehamilan. Preeklamsia ditandai dengan timbulnya hipertensi, proteinuria, komplikasi hematologi dan gangguan uteroplasenta. Etiologi utama yang bertanggung jawab pada timbulnya preeklamsia belum diketahui secara pasti, namun beberapa literatur menyebutkan bahwa preeklamsia timbul melalui gabungan beberapa jalur atau mekanisme, diantaranya kegagalan invasi trofoblas plasenta, ketidakseimbangan faktor angiogenik dan antiangiogenik, inflamasi, hingga stres oksidatif yang mengarah pada disfungsi endotel.

Stres oksidatif dianggap mempunyai peranan  yang penting dalam perkembangan preeklamsia. Stres oksidatif merupakan kondisi dimana terjadi ketidakseimbangan antara antioksidan endogen dan pembentukan radikal bebas. Stres oksidatif dapat dinilai dengan mengukur kadar Malondialdehida (MDA), produk akhir lipid peroksida. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kadar MDA pada ibu hamil dengan preeklamsia lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil normal. Dampak dari stres oksidatif yang dipicu oleh kegagalan invasi trofoblas plasenta menyebabkan dirilisnya anti angiogenik kemudian berlanjut menyebabkan terjadinya peningkatan agen vasokontriksor seperti Endotelin-1 (ET-1). ET-1 merupakan vasokontriksor kuat yang menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah maternal dan menimbulkan keluhan peningkatan tekanan darah pada wanita hamil dengan preeklamsia.

Strategi pencegahan dan terapi untuk preeklamsia masih sangat terbatas dikarenakan penyebab dan perjalanan penyakit yang belum jelas hingga saat ini. Penggunaan suplemen dan obat-obatan sebagai bentuk pencegahan dan terapi preeklamsia telah dilakukan, namun dengan keberhasilan yang terbatas. Penggunaan terapi saat ini seperti MgSO4 diketahui sebagai pencegahan kejang pada preeklamsia namun tidak memberikan efek terapeutik yang berarti pada jalur spesifik yang terlibat dalam patogenesis preeklamsia.

Pravastatin, salah satu turunan dari statin, diketahui mempunyai beberapa efek pleitropik seperti menurunkan disfungsi endotel, anti inflamasi, antioksidan, proangiogenik. Pravastatin dianggap mempunyai efek antioksidan dan proangiogenik yang dapat memperbaiki stres oksidatif dan disfungsi endotel yang terjadi pada preeklamsia. Untuk membuktikan asumsi ini maka dilakukan riset untuk mengetahui efek pravastatin pada jalur stres oksidatif dan vasokontriksor melalui pengukuran biomarker MDA dan ET-1 pada tikus model preeklamsia. Induksi preeklamsia pada hewan coba menggunakan L-NAME sehingga didapatkan karakterikstik menyerupai kondisi preeklamsia pada wanita hamil.

Penulis : Andriyanti, Restiningsih, Bambang Rahardjo, Mokhamad Nooryanto, Sri Winarsih, Nur Permatasari, Anin Indriani.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://medic.upm.edu.my/jurnal_kami/volume_19_2023/mjmhs_vol19_no1_january_2023-70882 Andriyanti, Restiningsih, Bambang Rahardjo, Mukhamad Nooryanto, Sri Winarsih, Nur Permatasari, and Anin Indriani. 2023. Effect of Pravastatin on Levels of Malondealdehyde (MDA) And Endothelin-1 (ET-1) Preeclampsia Model Rats. Malaysian Journal of Medicine and Health Science, 19 (1): 89–95. https://doi.org/10.47836/mjmhs.19.1.13.