Peranan obat herbal pada penderita dengan penyakit kronis adalah sebagai obat tambahan. Beberapa masalah yang dapat terjadi, antara lain harga obat yang mahal dan efek samping yang ditimbulkan, mengingat pengobatan penyakit kronis berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Obat–obatan herbal menjadi jawaban atas permasalahan tersebut karena memiliki harga yang murah dan efek samping yang lebih ringan. Masyarakat seringkali memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam sebagai obat tradisional.
Cacing tanah sebagai obat tradisional telah digunakan oleh masyarakat Cina sejak ribuan tahun yang lalu. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah. Tanah kompos menjadi komposisi utama dalam pemeliharaan cacing tanah ini. Media yang dibutuhkan untuk pembiakan beraneka ragam, antara lain seperti tanah, kotoran sapi, batang pisang lapuk dan limbah organik.
Penelitian terkait farmakologis efek dari cacing tanah baru saja dilakukan beberapa dekade ini. Penelitian membuktikan bahwa beberapa jenis cacing tanah dapat digunakan sebagai sumber obat, termasuk sebagai obat pelengkap dalam mengatasi hiperglikemia. Hal tersebut telah dibuktikan oleh Ling dan Gurupuckiam (2017) bahwa cacing tanah memiliki kandungan zat aktif flavonoid, steroid, glikosidase dan terpenoid.
Zat-zat tersebut telah diiuji dan disimpulkan dapat menurunkan gula darah. Serbuk cacing tanah (SCT) memiliki mekanisme menghambat kinerja dari enzim α-amilase dan α-glukosidase. Enzim α-amilase berperan mengubah amilum menjadi glukosa, sedangkan α-glukosidase mengubah karbohidrat menjadi glukosa di saluran pencernaan.
Cacing tanah (Lumbricus rubellus) merupakan cacing yang paling luas persebarannya di dunia. Cacing ini rata-rata memiliki panjang 10 – 15 cm dengan cara reproduksi secara seksual yang menghasilkan 106 individu dalam perkembangbiakan skala labolatorium. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) berhabitat di zona peralihan antara perairan dan daratan yang memiliki kelembaban tanah yang tinggi. Kadar pH tanah yang ideal untuk pertumbuhan cacing tanah berkisar pada pH 3.0-7.7.
Pada cacing tanah terdapat bagian yang bernama kutikula, berupa sejenis kulit yang terletak di bagian luar lapisan kulit. Cacing tanah tidak memiliki alat gerak aktif seperti pada kebanyakan hewan, dan tidak mempunyai mata. Cacing bergerak dengan menggunakan otot-otot yang ada pada tubuhnya yang tebal dan melingkar tubuh cacing.
Seperti halnya belut, cacing juga menghasilkan lendir yang berguna untuk menjadikan tubuhnya licin sehingga mempermudah pergerakan sekaligus berperan dalam pertahanan dirinya. Lendir ini dihasilkan dari kelenjar epidermis pada lapisan kulit cacing. Seta merupakan salah satu organ yang terdapat pada cacing yang berfungsi sebagai alat perekat pada permukaan sebuah benda dan juga membantu cacing pada fase reproduksi.
Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) memiliki kandungan nutrisi yang bergizi tetapi yang paling utama pada kandungan proteinnya, yaitu mencapai 64 – 76%. Beberapa kandungan yang lain yang ada pada cacing tanah adalah lemak 7 – 10%, kalsium 0,55%, fosfor 1%, dan serat kasar 1,08%. Bahan enzim yang terdapat pada cacing tanah seperti peroxidase, katalase, selulose, dan lumbrokinase.
Lumbrokinase dari ekstrak Lumbricus rubellus diteliti dalam beberapa dekade terakhir. Lumbrokinase terdiri dari sekelompok enzim proteolitik bioaktif. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa lumbrokinase memiliki manfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidatif, anti-fibrotik, antimikroba dan efek anti kanker. Lumbrokinase dapat melarutkan bekuan fibrin dengan mengubah plasminogen menjadi plasmin. Lumbrokinase mudah diserap dalam sistem pencernaan di usus tanpa tanpa mengganggu proses metabolisme normal.
Hasil uji fitokimia dari oleh Ling dan Gurupackiam (2017) bahwa serbuk cacing tanah memiliki kandungan fenol, terpenoid, glikosida, dan flavonoid yang diketahui sebagai agen antidiabetik dan berdampak positif sebagain agen antidiabetik. Terpenoid dan flavonoid memiliki kemampuan dalam menghambat kerja enzim yang secara biokimia membantu dalam proses metabolisme gula. Terpenoid dan flavonoid berkerja menghambat enzim α-amilase dan α-glukosidase. Kedua enzim tersebut berperan dalam pembentukan gula di dalam tubuh.
Dalam sistem pencernaan manusia amilase diproduksi oleh mulut dan pankreas, α-amilase yang disebut enzim ptialin diproduksi oleh kelenjar ludah, sedangkan amilase pankreas disekresikan oleh pankreas ke dalam usus kecil. Enzim α-amilase bercampur dengan makanan di mulut untuk menghidrolisis zat pati (karbohidrat kompleks) menjadi maltosa (suatu molekul yang terdiri dari dua molekul glukosa).
Meskipun makanan berada di mulut hanya dalam waktu yang singkat, kerja α-amilase berlanjut hingga beberapa jam di lambung sampai makanan bercampur dengan sekret lambung. Enzim α-amilase optimum pada pH adalah 6,7–7,0, karena pH lambung asam sehingga dapat menonaktifkan α-amilase. Proses kerja α-amilase tergantung pada seberapa banyak asam di perut, seberapa cepat pengosongan lambung, dan seberapa menyeluruh makanan telah bercampur dengan asam.
Dalam kondisi optimal sebanyak 30% hingga 40% pati yang dicerna dapat dihidrolisis menjadi maltosa oleh α-amilase. Ketika makanan melewati usus kecil, sisa molekul pati dikatalisis menjadi maltosa oleh amilase pankreas. Proses pencernaan pati tersebut terjadi di duodenum, bagian usus halus yang memiliki pH optimum untuk α-amilase bekerja. Produk akhir dari hidrolisis amilase pada akhirnya dipecah oleh enzim lain menjadi molekul glukosa, yang dengan cepat diserap melalui dinding usus menggunakan glucose transporter 2 (GLUT).
Enzim α-amilase menghidrolisis karbohidrat rantai panjang, sedangkan α-glukosidase bekerja pada rantai karbohidrat yang lebih pendek dan disakarida untuk menghasilkan glukosa. Pada manusia enzim α-glukosidase terdapat pada usus kecil, enzim ini membantu pencernaan karbohidrat untuk menghasilkan glukosa yang selanjutnya akan diabsorbsi oleh usus, absorbsi tersebut mampu peningkatan kadar glukosa darah.
Produk hidrolisis dari α-amilase (maltosa) tidak dapat diserap langsung oleh usus, sehingga perlu dipecah menjadi gula atau monosakarida yang lebih sederhana misalnya, glukosa, galaktosa, dan fruktosa oleh enzim α-glukosidase. Menghambat fungsi enzim ini pada pasien dengan diabetes tipe-2 dapat mengurangi hiperglikemia.
Penulis : Muhammad Ilham Syamsuri, Rimbun, Nurina Hasanatuludhhiyah
Referensi : Syamsuri MI, Rimbun, Hasanatuludhhiyah N, 2023. The Efficacy And Benefits of Earthworm Extract as A Herbal Medicine: A Literature Review. International Journal of Research Publications, 137(1), 95-101. DOI: 10.47119/IJRP10013711120235675. https://ijrp.org/paper-detail/5654





