Universitas Airlangga Official Website

Studi Tentang Pengaruh Intervensi Gizi terhadap Profil Hematologi pada Kelompok Lansia di Panti Sosial

Sumber: Suara,com
Sumber: Suara,com

Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah peningkatan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, dan kanker. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan lansia adalah kecukupan gizi. Malnutrisi pada lansia seringkali diabaikan, meskipun dapat berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kronis. Oleh karena itu, intervensi gizi yang tepat menjadi kunci dalam memperbaiki status gizi dan kualitas hidup lansia.

Penelitian yang dilakukan di beberapa panti jompo di Yogyakarta pada tahun 2021 mencoba mengkaji pengaruh intervensi gizi terhadap profil hematologi pada lansia. Dalam penelitian ini, intervensi yang diberikan adalah tambahan sumber protein dan camilan yang dikonsumsi setiap hari oleh para peserta selama tiga bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah intervensi gizi dapat meningkatkan status gizi lansia, terutama melalui perubahan pada profil biokimia darah mereka.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain intervensi dengan pendekatan pre-post, yaitu mengukur kondisi sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok yang sama. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, melibatkan 86 peserta lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Para peserta diberikan sarapan, camilan pagi, dan makan siang dengan tambahan sumber protein dan camilan harian. Profil biokimia darah yang diuji mencakup kadar HbA1c, lipid, transferrin, kreatinin, dan tekanan darah.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan signifikan pada beberapa parameter biokimia darah setelah intervensi. Kadar transferrin menurun secara signifikan (p=0.040), sementara kadar kolesterol dan LDL (low-density lipoprotein) meningkat (p=0.000). Selain itu, kadar hemoglobin juga mengalami penurunan (p=0.005), dan kadar HDL (high-density lipoprotein) mengalami penurunan signifikan (p=0.033). Di sisi lain, kadar HbA1c meningkat (p=0.007), yang menunjukkan potensi peningkatan risiko diabetes pada kelompok lansia ini. Namun, kadar kreatinin tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan setelah intervensi.

Penurunan kadar hemoglobin dan transferrin yang terjadi setelah intervensi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penyakit yang diderita peserta, yang tidak dijadikan variabel kontrol dalam penelitian ini. Penurunan kadar hemoglobin juga bisa berkaitan dengan peradangan atau gangguan fungsi ginjal yang sering ditemui pada lansia.

Diskusi

Intervensi gizi yang diberikan dalam penelitian ini menunjukkan beberapa hasil yang berlawanan dengan harapan awal, seperti peningkatan kadar kolesterol, LDL, dan HbA1c, serta penurunan kadar HDL dan hemoglobin. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun ada intervensi gizi, faktor-faktor lain seperti penyakit penyerta (seperti diabetes dan hipertensi), keterbatasan aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak terkontrol dapat memengaruhi hasil penelitian.

Peningkatan kadar kolesterol dan LDL menjadi perhatian utama, karena keduanya merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung dan pembuluh darah. Penurunan kadar HDL juga meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama pada lansia yang memiliki kecenderungan untuk mengembangkan penyakit tersebut. Oleh karena itu, intervensi gizi untuk lansia sebaiknya tidak hanya fokus pada peningkatan konsumsi makanan, tetapi juga mempertimbangkan pengaturan pola makan yang sehat dan peningkatan aktivitas fisik untuk menjaga keseimbangan lipid darah.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi gizi yang diberikan dapat memengaruhi profil hematologi lansia, meskipun tidak selalu menghasilkan perubahan yang diinginkan. Kadar transferrin, kolesterol, LDL, HbA1c, dan HDL menunjukkan perubahan signifikan, namun beberapa di antaranya berisiko meningkatkan kondisi kesehatan lansia, seperti peningkatan kadar gula darah dan kolesterol. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang optimal, intervensi gizi pada lansia perlu dipadukan dengan pengaturan diet yang lebih spesifik dan peningkatan aktivitas fisik. Penelitian lebih lanjut dengan durasi yang lebih panjang dan kontrol terhadap variabel yang memengaruhi, seperti riwayat penyakit dan aktivitas fisik, diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari intervensi gizi pada lansia. Intervensi gizi pada lansia sangat penting untuk menjaga status gizi dan kualitas hidup mereka. Namun, pendekatan yang lebih holistik yang melibatkan kontrol diet, aktivitas fisik, dan perawatan medis diperlukan untuk mengoptimalkan hasil intervensi ini.

Penulis: Atika Anif Prameswari, S.Gz., M.P.H., Dietisien

Link: https://ijphs.iaescore.com/index.php/IJPHS/article/view/23290