Caption foto: 1. Ilustrasi cuaca panas ekstrem (foto: CNN Indonesia)

Suhu Panas Mengintai, Ini Tips Jaga Tubuh Tetap Fit di Luar Ruangan ala Pakar UNAIR

280 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Paparan gelombang panas yang melanda Kota Surabaya dan beberapa daerah di Indonesia menuntut masyarakat untuk berwaspada ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Risiko yang muncul akibat paparan panas berkepanjangan ini tidak hanya berupa dehidrasi dan kelelahan, tetapi juga membawa dampak kompleks terhadap kesehatan fisik secara umum.

Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Corie Indria Prasasti SKM MKes membagikan tips dan langkah preventif guna meminimalisir risiko kesehatan serta upaya penjagaan diri agar masyarakat tetap aman dan fit. Terlebih, saat menghadapi perubahan iklim tidak menentu di seluruh dunia. 

“Saat ini, kita tidak bisa lagi menghindari atau mengelak perubahan iklim dan cuaca. Kondisi sulit ini tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga dialami oleh seluruh belahan dunia,” ujarnya.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Corie Indria Prasasti SKM MKes (foto: wanaloka.com)
Dampak Suhu Ekstrem Mulai Dari Dehidrasi hingga Polusi Udara

Dehidrasi menjadi dampak paling cepat yang dirasakan akibat suhu ekstrem berkepanjangan. Dr Corie menyebut tubuh manusia terdiri dari 90 persen cairan, apabila cairan tubuh menurun secara drastis, fungsi organ secara keseluruhan akan terganggu. 

Selain dehidrasi, pencemaran udara menjadi imbas yang juga tidak terhindarkan. Cuaca panas ekstrem menyebabkan berbagai material pencemar seperti partikulat dan gas di udara sulit terurai ke atmosfer atas. 

“Ketika pencemaran fisik dan kimia berupa partikulat gas muncul, sasarannya adalah organ pernapasan. Maka jangan heran jika kasus ISPA, batuk pilek, asma, dan alergi mulai muncul di mana-mana,” jelasnya. 

Di sisi lain, suhu tinggi juga memicu heat stress yang berdampak terhadap tekanan darah, seperti hipertensi dan gangguan jantung. Lebih jauh, paparan panas juga menyerang mukosa tubuh, salah satunya dapat membuat mata terasa kering, merah, dan perih. 

Langkah Preventif dan Penggunaan APD Mandiri

Risiko kesehatan yang muncul akibat paparan suhu tinggi dapat menyasar seluruh kelompok masyarakat. Namun, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penderita penyakit bawaan, serta ibu hamil merasakan dampak cuaca panas yang jauh lebih berat. Sehingga, upaya pencegahan secara mandiri maupun bersama menjadi kunci penting guna menekan dampak cuaca panas ekstrem. 

Alat Perlindungan Diri (APD) sederhana, seperti menggunakan topi atau payung saat beraktivitas di luar ruangan, mengenakan pakaian berbahan longgar dan menyerap keringat, menggunakan sarung tangan saat berkendara, hingga memastikan akses air minum senantiasa dekat dengan individu menjadi langkah efektif menjaga tubuh tetap aman dari paparan panas. 

Selain perlindungan fisik, Dr Corie turut mengingatkan masyarakat untuk peka terhadap sinyal tubuh. Ketika tubuh mulai menunjukkan sinyal kelelahan, lemas, atau sesak napas, ia menyarankan masyarakat untuk segera beristirahat dan tidak memaksakan diri menyambung aktivitas. “Kondisi seperti ini menuntut kita untuk lebih peduli pada diri sendiri. Begitu merasa capek, langsung istirahat. Jaga pola makan dan istirahat agar imun tubuh tetap terjaga,” pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri I. 

Editor: Yulia Rohmawati 

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top