Ibu Pertiwi dan Aku Lahir Tepat di 2030 (Part I)

Untunglah kandungannya kuat, dan si bayi dalam kandungan itu di nyatakan baik-baik saja. Barukarena kejadian itulah ia mau diajak ke dokter. Bersama suaminya, ia pergi ke dokter kandungan di daerahnya.
Melirik Kembali Tengah Malam

Lama, tak kujumpa tanganku mengenggam malam
Berbeda dengan dulu, saat diksi dan retorika menjamu dipelataran kampusku
Kerap kuhabiskan waktu ini dengan mereka yang berjuang dalam bendera yang sama.
Semenjak langkahku memungkasi studi strata satuku, dan kesibukan nan sontak berubah
diri ini sejenak melupakan lagu-lagu malam yang terkadang menyilaukan,
Namun, kadang akun merindu dengan waktu itu, waktu dimana jalanan seakan penuh persahabatan, saat dekap hangat kota ini mulai menyerang.
Mendung Bernaung di Jayakarta

Mendung telah merundung
Di langit Jayakarta akhir bulan itu.
Sajak di Batavia

Batavia,
Kini engkau telah menjelma..
Lautmu yang tak lagi sendu
Dan daratanmu yang menjulang menepis asa yang kian tak terhalang
Bait Kecil Kerinduan

Tuhan,
Bagaimana aku bisa mengatakan cinta kepada-Mu
jika malam-malamku berlalu tanpa sujud
dan pagiku menyapa tanpa zdikir,
pantaslah jika terasa siang dihidupku tersibukkan dalam kesia-sian.
Untukmu A

Entah kenapa, jiwa yang lemah ini selalu merindumu, tak pelak. Engkau yang mencipta dan engkau sang pembawa risalah serta engkau yang masih dalam harap.
A.
Aku hanya ingin berusaha meraih kesempurnaan cinta.
yang Engkau tanamkan, dalam lubukku, dalam relung yang Engkau katakan sebuah nikmat ini.
Menyeka Keringat Perjuangan

Dalam berjuang
Haruslah dibarengi dengan ketukan,
Bukan masalah pandai atau cerdas
Tapi,
Berjuang itu terletak pada kesungguhan dan keistiqomahan
Rasaku

Ada rasa yang tengah memuncak
Bergejolak, mengelak, dan seakan tak bisa ditebak
Bukan,
Bukan karena aku tak bisa
Mak Surati (Bagian II)

cerita Malin Kundang itu memang kisah yang relevansinya masih bisa dikais. Narasi gubuk Desa, kehidupan orang tua. Dan dambaan kemewahan dalam pikiran si anak. Serta keacuhan seorang anak untuk sadar pada kondisi yang ada. Di bumbui dengan begitu materialistiknya dunia luar.
Lelahku di Depan Layar

Ini seperti gubahan
tentang sebuah nota yang pernah kucerna
aku masih ingat
saat tangis langit hinggap
menyeka peluhku yang masih tabu untuk mendesah pilu
Mak Surati (Bagian I)

Semua harap-harap cemas tanpa siap apa yang akan terjadi. Mak Surati hanya seorang berpendidikan SD nggak tamat. Sedangkan kontaminasi masa mewabahkan prilaku tak terkendali kepada tole Bagus, anak semata wayangnya.
Ambang

Sepertinya semua hanya lintas melayang
Mengerti akan tiada yang abadi
