Tahukah anda bahwa level enzim adenosine deaminase (ADA) dapat digunakan sebagai pembeda pada penderita tuberkulosis atau bukan? Jika anda tidak mengetahui maka anda selayaknya membaca artikel yang telah ditulis oleh Bahi dkk pada tahun 2023. Disebutkan bahwa penyakit tuberculosis (Tb) masih menjadi perhatian bagi fasilitas kesehatan karena menurut organisasi kesehatan dunia internasional sekitar sepertiga populasi di dunia sudah terinfeksi oleh Tb dengan Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah India dan China. Berdasarkan laporan internasional pada tahun 2018 terdapat 9.011.100 juta orang di dunia terinfeksi Tb. Prevalensi Tb di Indonesia sebesar 316 yang berarti dari 100.000 populasi terdapat 316 orang yang terinfeksi Tb atau terdapat 845 ribu kasus. Kematian Tb tanpa HIV dihitung 35 orang dari 100.000 populasi yang mengindikasikan bahwa Tb masih menjadi masalah di Indonesia. Provinsi Jawa Timur menempati urutan ketiga setelah Jawab Barat dan Jawa Tengah akan kasus Tb di Indonesia.
Berbagai cara dilakukan untuk mendeteksi dini penyakit Tb, yaitu dengan menggunakan mikroskopi konvensional dengan menggunakan pengecatan ziehl-neelsen (ZN) yang bersifat cepat untuk mendeteksi keasaman pada bakteri bacillus. Prosedur penegakan diagnosis standar Tb dengan melakukan kultur bakteri namun kelemahan dari prosedur ini adalah terlalu banyak membuang waktu, sehingga perlu dicari metode yang dapat membantu mendiagnosis pada individu yang dicurigai terinfeksi oleh Tb. Salah satu cara mendeteksi dengan menggunakan enzim adenosine deaminase (ADA) dan assay interferon gamma (IFN-γ). ADA merupakan sebuah enzim yang mengkatalisis adenosine dan deoxyadenosine menjadi inosin dan deoxy-inosin yang berperan utama pada proliferasi dan diferensiasi limfosit, khususnya limfosit T. ADA akan meningkat pada berbagai macam penyajkut karena adanya peningkatan imunitas seluler sehingga ADA merupakan salah satu indicator aktivitas imunitas seluler. Level ADA akan meningkatn karena infeksi oleh bakteri Tb dapat meningkatan jumlah produksi ADA pada daerah infeksi yang disebabkan oleh stimulasi limfosit T oleh antigen mikroba. Penggunaan ADA dapat digabungkan dengan tes IGRA yang merupakan tes spesifik dan sensitive untuk proses skrining Tb yang bekerja dengan mengukur respon imunitas seluler atau sel T sebagai respon terhadap infeksi Tb.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dimuat di jurnal internasional terindeks scopus. Pada jurnal ini, disebutkan bahwa ADA dan IGRA dapat digunakan sebagai alat diagnosis untuk proses skrining penderita Tb karena level ADA lebih tinggi pada orang yang dicurigai terinfeksi Tb dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi Tb. Namun, tentunya penemuan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menginterpretasi level ADA dan IGRA pada kasus Tb dengan dibandingkan dengan gejala dan radiologi pada kasus Tb
Penulis: Prof. Dr. Theresia Indah Budhy, drg., M.Kes., Sp.PMMF(K)
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2023030715554221-0901.pdf
Stevani Florentia Bahi, Theresia Indah Budhy, Ahmad Hidayat, Arabella Vonia Sari, Bernadeth Vindi Januarisca, Mariana Asmaningdiah, Zulfikran Moh Rizki Azis, Evy Diah Woelansari, Suhariyadi Suhariyadi. [2023] Adenosine Deaminase (ADA) Levels in Suspected
Tuberculosis Patients with Results of Interferon-Gamma Results Release Assay (IGRA) Positive and Negative. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Vol. 19(3), pp: 101-105





