Penuaan menyebabkan kemunduran organ gerak, seperti tulang, sendi, otot, dan saraf, dan menyebabkan sindrom lokomotif. Sindrom lokomotif (SL) ditandai dengan kesulitan berjalan kesulitan berjalan yang membatasi aktivitas sehari-hari (ADL) dan mengurangi kualitas hidup, terutama pada populasi lanjut usia. Munculnya kesulitan berjalan sangat penting sebagai indikator kesehatan, fungsi, dan penyakit pada lanjut usia. Prevalensi SL meningkat secara signifikan meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia, dengan 36,4% orang lanjut usia di Jepang menderita penyakit ini. Karena karena kurangnya kesadaran akan lokomotif, tidak ada data mengenai prevalensi penyakit ini di Indonesia atau negara ASEAN lainnya.
Latihan fisik dapat meningkatkan fungsi fisik dan mempertahankan kemandirian lanjut usia. Latihan multikomponen yang meliputi kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan dan aerobik direkomendasikan bagi populasi lanjut usia untuk meningkatkan kekuatan otot, kecepatan berjalan, keseimbangan, dan kinerja fisik. Sebagian besar panti jompo di Indonesia, karena kurangnya dana dan sumber daya sumber daya, hanya memberikan latihan aerobik ringan dengan intensitas ringan sampai sedang berdurasi pendek sebagai olahraga teratur untuk mempertahankan fungsi fisik penghuninya. Lansia dengan SL membutuhkan latihan yang aman, sederhana, dan efektif untuk mempertahankan fungsi fisiknya. Locomotion Training (locotra) merupakan gabungan latihan penguatan dan keseimbangan yang terbukti aman, sederhana, efektif dalam meningkatkan fungsi fisik lansia. Latihan ini terdiri dari 4 macam latihan, yaitu latihan one leg stand, squat, heel raise dan front lunge.
Penurunan Kecepatan Berjalan berkorelasi dengan penurunan kemampuan fungsional, keseimbangan, dan jatuh. Pengukuran kecepatan berjalan adalah pengukuran fisik yang cocok untuk diimplementasikan sebagai evaluasi klinis pada populasi lanjut usia karena cepat, murah, dan dapat diandalkan dalam mengukur fungsi fisik. Two step test (TST) dapat digunakan untuk menyaring kemampuan berjalan pasien dengan sindrom lokomotif. TST dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan berjalan kemampuan berjalan, kekuatan otot, kemampuan keseimbangan, dan fleksibilitas tungkai bawah dan berguna untuk memprediksi kemampuan berjalan. Penilaian TST berkorelasi tinggi dengan tes berjalan 10 meter (10MWT), tes berjalan 6 menit, dan tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari pada populasi lanjut usia.
Berangkat dari hal tersebut Michael Prayogo, Rwahita Satyawati, Dyah Intania Sari, Damayanti Tinduh, Sri Mardjiati Mei Wulan, Yukio Mikami, Soenarnatalina Melaniani melakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis potensi tambahan Locomotion Training pada peningkatan kecepatan jalan dan Panjang langkah pada lanjut usia penderita sindroma lokomotif stadium 1 di panti wreda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental melalui uji klinis pada lanjut usia penderita sindroma lokomotif dengan pendekatan “pre-post test control group design”. Dua puluh empat lanjut usia penderita sindroma lokomotif stadium 1 berusia 60-80 tahun, yang tinggal di panti Wreda Jambangan Surabaya, direkrut dan diacak ke dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Kedua kelompok diberikan latihan aerobik dengan intensitas ringan-sedang selama 30 menit per sesi, 7 sesi per minggu. Kelompok perlakuan mendapatkan tambahan locotra 3 kali per minggu, 3 set per sesi yang ditingkatkan bertahap sampai 5 set per sesi sesuai toleransi subjek penelitian. Kedua kelompok mendapatkan intervensi selama selama 8 minggu. Pengukuran yang dilakukan adalah penilaian kecepatan berjalan dan panjang langkah yang dilakukan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok. Salah satu simpulan penting yang didapatkan pada penelitian ini adalah kombinasi locotra dan latihan aerobik dapat memberikan peningkatan kecepatan berjalan dan panjang langkah yang lebih baik dibandingkan pemberian latihan aerobik saja. Locotra dapat dijadikan tambahan latihan fisik rutin untuk lanjut usia dengan sindroma lokomotif stadium 1 di panti wreda.
Penulis: Michael Prayogo, Rwahita Satyawati, Dyah Intania Sari, Damayanti Tinduh, Sri Mardjiati Mei Wulan, Yukio Mikami, Soenarnatalina Melaniani
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di Bali Medical Journal
Berikut judul dan link artikel:
Judul : Locomotion training addition to regular aerobic exercise improves walking speed and two-step test of the institutionalized older adult with Locomotive Syndrome stage 1: a randomized controlled trial
Link : https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4085





