Odontogenic myxoma (OM) merupakan tumor jinak pada rahang yang jarang ditemukan dan sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Hal ini membuat OM berisiko tidak terdeteksi atau keliru didiagnosis, terutama jika pemeriksaan radiografis tidak dilakukan secara menyeluruh. Pada beberapa kasus, perubahan yang tampak pada radiograf dapat menyerupai lesi odontogenik lainnya, sehingga diperlukan ketelitian dan pengetahuan mendalam untuk membedakannya.
Kasus ini terjadi pada seorang perempuan berusia 23 tahun yang awalnya datang untuk perawatan ortodonti tanpa pemeriksaan radiograf awal. Setelah dilakukan pencabutan gigi molar bawah, pembesaran pada area gusi kanan bawah terus berkembang hingga menyebabkan asimetri wajah. Pemeriksaan panoramik menunjukkan adanya radiolusen multilokular dengan sekat radiopak yang mengarah pada karakteristik lesi agresif. Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan lanjutan menggunakan cone-beam computed tomography (CBCT) dilakukan dan dibandingkan dengan hasil histopatologi.
Dari kasus ini, dapat disimpulkan bahwa odontogenic myxoma memiliki variasi gambaran radiologis yang luas sehingga dapat menyerupai berbagai tumor jinak maupun ganas pada rahang. CBCT berperan penting untuk memperjelas batas lesi, pola internal, dan hubungannya dengan struktur sekitar, sehingga membantu penegakan diagnosis yang lebih akurat serta perencanaan perawatan yang tepat. Oleh karena itu, pemeriksaan radiografi yang komprehensif dan interpretasi oleh tenaga ahli yang terlatih sangat diperlukan dalam mencegah kesalahan diagnosis dan penanganan yang terlambat.
Oleh: Aga Satria Nurrachman
Departemen Radiologi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga





