Di tengah kebutuhan untuk memahami lebih dalam tentang perubahan pola hidup manusia dari masa ke masa, gigi menjadi salah satu artefak biologis yang paling informatif dan tahan terhadap kerusakan waktu. Namun, hingga kini masih terbatas metode objektif dan terukur untuk membedakan tingkat keausan gigi antara manusia prasejarah dan modern secara presisi. Keausan gigi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola makan, cara pengolahan makanan, serta kebiasaan budaya seperti mengunyah sirih, namun studi sebelumnya banyak mengandalkan observasi visual yang bersifat kualitatif. Masalah inilah yang mendorong dilakukan penelitian “Digital Forensic Analysis of Tooth Wear in Prehistoric and Modern Humans”, yang memanfaatkan pendekatan forensik digital berbasis citra 3D untuk mengidentifikasi perbedaan keausan permukaan gigi molar secara kuantitatif dan sistematis.
Tim peneliti dari Universitas Airlangga bekerja sama dengan Kalasalingam Academy of Research and Education (India) dan South Ural State University (Rusia) menganalisis 12 spesimen gigi—6 dari manusia prasejarah yang berasal dari situs Liang Bua dan Sumba di Nusa Tenggara Timur, dan 6 dari manusia modern yang hidup di era Majapahit hingga abad ke-21 di Jawa Timur. Penelitian ini memanfaatkan kamera smartphone resolusi tinggi dan perangkat lunak Fiji (ImageJ) untuk melakukan simulasi permukaan gigi dalam bentuk tiga dimensi.
Dengan analisis permukaan 3D, tim menghitung parameter kekasaran seperti Arithmetic Average Roughness (Ra), Root Mean Square (Rq), dan Total Height Roughness (Rt). Hasilnya menunjukkan bahwa gigi manusia prasejarah cenderung lebih aus dan datar dibandingkan dengan manusia modern. Rata-rata nilai kekasaran total pada gigi prasejarah lebih rendah, yang menunjukkan tingginya gesekan akibat makanan keras atau tidak diolah, serta kemungkinan pengaruh pasir atau bahan abrasif lain yang tercampur dalam makanan.
“Teknologi forensik digital ini memungkinkan kami mengevaluasi aspek-aspek kecil namun signifikan yang tidak kasat mata dengan metode konvensional,” jelas Dr. Imam Yuadi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. “Temuan ini juga membantu kami memahami perubahan gaya hidup dan pola makan dari masa berburu dan meramu menuju pertanian.”
Para peneliti juga mencatat bahwa diet manusia prasejarah terdiri dari daging buruan, moluska, serta tanaman yang sebagian besar dikonsumsi tanpa pengolahan intensif. Hal ini berbanding terbalik dengan manusia modern yang memiliki akses terhadap makanan lunak dan teknologi pengolahan yang canggih. Perbedaan ini menjadi salah satu faktor utama perbedaan keausan gigi antarperiode. Penelitian ini tidak hanya memperkaya ilmu paleoantropologi dan arkeologi, tetapi juga membuka cakrawala baru dalam penerapan analisis forensik digital untuk studi biologi masa lalu, terutama dalam merekonstruksi pola makan dan gaya hidup dari sisa-sisa manusia purba.
Penulis: Imam Yuadi, S.Sos., M.MT., Ph.D.
Untuk lebih lengkapnya, artikel ini bisa dibaca dan diakses di:





