Universitas Airlangga Official Website

Terapi Bronkodilator untuk Pasien COPD dengan Eksaserbasi Akut

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD) merupakan salah satu persoalan kesehatan yang umum terjadi (Soriano et al., 2017; GOLD, 2020). Meskipun demikian, PPOK tergolong sebagai penyakit yang preventable dan treatable. Penyakit ini memiliki gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara yang disebabkan oleh kelainan jalan napas dan atau alveolar. PPOK biasanya disebabkan oleh kontak yang terus-menerus dengan gas atau partikel berbahaya, dan dipengaruhi oleh kondisi inang seperti paru-paru yang abnormal. Kormobiditasnya yang signfikan berdampak pada mortalitas dan morbidalitas (GOLD, 2020) dan terjadi secara global (Soriano et al., 2017; Adeloye et al., 2022). Pasien PPOK biasanya mengeluhkan gejala dispnea, mengi, dada sesak, lelah, keterbatasan aktivitas, batuk dengan atau tanpa sputum, dan mungkin mengalami kejadian akut eksaserbasi. PPOK kategori berat menyebabkan berat badan turun, hilangnya massa otot, dan anoreksia (GOLD, 2022).

PPOK umumnya banyak diderita oleh laki-laki paruh baya (Lee dan Rhee, 2021). Prevalensi PPOK meningkat seiring bertambahnya usia (Lee dan Rhee, 2021; Adeloye et al., 2022). Data global menunjukkan prevalensi penderita pria lebih tinggi dibanding Perempuan (Adeloye et al., 2022). Gejala PPOK umumnya muncul pada pengidap dengan usia 35 – 40 tahun (yankes.kemkes.go.id diakses pada 16 November 2023).

Eksaserbasi akut PPOK merupakan kondisi memburuknya gejala pernapasan akut yang ditandai dengan melebihi perubahan awal pada dispnea, batuk, atau dahak yang menghasilkan terapi tambahan (Criner et al., 2015). Kombinasi bronkodilator Long-Acting β2-Agonis (LABA) dan Long-Acting Muscarinic Antagonist (LAMA) direkomendasikan untuk PPOK sebagai terapi pemeliharaan untuk mencegah eksaserbasi akut pada pasien PPOK (Aaron et al., 2007; EMAS, 2020).

Pemilihan pola terapi bronkodilator perlu untuk peningkatan pelayanan farmasi. Penelitian dengan judul “Therapy Pattern of Bronchodilators in Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) Patients with Acute Exacerbations” mengkaji pola peresepan bronkodilator dan penggunaan berbagai jenis bronkodilator untuk pasien PPOK dengan eksaserbasi akut. Data Penelitian diperoleh dari RS. Universitas Airlangga. Objek peneltian adalah Pasien COPD dengan eksaserbasi akut rawat inap di bulan Januari‒Desember 2019 berjenis kelamin laki-laki, berusia di atas 40 tahun, dan mendapat terapi bronkodilator minimal satu hari.

Dari hasil penelitian, 45% Pasien merupakan perokok aktif, dan 54,17% adalah mantan perokok. Penyakit penyerta (comorbid) diantara pasien yang berkaitan dengan penyakit pernafasan antara lain post-tuberculosis 5,88% dan pneumonia 39% diantara 48 pasien yang diteliti.

Bronkodilator adalah terapi obat utama yang direkomendasikan untuk gangguan saluran nafas, termasuk PPOK (Cazzola et al., 2012). Pola bronkodilator Pasien rawat inap PPOK di RS. Universitas Airlangga sebesar 63,64% menggunakan kombinasi ipratropium bromide/salbutamol sulfate 0.5 mg/2.5 mg melalui inhalasi. Bronkodilator inhalasi tunggal yang diresepkan adalah procaterol HCl dan salbutamol sulfate masing-masing sebanyak 26,45% dan 9,92%. Untuk pasien non rawat inap, bronkodilator yang paling banyak digunakan adalah salbutamol 2-4 mg sebagai terapi tunggal, yang diresepkan pada 87,50%. Kombinasi long-acting β2 agonists (LABA) dan Inhaled corticosteroids (ICS) yaitu salmeterol/fluticasone propionate dan budesonide/formoterol diresepkan sebesar 4,17%.

Kombinasi LABA dan ICS untuk Pasien dengan riwayat PPOK degan eksaserbasi akut yang dilakukan untuk mencegah eksaserbasi lebih lanjut, telah sesuai dengan pedoman Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD, 2020). Satu minggu setelah keluar rumah sakit, Pasien diresepkan kombinasi LABA dengan/tanpa long-acting muscarinic antagonist (LAMA). Selain itu, bisa menggunakan LABA dan ICS untuk mencegah eksaserbasi akut dan sesuai dengan pedoman GOLD (2020). Rute inhalasi merupakan rute pemberian yang paling banyak digunakan dalam penatalaksanaan PPOK, memungkinkan penyampaian obat ke organ target secara maksimal sekaligus meminimalkan risiko efek samping sistemik (Barnes, 2013).

Penulis: Dr. Samirah, Sp.FRS., Apt.

Sumber: Samirah, S.; Aryani, T.; Puspitasari, A. D.; Ibrahim, M. A.; Lutfiyah, B. I.; Rosyid, A. N. Therapy Pattern of Bronchodilators in Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) Patients with Acute Exacerbations. Pharmacy Education 2023, 23 (4), 224–227. https://doi.org/10.46542/pe.2023.234.224227