
Infeksi bakteri hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Kondisi ini semakin kompleks dengan meningkatnya resistensi mikroba terhadap antibiotik akibat kemampuan adaptasi bakteri yang sangat cepat. Penggunaan antimikroba dalam jumlah besar, baik di fasilitas kesehatan maupun masyarakat, turut mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan konvensional. Oleh karena itu, diperlukan inovasi terapi alternatif yang efektif, aman, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik.
Salah satu bakteri patogen yang sering menyebabkan infeksi pada manusia adalah Staphylococcus aureus. Hampir setiap orang pernah mengalami infeksi yang berkaitan dengan bakteri ini, dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari infeksi kulit ringan hingga kondisi serius yang mengancam jiwa seperti kegagalan multi organ. Bakteri gram positif ini memiliki kemampuan berkoloni yang tinggi sehingga berperan besar dalam penyebaran infeksi. Selain infeksi kulit, bakteri ini juga menjadi penyebab pneumonia, infeksi saluran pernapasan, gangguan kardiovaskular, hingga bakteremia nosokomial di rumah sakit.
Selain itu, Pseudomonas aeruginosa juga menjadi ancaman serius, terutama pada pasien dengan sistem imun lemah seperti penderita kanker, luka bakar, atau fibrosis kistik. Tingkat fatalitas infeksi bakteri ini bahkan dapat mencapai 50% pada kelompok rentan. Bakteri gram negatif berbentuk batang ini mudah berkembang di lingkungan lembap, termasuk fasilitas kesehatan, karena kebutuhan nutrisinya yang sederhana. Infeksi yang ditimbulkan meliputi pneumonia, infeksi paru kronis, infeksi luka operasi, infeksi saluran kemih, hingga bakteremia pada pasien luka bakar. Penanganan infeksi bakteri ini umumnya menggunakan antibiotik, namun kemampuan genetiknya untuk beradaptasi menyebabkan resistensi menjadi tantangan besar dalam terapi.
Menjawab tantangan tersebut, penelitian terbaru mengembangkan pendekatan inovatif berupa terapi fotodinamik menggunakan laser dioda biru dengan panjang gelombang 405 nm yang dikombinasikan dengan fotosensitizer berupa nanopartikel emas (AuNPs). Nanopartikel ini diproduksi melalui metode ablasi laser, sehingga memiliki kemurnian tinggi tanpa bahan kimia tambahan. Prinsip terapi fotodinamik adalah memanfaatkan energi cahaya untuk mengaktivasi fotosensitizer sehingga menghasilkan spesies oksigen reaktif yang mampu merusak struktur sel bakteri dan menyebabkan kematian mikroorganisme.
Penelitian dilakukan dengan variasi konsentrasi AuNPs sebesar 10,0 μg/mL, 15,0 μg/mL, dan 21,5 μg/mL. Pengamatan efektivitas penurunan jumlah bakteri dilakukan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) dalam satuan CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan AuNPs dengan konsentrasi 21,5 μg/mL sebanyak 50 μL memberikan hasil paling optimal dalam menurunkan koloni bakteri. Penurunan koloni Staphylococcus aureus terbaik terjadi pada paparan laser selama 150 detik dengan energi 2,87 J/cm², yaitu mencapai 80%. Sementara itu, penurunan koloni Pseudomonas aeruginosa paling efektif pada paparan 180 detik dengan energi 3,44 J/cm² dengan persentase penurunan sebesar 79%.
Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi teknologi laser dan nanoteknologi memiliki potensi besar sebagai terapi alternatif antimikroba di masa depan. Pendekatan ini tidak hanya efektif dalam mereduksi jumlah bakteri, tetapi juga berpotensi menekan risiko resistensi karena mekanisme kerjanya berbeda dengan antibiotik konvensional. Dengan pengembangan lebih lanjut, terapi fotodinamik berbasis nanopartikel dapat menjadi solusi inovatif dalam penanganan infeksi bakteri, khususnya di era meningkatnya resistensi antimikroba yang menjadi tantangan kesehatan global.
Penulis : Suryani Dyah Astuti
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://jksus.org/content/185/2026/38/1/pdf/JKSUS-38-9502025.pdf





