Universitas Airlangga Official Website

Terobosan Cerdas sebagai Pembawa Kurkumin dan Quercetin untuk Terapi Kanker Usus Besar

Ilustrasi kanker usus besar (Foto: halodoc)
Ilustrasi kanker usus besar (Foto: halodoc)

Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia dan secara signifikan menurunkan harapan hidup. Di antara berbagai jenis kanker, kanker kolorektal menempati posisi ketiga sebagai kanker yang paling sering didiagnosis dan menjadi penyebab kematian tertinggi kedua secara global. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2020, kanker kolorektal menyebabkan sekitar 935.173 kematian di seluruh dunia, mencakup semua kelompok usia dan jenis kelamin. Pada tahun yang sama, jumlah kematian akibat kanker kolorektal di Asia mencapai 506.449 kasus.

Diperkirakan angka kejadian kanker ini akan meningkat hingga 1,1 juta kasus pada tahun 2030. Dari keseluruhan kasus kanker kolorektal, kanker kolon lebih dominan dengan menyumbang 59,5% kasus baru dan 61,9% angka kematian, sementara kanker rektum menyumbang 37,9% kasus baru dan 36,3% angka kematian. Secara umum, kanker kolon berada di peringkat kelima dalam jumlah kasus baru dibandingkan semua jenis kanker, sedangkan kanker rektum menempati peringkat kedelapan dalam insiden dan peringkat kesepuluh dalam angka kematian.

Ketersediaan Layanan Kesehatan

Peluang kelangsungan hidup pasien dipengaruhi oleh ketersediaan layanan kesehatan serta efektivitas program skrining. Kanker kolorektal berkembang akibat deaktivasi jalur p53 atau mutasi pada gen adenomatous polyposis coli, serta akumulasi mutasi pada K-ras, jalur transforming growth factor-beta, dan pembentukan polip kecil. American Joint Committee on Cancer mengklasifikasikan kanker kolorektal menjadi lima tahap dengan metode pengobatan yang berbeda untuk masing-masing tahap. Pada tahap 0, sel abnormal atau polip pada mukosa kolon dapat disembuhkan sepenuhnya dengan reseksi bedah jika terdeteksi dini.

Pada tahap I dan II, metode pengobatan utama tetap eksisi bedah. Sementara itu, untuk tahap III dan IV, kemoterapi adjuvan digunakan, termasuk obat-obatan seperti oksaliplatin, 5-fluorourasil, cisplatin, dan doxorubicin. Namun, obat-obatan antikanker memiliki beberapa kelemahan, seperti sifat hidrofobik, kelarutan air yang rendah, distribusi biologis yang terbatas, serta kemungkinan resistensi terhadap obat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan inovatif untuk meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan.

Hingga saat ini, penelitian dan pengembangan produk alami telah berkontribusi pada hampir 50% pengobatan kanker yang ada, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sekitar 800 spesies tumbuhan dan ekstraknya diketahui memiliki aktivitas antikanker. Fitokimia yang terkandung dalam tanaman telah terbukti memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, sehingga ekstrak tumbuhan mendapat perhatian besar dari para peneliti karena efektivitasnya yang tinggi dengan efek samping yang lebih rendah. Selain itu, di negara berkembang, di mana biaya obat konvensional dapat menjadi kendala, penggunaan tanaman sebagai alternatif terapi lebih terjangkau dan mudah diakses. Produk alami memainkan peran penting sebagai bahan dasar obat, suplemen, dan komponen utama dalam industri farmasi berkat keamanannya dan ketersediaannya yang berkelanjutan.

Studi ini bertujuan untuk mengembangkan nanohibrida dual-responsif dengan struktur inti–lapisan berbasis ikatan disulfida guna meningkatkan efektivitas pengiriman oral dan pelepasan terarah polifenol di kolon, yang dipicu oleh perubahan pH dan stimulus redoks. Dalam pengembangan ini, nanopartikel silika mesopori (MSN) dipilih sebagai inti nanohibrida karena memiliki porositas tinggi, stabilitas termal, serta biokompatibilitas yang baik.

MSN memiliki luas permukaan besar dan gugus silanol yang memungkinkan pelapisan stabil dan merata menggunakan bahan seperti alginat. Untuk mengontrol pelepasan polifenol yang terlalu cepat akibat struktur pori MSN, digunakan lapisan alginat yang memiliki sifat biokompatibel, peka terhadap pH, serta dapat berinteraksi dengan mukosa usus. Selain itu, ikatan disulfida antara alginat dan MSN memungkinkan pelepasan obat yang lebih terarah di lingkungan kolon. Nanohibrida ini diharapkan dapat meningkatkan kelarutan dan stabilitas polifenol yang dikandungnya, melindunginya dari degradasi selama proses pencernaan, serta mempertahankan efektivitas terapinya dalam pengobatan kanker kolorektal secara lebih optimal.

Penulis: Prof. Dr. Alfiah Hayati, Dra., M.Kes

Judul artikel: Alginate coated mesoporous silica nanoparticles as oral delivery carrier of curcumin and quercetin to colon cancer: preparation, optimization, characterization, and anticancer activity