Universitas Airlangga Official Website

Tim Lintas Fakultas UNAIR Raih Juara II LKTI Airlangga Innovation Technology Competition

Tim UNAIR saat menerima penghargaan Juara II di LKTI Airlangga Innovation Technology Competition. (Foto: Dok. Pribadi)
Tim UNAIR saat menerima penghargaan Juara II di LKTI Airlangga Innovation Technology Competition. (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa lintas fakultas Universitas Airlangga meraih Juara II dalam Airlangga Innovation Technology Competition. Mereka adalah Atya Salma Fatina dari Fakultas Kedokteran Gigi angkatan 2024 sebagai ketua tim, Titis Mutiara Ningtyas dari Fakultas Kesehatan Masyarakat angkatan 2024, dan Naurah Fatihah Dinda Ghatfaani dari Fakultas Vokasi prodi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol angkatan 2024.

Mereka sama-sama pengurus UKM Karate UNAIR 2025 dan sudah saling mengenal sejak magang UKM tahun 2024. “Waktu Naurah kirim info lomba dan Atya bilang sudah punya ide, kami merasa ini momen yang pas untuk coba kolaborasi lintas fakultas,” ujar Titis.

Inovasi Skrining Kanker Mulut Berbasis Deep Learning

Dalam kompetisi ini, tim menggagas aplikasi skrining mandiri untuk deteksi dini kanker mulut berbasis AI deep learning. “Sekarang teknologi deep learning di kedokteran gigi lagi berkembang, sementara kasus kanker mulut masih tinggi. Dari situ kami terpikir, kenapa tidak kita manfaatkan untuk deteksi dini?” jelas Atya.

Riset berfokus pada pelatihan model deep learning sebagai fondasi aplikasi. “Bagian ini paling krusial, karena kalau modelnya salah, hasil deteksi juga salah dan bisa berbahaya untuk pasien,” tambah Naurah. Pendekatan ini diharapkan membantu skrining awal, terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Kolaborasi, Tantangan, dan Dukungan Pembimbing

Pembagian peran mengikuti keahlian masing-masing. Atya menyusun konsep klinis, Naurah merancang sisi teknologi, dan Titis menggarap dampak bagi masyarakat serta alur presentasi. “Kami tetap saling bantu di tiap tahap. Intinya, semua suara didengar dan setiap bidang ilmu terwakili,” kata Titis.

Perjalanan menuju final juga tidak lepas dari tantangan. Atya berangkat exchange ke Jepang sebelum kompetisi selesai sehingga tidak bisa hadir saat presentasi. “Kami akali dengan simulasi lewat zoom di waktu luang. Jadi ketika hari presentasi, meskipun Atya di Jepang, kami tetap siap,” ungkap Naurah.

Mereka mendapat dukungan dari dosen pembimbing yang merupakan dokter spesialis penyakit mulut. Tim memperoleh akses gambar medis serta masukan klinis untuk memperkuat konsep. “Beliau membantu dari sisi konten medis supaya aplikasi yang kami usulkan tidak hanya keren secara teknologi, tapi juga masuk akal secara klinis,” tutur Atya.

Keunggulan ide ini terletak pada penggunaan AI deep learning yang berpadu dengan tingginya prevalensi kanker mulut di Indonesia. Ke depan, mereka ingin menambah fitur seperti klasifikasi stadium dan koneksi dengan dokter gigi unggulan. “Harapan kami, suatu saat aplikasi ini benar-benar bisa masyarakat pakai sebagai skrining awal kanker mulut,” pungkas Titis.

Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto