UNAIR NEWS – Budidaya udang vaname di Indonesia merupakan sektor unggulan yang menjadi prioritas pengembangan akuakultur nasional. Selama ini, budidaya udang vaname hanya dilakukan di wilayah pesisir saja dan seringkali pembuatan artificial seawater terkendala oleh harga mineral yang tinggi. Menanggapi permasalahan tersebut, Tim Bhakti Antasena mengangkat inovasi artificial sea water dari limbah bittern untuk budidaya udang vaname.
Mahasiswa yang terlibat dalam penelitian itu adalah Rr Sonia Rahmania Sonjaya, Khansa Ilma Nafi’ah, Mayvita Nur Faizah, Rizka Tri Puji Haryanti, dan Nadia Priyandra Laksmidewi. Mereka adalah mahasiswa dari Fakultas Perikanan (FPK) UNAIR dibawah bimbingan Dr. Ahmad Shofy Mubarak S. Pi, M. Si.
Mewakili timnya, Sonia mengungkapkan bahwa bittern merupakan hasil sampingan dari proses pengolahan garam. “Bahan ini mudah diperoleh dari hasil limbah pabrik garam dan jumlahnya sangat melimpah,” imbuhnya.
Bittern memiliki kandungan mineral yang tinggi, terutama magnesium, kalsium, dan kalium. Kandungan mineral dalam bittern mencakup nutrisi makro dan mikro yang diperlukan oleh tanaman dan plankton, seperti ion Mg2+, K+, dan Ca2+.
Potensi
Bittern sangat berpotensi untuk pemanfaatan di bidang industri farmasi, kosmetik dan bidang kesehatan lainnya. Selain itu, pemilihan senyawa mineral dari bittern yang dimurnikan dapat diformulasikan untuk menciptakan air laut buatan, sehingga mampu mensimulasikan kondisi lingkungan laut alami.
“Pemanfaatan bittern sebagai sumber mineral untuk air laut buatan merupakan langkah inovatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya air laut dari pesisir, terutama bagi para petambak di daerah dataran tinggi,” ungkap Sonia kepada UNAIR NEWS.
Melalui inovasinya, tim Bhakti Antasena berharap bahwa penelitian mereka mengenai inovasi air laut buatan (artificial sea water) dapat dikembangkan lebih lanjut. Mereka percaya bahwa dengan pemanfaatan bittern, para petambak udang vaname di daerah dataran tinggi akan mampu mengembangkan budidaya udang secara mandiri tanpa harus bergantung pada air laut yang diambil dari pesisir.
Penulis: Bintang Muslimah
Editor: Edwin Fatahuddin





