Universitas Airlangga Official Website

Time Restricted Feeding (Puasa Periodik Terbatas Waktu) Pendekatan Melawan Obesitas Melalui Aktivasi Protein Bcl-2

Ilustrasi Obesitas (Sumber: Alodokter)
Ilustrasi Obesitas (Sumber: Alodokter)

Obesitas telah menjadi tantangan kesehatan global yang terus meningkat di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari satu miliar orang kini hidup dengan kelebihan berat badan atau obesitas, termasuk sekitar 650 juta orang dewasa dan 340 juta remaja. Kondisi ini bukan sekadar persoalan estetika tubuh, melainkan berkaitan langsung dengan risiko penyakit metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Selama ini, obesitas sering kali dijelaskan hanya dari sisi ketidakseimbangan energi—antara kalori yang dikonsumsi dan yang dibakar tubuh.

Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa masalah obesitas jauh lebih kompleks karena juga memengaruhi fungsi dasar sel, termasuk proses yang disebut apoptosis atau kematian sel terprogram. Apoptosis adalah mekanisme alami tubuh untuk menyingkirkan sel yang rusak, tetapi pada orang dengan obesitas, proses ini sering terganggu. Akibatnya, sel lemak menumpuk, peradangan meningkat, dan fungsi organ terganggu.

Salah satu protein penting yang berperan menjaga keseimbangan apoptosis adalah Bcl-2 (B-cell lymphoma 2). Protein ini melindungi sel dari kematian dini dan membantu mempertahankan kestabilan mitokondria, pusat energi di dalam sel. Kadar Bcl-2 yang rendah dikaitkan dengan peningkatan stres oksidatif dan kerusakan sel pada individu obesitas. Namun, hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara obesitas, Bcl-2, dan intervensi diet masih beragam.

Berangkat dari ketidakpastian inilah maka dilakukan penelitian berjudul “Time-restricted periodic fasting: A revolutionary approach to combat obesity by enhancing Bcl-2 pro-survival proteins.” Studi ini berupaya mengungkap apakah puasa periodik dengan waktu makan terbatas (time-restricted periodic fasting atau TRPF) dapat memperbaiki profil obesitas sekaligus meningkatkan kadar Bcl-2 sebagai tanda perlindungan sel terhadap kerusakan. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan melibatkan 38 pria muda berusia sekitar 20 tahun yang memiliki indeks massa tubuh > 23 kg/m2. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok menjalani puasa periodik terbatas waktu, sementara kelompok lainnya menjadi kontrol tanpa intervensi.

Selama sepuluh hari, kelompok intervensi berpuasa selama 12 jam setiap hari, hanya makan dua kali—sekitar pukul enam pagi dan enam sore. Selain itu, jumlah kalori yang dikonsumsi dibatasi sekitar empat puluh persen dari kebutuhan harian normal, atau setara dengan pengurangan lima ratus hingga delapan ratus kalori per hari. Semua makanan disediakan oleh peneliti untuk memastikan keseragaman asupan. Peserta juga diminta untuk tidak mengubah kebiasaan aktivitas fisik mereka selama penelitian berlangsung.

Sebelum dan sesudah periode intervensi, peneliti mengukur berbagai parameter tubuh seperti berat badan, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, rasio pinggang terhadap tinggi badan, persentase lemak tubuh, serta kadar lemak visceral. Selain itu, sampel darah diambil untuk mengukur kadar protein Bcl-2 menggunakan metode ELISA.

Hasilnya menunjukkan bahwa hanya dalam waktu sepuluh hari, kelompok yang menjalani TRPF mengalami penurunan yang signifikan pada beberapa indikator obesitas. Berat badan, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, rasio pinggang terhadap tinggi badan, dan kadar lemak visceral menurun secara nyata, sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan berarti. Penurunan lemak visceral sangat penting karena lemak jenis ini berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Selain perbaikan komposisi tubuh, penelitian ini juga menemukan bahwa kadar protein Bcl-2 meningkat secara signifikan pada kelompok puasa. Sebaliknya, kelompok kontrol justru menunjukkan penurunan ringan. Kenaikan kadar Bcl-2 ini berbanding terbalik dengan tingkat obesitas: semakin tinggi kadar Bcl-2, semakin rendah nilai indeks massa tubuh, lemak tubuh, dan lemak visceral peserta.

Penelitian ini membuka perspektif baru bahwa perubahan kecil dalam pola makan harian—bukan dengan obat, tetapi dengan mengatur waktu makan—dapat memberikan manfaat luar biasa bagi kesehatan manusia. Puasa periodik terbatas waktu tidak hanya menawarkan solusi terhadap obesitas, tetapi juga memperlihatkan potensi besar dalam menjaga keseimbangan biologis tubuh, memperpanjang kesehatan sel, dan mungkin, memperpanjang usia manusia itu sendiri.

Penulis: Purwo Sri Rejeki

Informasi detail artikel dapat diakses melalui: Nurma Yuliyanasari, Hayuris Kinandita Setiawan, Adi Pranoto, Nabilah Izzatunnisae, Eva Nabiha Zamrif, Muhammad Miftahussurur, Purwo Sri Rejeki (2025). Time-restricted periodic fasting: A revolutionary approach to combat obesity by enhancing Bcl-2 pro-survival proteins. Clinical Nutrition Open Science, 63, 304–314. https://doi.org/10.1016/j.nutos.2025.08.006