Universitas Airlangga Official Website

Tingginya Perkawinan pada Fase Remaja Dipengaruhi Kondisi Sosiodemografi dan Fasilitas Kesehatan

Ilustrasi Pernikahan (Sumber: Halodoc)
Ilustrasi Pernikahan (Sumber: Halodoc)

Fase remaja merupakan fase yang masih rentan terhadap berabagai masalah salah satunya adalah masalah kehamilan remaja. Tingginya kehamilan remaja ini merupakan fenomena yang terjadi di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat kelahiran Age Specific Fertility Rate (ASFR) untuk usia 15-19 tahun di Kabupaten Malang pada tahun 2020 sebesar 46,3 ini merupakan angka yang tinggi di Indonesia.  Kemudian diikuti dengan jumlah permohonan dispensasi pernikahan yang tinggi pada remaja.

Tingginya angka perkawinan remaja ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor perilaku remaja tetapi juga kondisi disekitar remaja yang mengakibatkan mereka terhambat mendapatkan informasi, pendidikan, pelayanan dan  akses berkaitan dengan kesehatan. Berdasarkan kondisi karakteristik sosiodemografis  dan kesehatan memberikan pengaruh terjadinya pernikahan remaja. Ciri-ciri sosiodemografis wilayah dengan tingkat pernikahan remaja perempuan tertinggi adalah wilayah dengan jumlah organisasi pemuda, program bantuan beras pemerintah, dan siswa SMA tertinggi, yaitu Kluster 2 (wilayah pegunungan), diikuti oleh Kluster 3 (wilayah pedesaan) dan Kluster 1 (wilayah perkotaan). Karakteristik kesehatan di wilayah dengan tingkat pernikahan remaja perempuan tertinggi adalah wilayah dengan jumlah rumah sakit dan klinik kesehatan terendah, yaitu Kluster 3, diikuti oleh Kluster 2 dan Kluster 1. Sementara itu, jumlah pernikahan remaja laki-laki dan pusat kesehatan masyarakat tidak menjadi variabel signifikan dalam pembentukan kluster pernikahan remaja perempuan.

Karakteristik sosiodemografi yang paling dominan ditemukan di kluster 2 adalah daerah pegunungan, kemudian kluster 3 adalah daerah pedesaan, dan kluster 1 adalah daerah perkotaan. Karakteristik kesehatan yang diteliti paling umum ditemukan di kluster 1, diikuti oleh kluster 2 dan 3. Jumlah pusat kesehatan masyarakat dan pria remaja yang menikah tidak signifikan dalam pembentukan kluster (p>0.05). Karakteristik sosiodemografi dan kesehatan lainnya secara signifikan terkluster pada pernikahan remaja perempuan.

Pembagian dengan kluster ini akan membantu para pembuat kebijakan dan perancang program dalam menyusun intervensi di berbagai wilayah berdasarkan kluster sosiodemografi dan kesehatan.  Baik kebijakan dan program untuk menurunkan pernikahan remaja yang tidak direncanakan dan mempromosikan berbagai program kesehatan reproduksi dan kesehatan masyarakat. Kebijakan dan program ini dapat disesuaikan dengan kondisi karakteristik sosiodemografi dan kesehatan masyarakat sehingga masyarakat tersebut akan lebih mudah menerimanya.

Selain itu, kondisi ini memberikan wawasan penting tentang dinamika pernikahan remaja yang terjadi di Kabupaten Malang. Fenomena yang terjadi di Kabupaten Malang dapat juga diterapkan di wilayah yang lain apabila memiliki karakteristik sosiodemografi dan kesehatan yang mirip dengan Kabupaten Malang.

Penulis: Yuly Sulistyorini, S.KM., M.Kes.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada: https://so03.tci-thaijo.org/index.php/jpss/article/view/281981