Prevalensi infeksi Helicobacter pylori di Indonesia masuk dalam kategori rendah dibandingkan negara Jepang dan Korea namun, tingginya insiden gastritis, terutama gastritis atrofi, menunjukkan bahwa terdapat faktor lain seperti autoimun gastritis (AIG) yang berkontribusi terhadap pola penyakit yang tidak biasa ini. Autoimun gastritis (AIG) adalah kerusakan sel parietal lambung yang dimediasi imun yang menyebabkan gastritis atrofi, sering dikaitkan dengan Antibodi Sel Parietal/ Parietal Cell Antibody (PCA) dan secara histologis ditandai oleh infiltrasi limfosit lamina propria. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, AIG dapat menjadi penyebab potensial gastritis kronis, terutama di daerah dengan prevalensi H. pylori yang rendah, karena melibatkan destruksi yang dimediasi imun dan menginduksi peradangan kronis sel parietal serta mukosa oksintik yang merupakan penghasil asam di fundus atau badan lambung. Pemicu pasti untuk respons autoimun ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga melibatkan kombinasi predisposisi genetik dan faktor lingkungan.
Meskipun AIG merupakan kondisi yang relatif langka secara global, terdapat bukti yang semakin meningkat mengenai prevalensi yang lebih tinggi pada populasi tertentu, misalnya di Italia dan Hongaria, dan mereka yang menjalani pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas karena gejala gastrointestinal dan gastritis kronis. Oleh karena itu, menyelidiki prevalensi AIG sangatlah penting, terutama di negara-negara dengan insiden gastritis yang tinggi tetapi prevalensi H. pylori yang rendah seperti Indonesia. Memahami epidemiologi AIG sangat penting untuk meningkatkan akurasi diagnostik dan manajemen risiko. Lebih lanjut, wawasan mengenai etiologi AIG pada populasi Indonesia dapat meningkatkan deteksi dini, pencegahan, dan strategi pengobatan yang tepat sasaran, yang berkontribusi pada hasil kesehatan yang lebih baik secara global.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Divisi Gastroenterohepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga bekerjasama dengan peneliti dari Department of Environmental and Preventive Medicine, Faculty of Medicine, Oita University, Jepang untuk menyelidiki epidemiologi AIG, histopatologi, dan hubungannya dengan status H. pylori di Indonesia. Penelitian tersebut menyoroti pentingnya membedakan penyebab gastritis autoimun dari infeksi untuk meningkatkan diagnosis, penatalaksanaan, dan pemahaman pola penyakit regional.
Penelitian yang dilakukan merupakan studi potong lintang yang dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia dari tahun 2014 hingga 2017. Terdapat 380 sampel serum dan biopsi lambung; 138 serum dipilih berdasarkan penilaian histologis awal. Adapun prosedur diagnostik yang dilakukan adalah pemeriksaan serologi yaitu dengan ELISA, kemudian pemeriksaan histologi menggunakan sampel biopsi lambung yang diberikan pewarnaan H&E, lalu diberi skor untuk peradangan, atrofi, dan metaplasia usus sesuai sistem Sydney. Deteksi H. pylori menggunakan Uji urease cepat, pewarnaan Giemsa, kultur, dan serologi. Analisis uji statistik (Mann–Whitney U, korelasi Spearman) untuk menilai hubungan antara kadar PCA, status H. pylori, dan gambaran histopatologis.
Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah sebagian besar (78,99%) pasien memiliki PCA positif (≥10 RU/mL), tetapi hanya 0,72% (1/138) yang memenuhi kriteria AIG berdasarkan kombinasi serologi dan histologi. Sebagian besar kasus PCA positif juga positif H. pylori (55,96%), dengan korelasi yang signifikan (p < 0,05, R=0,31). Peningkatan kadar PCA dikaitkan dengan peningkatan peradangan lambung, terutama di lamina propria korpus lambung. Infeksi H. pylori secara signifikan terkait dengan peningkatan kadar PCA dan perubahan histopatologis lambung yang lebih parah, termasuk peradangan dan atrofi. Wilayah dengan prevalensi H. pylori yang tinggi menunjukkan peningkatan PCA serum, tetapi AIG masih jarang di Indonesia. Studi ini menggaris bawahi bahwa gastritis tanpa H. pylori kemungkinan besar tidak disebabkan oleh AIG pada populasi tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa AIG tampaknya sangat jarang terjadi pada pasien gastritis kronis di Indonesia meskipun tingkat positif PCA tinggi. Sebagian besar peningkatan kadar PCA berkaitan dengan infeksi H. pylori dan peradangan lambung, bukan patologi autoimun yang sebenarnya. H. pylori memainkan peran patogenik yang signifikan dalam gastritis kronis, seringkali menyerupai atau berkontribusi pada gejala autoimun. Membedakan autoimun gastritis dari gastritis infeksius memerlukan evaluasi serologis dan histopatologis yang terintegrasi untuk mencegah kesalahan diagnosis. Temuan penelitian menekankan pentingnya eradikasi H. pylori yang ditargetkan untuk mencegah progresi kerusakan mukosa lambung.
Artikel dapat diakses pada: https://doi.org/10.1111/hel.70035
Penulis
Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D





