Universitas Airlangga Official Website

Tingkatkan Keamanan Pangan, Peneliti UNAIR Ciptakan Sensor Elektrokimia Berbasis Boron-Doped Diamond

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tim peneliti dari Universitas Airlangga (Unair) kembali mengukir prestasi internasional melalui publikasi ilmiah di jurnal Microchemical Journal (Elsevier, 2026). Penelitian yang dipimpin oleh Prastika Krisma Jiwanti ini berhasil mengembangkan inovasi sensor elektrokimia canggih berbasis nanoteknologi untuk mendeteksi residu kloramfenikol—sejenis antibiotik berbahaya—pada produk pangan seperti susu sapi dan daging ayam.

Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas yang secara internasional telah dilarang penggunaannya pada hewan ternak produsen makanan. Akumulasi senyawa ini pada tubuh manusia berisiko memicu gangguan kesehatan serius, mulai dari anemia aplastik, sindrom bayi abu-abu (gray baby syndrome), hingga penekanan sumsum tulang belakang. Meskipun larangan telah diberlakukan di berbagai negara, potensi penggunaan ilegal akibat harganya yang relatif murah masih kerap ditemukan.

Selama ini, pengujian residu antibiotik mengandalkan metode laboratorium konvensional seperti High-Performance Liquid Chromatography (HPLC). Metode tersebut dikenal akurat, namun membutuhkan instrumen berbiaya mahal, prosedur rumit, serta waktu analisis yang cukup lama.

Guna mengatasi keterbatasan tersebut, tim peneliti memanfaatkan Screen-Printed Electrode (SPE) yang dimodifikasi dengan boron-doped diamond (BDD) serta nanokomposit polyaniline/silver nanoparticles (PANI@AgNP). Kombinasi material unggulan ini menghasilkan efek sinergis yang signifikan: BDD memberikan jangkauan potensial yang luas dan arus latar belakang yang rendah, sementara PANI@AgNP meningkatkan konduktivitas listrik serta mempercepat transfer elektron. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa sensor inovatif ini memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi. Sensor mampu mendeteksi kloramfenikol dalam rentang konsentrasi 20–200 µM dengan Limit of Detection (LOD) sebesar 1,27 µM dan keterulangan respons yang sangat presisi (%RSD = 0,96%). Saat diuji langsung pada sampel real seperti ekstrak susu dan daging, sensor mencatatkan tingkat pemulihan (recovery rate) yang memuaskan, masing-masing sebesar 102,19% dan 92,07%. Inovasi yang melibatkan kolaborasi riset dengan peneliti dari Keio University, Kyushu University, serta Nano Center Indonesia ini membuktikan efektivitas platform BDD/PANI@AgNP sebagai alat analisis yang praktis, cepat, dan ekonomis. Kehadiran teknologi sensor portable ini diharapkan dapat dipergunakan secara luas untuk pemantauan kualitas keamanan pangan di lapangan secara real-time.

Penulis: Prastika Krisma Jiwanti, S.Si., M.Sc.Eng., Ph.D.

Baca lebih lengkap di https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0026265X26018989