Getaran (Fibrilasi) ruang jantung Atrium pada pasien paska operasi pintas pembuluh darah arteri koroner jantung merupakan komplikasi paska tindakan operasi yang masih sulit untuk diprediksi, padahal prosedur operasi pintas pembuluh darah arteri koroner jantung merupakan tindakan yang cukup banyak dilakukan oleh dokter ahli bedah Jantung, Toraks, dan Pembuluh Darah pada kasus pasien penyumbatan pembuluh darah arteri koroner. Pasien yang mengalami komplikasi ini sekitar 30% dari seluruh tindakan yang dilakukan di Dunia. Komplikasi ini biasanya terjadi sekitar 2 – 3 hari setekah tindakan pembedahan yang turut berperan menjadi salah satu faktor penyebab perburukan kondisi pasien paska operasi karena mempengaruhi kinerja jantung paska operasi yang akan berdampak pada aliran darah serta hemodinamik tubuh. Gangguan aliran darah dan hemodinamik tubuh ini nantinya akan menyebabkan penyumbatan dan gumpalan aliran darah pada organ tubuh sehingga mengganggu fungsi organ-organ pada tubuh dan berisiko kematian. Oleh karena itu memprediksi risiko terhadap Kejadian Getaran (Fibrilasi) Ruang Jantung Atrium adalah salah satu yang penting dalam hal pencegahan.
Menurut makalah penelitian oleh Mariscalco G dkk., faktor yang menyebabkan kejadian komplikasi getaran ruang jantung tersebut adalah usia, penyakit pendamping seperti penyakit paru kronis, penyakit ginjal kronis, terlebih yang memiliki riwayat cuci darah, fungsi pompa jantung < 30%, serta jenis operasi katup jantung lebih berisiko terkena komplikasi ini. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk memprediksi kejadian gangguan irama atau getaran (fibriblasi) ruang Atrium jantung yaitu pengaplikasian sistem penilaian atau skor untuk menilai risiko dari kejadian gangguan irama atau getaran (fibriblasi) ruang Atrium jantung paska prosedur pembedahan jantung. Pengaplikasian instrumen ini mudah digunakan dan praktis dalam pemakaian klinis sehari-hari. Salah satu sistem penilaian tersebut yaitu Skor Mariscalco POAF (Post-Operative Atrial Fibrillation) adalah salah satu sistem penilaian atau skor yang telah divalidasi yang dapat memperkirakan kemungkinan komplikasi ini terjadi. Selain sistem skor ini, terdapat beberapa sistem penilaian yang telah dikembangkan untuk bersama memprediksi kejadian komplikasi getaran ruang jantung Atrium paska pembedahan jantung. Walaupun terdapat beberapa sistem penilaian tersebut, belum adanya konsensus yang memuat sistem penilaian atau skoring yang digunakan secara universal untuk memprediksi komplikasi gangguan irama atau getaran (fibrilasi) paska pembedahan jantung. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha merangkum literatur ilmiah yang telah terpublikasi yang membahas instrumen penilian atau skor untuk memprediksi kejadian gangguan irama getaran (fibrilasi) ruang jantung Atrium paska pembedahan jantung. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan sistem penilaian terbaik untuk dapat memprediksi komplikasi tersebut sehingga dapat mengurangi mengurangi risiko gangguan hemodinamik peredaran darah di tubuh, pembekuan atau sumbatan darah di organ, lamanya perawatan di ruang intensif, kegagalan organ, serta yang paling penting yaitu kematian.
Penelitian ini dilakukan melalui analisis dan sintesa dari berbagai referensi. Penulis menggunakan kata “POAF”, “Scoring system”, “CABG”, dan “Atrial Fibrillation” sebagai kata kunci untuk mengeksplorasi literatur pada bank data ilmiah online dari PubMed, Google Scholar, ProQuest, dan Clinical Key. Makalah terkait dengan tema dari penelitian ini yang diterbitkan dalam lima belas tahun terakhir dilakukan pengumpulan dan pengkajian, kemudian makalah yang tidak lengkap dan tidak terkait dengan tema penelitian dilakukan eliminasi. Makalah-makalah ini kemudian dianalisis untuk menjawab tujuan penelitian ini.
Berdasarkan analisa kami terhadap makalah yang telah kami dapat dari bank data ilmiah online, sistem penilaian atau skor CHA2DS2-VASc mempunyai sensitivitas sebesar 74,2%, spesifisitas sebesar 44,7% dan dapat mengidentifikasi pasien yang diprediksi memiliki risiko tinggi mengalami gangguan irama getaran (fibrilasi) ruang jantung Atrium paska pembedahan jantung sebesar 49,4%. Skor CHA2DS2-VASc dapat digunakan sebagai intrumen prediksi secara tidak terikat (independen) untuk memprediksi komplikasi gangguan irama tersebut. skor HATCH memiliki nilai batas (cut of point) yang melebihi 1 maka dikaitkan dengan prediksi getaran Atrium jantung, menghasilkan sensitivitas 42% dan spesifisitas 70%. Skor POAF, berdasarkan studi literatur mampu mengantisipasi peningkatan risiko terjadinya POAF sebesar 58,5%.
Hasil dari studi literature yang peneliti buat yaitu bahwa meskipun terdapat berbagai sistem penilaian yang digunakan untuk memprediksi fibrilasi atrium pasca operasi, termasuk skor CHA2DS2-VASc, skor HATCH, dan Mariscalco. Skor POAF menunjukkan kemampuan yang divalidasi untuk memprediksi gangguan irama getaran (fibrilasi) ruang jantung Atrium paska pembedahan jantung.
Penulis : Dr. dr. Yan Efrata Sembiring, SpB., SpBTKV., Subsp. VE(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Sembiring, Y.E., Puspitasari, R.A., Sembiring, J.A. 2023. Scoring system for predicting the Post-Operative Atrial Fibrillation (POAF) in post-cardiac surgery: a literature review. Bali Medical Journal 12(3): 2936-2942. DOI: 10.15562/bmj.v12i3.4801
Scoring system for predicting the Post-Operative Atrial Fibrillation (POAF) in post-cardiac surgery: a literature review





