Terapi-induced senescence (TIS) merupakan mekanisme penting dalam terapi kanker yang ditandai oleh penghentian siklus sel secara stabil dan irreversibel pada sel tumor yang mengalami stres atau kerusakan, tanpa memicu apoptosis. Keadaan ini memungkinkan sel tetap aktif secara metabolik, namun kehilangan kapasitas proliferatif, sehingga berfungsi sebagai penghalang awal terhadap progresi kanker. TIS dapat diinduksi oleh berbagai modalitas terapi, termasuk kemoterapi, radioterapi, dan agen target molekuler, melalui aktivasi respons kerusakan DNA, stres oksidatif, inhibisi CDK4/6, gangguan mitosis, serta disfungsi telomer dan mitokondria. Selain efek supresif langsung terhadap pertumbuhan tumor, TIS secara signifikan memodulasi mikro lingkungan tumor melalui senescence-associated secretory phenotype (SASP), yaitu sekresi sitokin, kemokin, faktor pertumbuhan, dan enzim proteolitik yang beragam. SASP berperan ganda dengan merekrut dan mengaktivasi efektor imun bawaan dan adaptif—seperti sel NK, sel T sitotoksik, dan sel dendritik—sehingga meningkatkan eliminasi sel senesen dan meningkatkan sensitivitas terhadap imunoterapi, khususnya immune checkpoint inhibitors. Namun, bila sel senesen tidak dieliminasi secara efektif, SASP yang persisten dapat beralih menjadi faktor protumorigenik dengan mendorong inflamasi kronik, angiogenesis, epithelial–mesenchymal transition, imunosupresi, dan akhirnya kekambuhan tumor. Artikel ini menekankan bahwa keseimbangan antara efek antitumor dan protumor dari TIS sangat ditentukan oleh durasi senesens, komposisi SASP, serta konteks imunologis mikro lingkungan tumor. Bukti praklinis menunjukkan bahwa kombinasi terapi penginduksi senesens dengan imunoterapi menghasilkan efek sinergis, karena TIS meningkatkan presentasi antigen dan infiltrasi sel T, sekaligus meningkatkan ketergantungan tumor terhadap jalur immune checkpoint. Namun, TIS juga dapat menginduksi ekspresi molekul imunosupresif seperti PD-L1, sehingga menegaskan rasional biologis untuk kombinasi dengan blokade PD-1/PD-L1. Selain itu, artikel ini membahas fenomena senescence escape, di mana sel tumor yang awalnya senesen dapat kembali memasuki siklus sel melalui reprogramming epigenetik, aktivasi jalur mTOR, dan adaptasi metabolik, berkontribusi terhadap resistensi terapi dan agresivitas tumor. Untuk mengatasi risiko ini, senolytic agents diusulkan sebagai strategi komplementer guna mengeliminasi sel senesen residual setelah fase priming imun tercapai. Pendekatan rasional “induce–prime–purge”, yang mengombinasikan induksi senesens, imunoterapi, dan eliminasi selektif sel senesen, dipandang sebagai paradigma terapeutik yang menjanjikan. Secara keseluruhan, pemanfaatan TIS secara terkontrol berpotensi mengubah tumor refrakter menjadi tumor yang responsif secara imun, meskipun keberhasilan klinisnya sangat bergantung pada penentuan sekuens terapi, pengembangan biomarker dinamis, dan pemahaman kontekstual terhadap heterogenitas SASP dan mikro lingkungan tumor.
Penulis:
dr. Henry Sutanto
dr. Alfan Ahkami
Dr. dr. Deasy Fetarayani, Sp.PD, K-AI, FINASIM
dr. Pradana Zaky Romadhon, Sp.PD, K-HOM, FINASIM
Informasi lebih lengkap dari tinjauan pustaka ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://doi.org/10.1186/s43046-025-00333-8
A narrative review of therapy-induced senescence in cancer: mechanisms, immune interplay, and therapeutic opportunities
Henry Sutanto, Alfan Ahkami, Deasy Fetarayani & Pradana Zaky Romadhon





