Universitas Airlangga Official Website

Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis Imunogenisitas dan Keamanan Vaksin Influenza pada Pasien PPOK, dan Relevansinya dengan Efektivitas di Dunia Nyata

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu masalah kesehatan global utama dan menempati peringkat keempat penyebab kematian tertinggi di dunia, dengan sekitar 3.5 juta kematian pada tahun 2021. Pasien PPOK sangat rentan terhadap infeksi virus influenza beserta komplikasinya, yang dapat memicu eksaserbasi akut, mempercepat progresivitas penyakit, meningkatkan risiko kematian, serta mempercepat penurunan fungsi paru. Oleh karena itu, Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan bagi individu dengan PPOK, karena uji klinis menunjukkan penurunan signifikan angka eksaserbasi setelah vaksinasi.

Meskipun demikian, masih terdapat ketidakpastian mengenai kecukupan respons antibodi pasien PPOK terhadap vaksin influenza musiman. Kondisi inflamasi kronik, imunosenesens, dan disfungsi imun terkait usia diduga berkontribusi terhadap respons imun yang suboptimal pada populasi ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, tinjauan sistematis dan meta-analisis ini bertujuan untuk mengevaluasi imunogenisitas dan kejadian efek samping vaksin influenza pada pasien PPOK, serta menelaah relevansinya terhadap efektivitas vaksin di dunia nyata.

Metode dan Hasil

Penelitian ini disusun sesuai pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) dan telah terdaftar dalam PROSPERO. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis pada basis data PubMed, Cochrane Library (Wiley), Google Scholar, ClinicalTrials.gov, serta WHO International Clinical Trials Registry Platform hingga 24 April 2024, menggunakan kata kunci terkait vaksin influenza, imunogenisitas, dan PPOK. Studi yang disertakan meliputi uji klinis acak maupun studi observasional pada pasien PPOK usia ≥50 tahun yang menilai respons antibodi dengan metode hemagglutination inhibition (HAI), menggunakan vaksin influenza inaktivasi trivalen (TIV) atau kuadrivalen (QIV), serta melaporkan parameter Geometric Mean Titer (GMT), Seroprotection Rate (SPR), dan Seroconversion Rate (SCR) pada 4–6 minggu pascavaksinasi dosis tunggal. Studi non-bahasa Inggris/Indonesia, laporan kasus, artikel tinjauan, studi hewan, dan vaksin whole-virus dikeluarkan. Penilaian kualitas dilakukan menggunakan RoB 2 untuk uji klinis acak dan Newcastle-Ottawa Scale untuk studi observasional. Analisis statistik menggunakan model random-effects, dengan analisis terstratifikasi berdasarkan strain (H1N1, H3N2, dan B), serta evaluasi heterogenitas melalui uji Cochran Q dan statistik I².

Sebanyak enam studi dengan total 672 partisipan dianalisis. Untuk SCR, rute intradermal (ID) menunjukkan angka tertinggi terhadap strain A/H1N1 (68.6%) dan A/H3N2 (65.8%), sedangkan terhadap strain B sebesar 26,8%. Pada rute intramuskular (IM), SCR masing-masing adalah 53.7% untuk A/H1N1, 54.9% untuk A/H3N2, dan 38.3% untuk B. Rute subkutan (SC) dilaporkan dalam satu studi dengan hasil yang perlu ditafsirkan hati-hati karena keterbatasan data. Secara umum, rute ID memberikan SCR lebih tinggi untuk strain A dibandingkan IM dan SC.

Pada parameter SPR, rute ID menghasilkan seroproteksi tinggi untuk A/H1N1 (88.6%) dan A/H3N2 (86.9%), sedangkan untuk strain B sebesar 36.7%. Rute IM menunjukkan SPR 81.4% untuk A/H1N1, 70.8% untuk A/H3N2, dan 69.3% untuk B. Sementara itu, rute SC dalam satu studi menunjukkan SPR tinggi pada ketiga strain, namun interpretasinya terbatas oleh jumlah sampel. Secara keseluruhan, seroproteksi terhadap strain A cenderung lebih tinggi melalui rute ID dibandingkan IM.

Peningkatan GMT pascavaksinasi juga signifikan pada semua strain. Pada rute ID, mean difference GMT mencapai 8.38 untuk A/H1N1 dan 7.97 untuk A/H3N2, sedangkan pada IM masing-masing 7.98 dan 7.44, menunjukkan respons antibodi yang kuat terutama terhadap strain A.

Dari aspek keamanan, vaksinasi ID lebih sering menimbulkan reaksi lokal seperti eritema dan pembengkakan, meskipun umumnya ringan dan sementara. Kejadian sistemik seperti demam, mialgia, dan sakit kepala relatif jarang. Rute IM menunjukkan angka kejadian efek samping lokal dan sistemik yang lebih rendah dibandingkan ID.

Meskipun parameter imunogenisitas di laboratorium menunjukkan respons yang kuat, efektivitas vaksin influenza di dunia nyata pada pasien PPOK sering dilaporkan lebih rendah. Kesenjangan ini dapat disebabkan oleh fakta bahwa antibodi humoral hanya merepresentasikan sebagian respons imun, perbedaan karakteristik populasi uji klinis dan pasien dunia nyata, serta kemungkinan ketidaksesuaian antigenik antara vaksin dan strain yang beredar. Namun demikian, tingginya nilai SPR dan GMT tetap berkorelasi dengan penurunan eksaserbasi dan rawat inap terkait influenza, sehingga mendukung relevansi klinis vaksinasi influenza pada pasien PPOK lanjut usia. Secara keseluruhan, vaksin influenza terbukti aman dan imunogenik pada populasi ini, terutama terhadap strain A/H1N1 dan A/H3N2, baik melalui rute intradermal maupun intramuskular.

Penulis: Resti Yudhawati, Faradila Nur Aini, Nisrina Fitriyanti Wicaksono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.dovepress.com/articles.php?article_id=110859

Resti Yudhawati, Faradila Nur Aini, Nisrina Fitriyanti Wicaksono (2026). A Systematic Review and Meta-Analysis of Immunogenicity and Safety of the Influenza Vaccine in COPD Patients, and Its Relevance with Real-World Effectiveness. Journal of Inflammation Research, 21:1–19

https://doi.org/10.2147/COPD.S561711