Universitas Airlangga Official Website

Tinjauan tentang Distemper pada Anjing Domestik

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Canine distemper atau distemper anjing adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Canine Distemper Virus (CDV). Virus ini termasuk genus Morbillivirus dan keluarga Paramyxoviridae. CDV merupakan virus RNA beramplop yang memiliki variasi genetik tinggi. Sedikitnya terdapat 17 genotipe yang tersebar di berbagai wilayah dunia. Meskipun vaksin telah tersedia, penyakit ini masih sering ditemukan akibat rendahnya cakupan vaksinasi, perubahan genetik virus, dan penularan antara anjing domestik dengan satwa liar.

CDV terutama menyerang anjing, tetapi juga dapat menginfeksi berbagai hewan lain, seperti serigala, rubah, anjing hutan, musang, rakun, panda, singa, dan harimau. Anjing domestik menjadi sumber dan reservoir utama virus. Penularan umumnya terjadi melalui percikan cairan pernapasan atau aerosol dari hewan yang terinfeksi. Virus dapat keluar melalui cairan hidung, mulut, dan mata. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung saat bermain, berkelahi, kawin, atau saling self grooming, serta melalui tempat makan, pakaian, dan alat perawatan yang tercemar. Penularan dari induk kepada janin juga pernah dilaporkan.

Risiko infeksi lebih tinggi pada anjing yang belum divaksinasi atau tidak memperoleh vaksinasi lengkap, anak anjing, anjing liar, serta anjing yang tinggal di tempat padat seperti penampungan dan kennel. Interaksi antara anjing domestik dan satwa liar juga meningkatkan risiko penyebaran lintas spesies. Kondisi ini dapat mengancam satwa liar, termasuk spesies yang terancam punah.

Virus pertama kali masuk melalui saluran pernapasan dan menginfeksi sel-sel kekebalan tubuh. Selanjutnya, virus menyebar melalui darah menuju jaringan limfoid, organ pernapasan, saluran pencernaan, kulit, dan sistem saraf pusat. Infeksi menyebabkan penurunan sel darah putih dan melemahkan kekebalan tubuh sehingga anjing mudah mengalami infeksi bakteri sekunder. Apabila virus menyerang otak dan saraf, dapat terjadi kerusakan sel saraf serta hilangnya lapisan pelindung saraf.

Gejala distemper sangat beragam, meliputi demam, lesu, kehilangan nafsu makan, batuk, sesak napas, keluarnya cairan dari hidung dan mata, radang mata, muntah, dan diare. Beberapa anjing mengalami penebalan pada hidung dan bantalan kaki sehingga penyakit ini dikenal sebagai hardpad disease. Gejala saraf dapat berupa tremor otot, kejang, berjalan tidak seimbang, perubahan perilaku, kebutaan, kelemahan, hingga kelumpuhan. Gangguan saraf dapat muncul setelah gejala umum mereda dan sering memperburuk prognosis.

Diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala karena menyerupai penyakit lain. Pemeriksaan RT-PCR merupakan metode yang paling sensitif untuk mendeteksi RNA virus dari darah, urine, cairan otak, atau usapan hidung, mata, dan rektum. ELISA, tes antigen cepat, pemeriksaan jaringan, dan pemeriksaan darah dapat dilakukan juga sebagai pendukung.

Belum ada pengobatan khusus yang benar-benar menyembuhkan distemper. Penanganan berupa terapi pendukung, seperti cairan infus, antibiotik untuk infeksi sekunder, obat antimuntah, antikejang, pereda nyeri, vitamin, dan dukungan nutrisi. Pencegahan paling efektif adalah vaksinasi lengkap dan tepat waktu, disertai isolasi hewan sakit, kebersihan lingkungan, pengawasan anjing liar, serta pemantauan perkembangan genetik virus secara berkelanjutan.

Penulis : Tridiganita Intan Solikhah, drh., M.Si

Referensi terkait tulisan di atas:

https://www.advetresearch.com/index.php/AVR/article/view/2565

Solikhah, T.I., Alvaro, A.P., Putra, A.T.P., Ibrahim, R.A., Khairullah, A.R., & Akram, M. (2026). A review of canine distemper in domestic dogs. Journal of Advanced Veterinary Research, 16(4), 546-556.