Surabaya – Gangguan psikosis masih menjadi salah satu tantangan kesehatan mental terbesar di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs). Meskipun psikosis merupakan kondisi yang dapat ditangani, jutaan individu di negara berkembang belum mendapatkan layanan yang memadai. Kesenjangan pengobatan (treatment gap) bahkan mencapai hampir 90% di beberapa negara berpenghasilan rendah. Menjawab tantangan tersebut, tim Riset kolaborasi Indonesia-Jerman mempublikasikan artikel berjudul “Bridging the Gap: Transforming Psychosis Care in Low- and Middle-Income Countries through Early Detection and Treatment” di BJPsych International . Artikel ini melibatkan peneliti dari Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, serta Heinrich-Heine-Universität Düsseldorf, dan menekankan urgensi implementasi Early Intervention in Psychosis (EIP) di negara berkembang.
Mengapa Intervensi Dini Penting?
Durasi psikosis yang tidak tertangani (duration of untreated psychosis/DUP) di LMICs rata-rata lebih panjang dibandingkan dengan negara maju. Semakin lama psikosis tidak diobati, semakin tinggi risiko rawat inap berulang, resistensi terapi, penurunan fungsi sosial, hingga mortalitas. Sebaliknya, intervensi dini terbukti menurunkan angka hospitalisasi, meningkatkan kepatuhan pengobatan, dan mempertahankan fungsi individu.
Terdapat beberapa hambatan utama dalam melakukan intervensi dini psikosis di negara LMIC, yaitu :
- Keterbatasan tenaga profesional kesehatan mental
- Ketergantungan awal pada pengobatan tradisional atau spiritual
- Rendahnya literasi kesehatan mental
- Stigma terhadap gangguan jiwa
- Minimnya dukungan sistem layanan primer
Lebih dari 87% pasien episode pertama psikosis berada di LMICs, sementara infrastruktur layanan masih terbatas
Strategi Solusi yang Diusulkan
Penulis mengusulkan pendekatan komprehensif yang meliputi:
- Pengembangan pedoman kontekstual yang sensitif budaya
- Integrasi layanan kesehatan mental dalam sistem primer
- Pelatihan tenaga non-spesialis melalui model task-sharing
- Kolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk mengurangi stigma
- Pemanfaatan telepsikiatri dan teknologi digital
- Studi cost-effectiveness untuk memastikan keberlanjutan kebijakan
Pendekatan ini bertujuan menjadikan EIP sebagai investasi strategis, bukan beban biaya jangka pendek.
Investasi dalam deteksi dan intervensi dini bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga kebutuhan ekonomi dan sosial. Dengan memprioritaskan EIP, negara berkembang dapat secara signifikan menurunkan kesenjangan layanan, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta memperkuat sistem kesehatan nasional. Publikasi ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif mengembangkan model layanan intervensi dini berbasis konteks budaya dan sumber daya terbatas.
Artikel :
Sinuraya, R. K., Ambarini, T. K., Hartini, N., Arifianto, D., Syulthoni, Z. B., Schultze-Lutter, F., Puspitasari, I. M. (2026). Bridging the gap: transforming psychosis care in low- and middle-income countries through early detection and treatment. BJPsych International, 1–3. doi:10.1192/bji.2025.10089
Link :





