Dalam imajinasi sosial Jepang modern, sosok laki-laki ideal selama puluhan tahun dilekatkan pada figur salaryman: pekerja kantoran yang loyal, bekerja lembur tanpa keluhan, dan berperan sebagai penopang utama ekonomi keluarga (daikoku-bashira). Di sisi lain, ruang domestik secara historis dikonstruksikan sebagai wilayah perempuan, khususnya melalui figur sengyōshufu atau ibu rumah tangga penuh waktu. Pembagian kerja berbasis gender ini menjadi fondasi kuat tatanan sosial Jepang pasca-Perang Dunia II.
Drama Gokushufudo (The Way of the Househusband, 2020) hadir dengan pendekatan satir yang mengguncang konstruksi tersebut. Tokoh utamanya, Tatsu, adalah mantan anggota yakuza yang memutuskan pensiun dari dunia kriminal untuk menjadi bapak rumah tangga penuh waktu. Pilihan hidup ini bukan sekadar gimmick komedi, melainkan medium reflektif untuk membaca ulang relasi gender, maskulinitas, dan kerja domestik dalam masyarakat Jepang kontemporer.
Dari Yakuza ke Dapur: Parodi Maskulinitas Hegemonik
Secara visual dan karakterisasi, Tatsu tetap merepresentasikan maskulinitas konvensional: tubuh besar, wajah sangar, tato, dan gestur intimidatif khas yakuza. Namun, seluruh atribut tersebut dipindahkan ke konteks domestik—memasak, berbelanja bahan makanan diskon, menata bento, dan mengelola rumah tangga dengan disiplin ekstrem. Perpindahan ini menciptakan efek parodik: nilai-nilai maskulin seperti ketegasan, loyalitas, dan profesionalisme tidak dihapus, melainkan direlokasi ke ruang yang selama ini dianggap feminin.
Di sinilah Gokushufudo menjadi menarik. Drama ini tidak serta-merta mendekonstruksi maskulinitas, tetapi justru menegosiasikannya. Tatsu tidak “kehilangan kelelakiannya” ketika mengenakan celemek atau membicarakan resep masakan. Sebaliknya, ia memperluas definisi maskulinitas dengan menunjukkan bahwa kerja domestik juga menuntut keterampilan, ketangguhan mental, dan dedikasi tinggi.
Menantang Prinsip “No Sissy Stuff”
Dalam teori maskulinitas hegemonik Robert Brannon, salah satu pilar utama maskulinitas tradisional adalah prinsip no sissy stuff, yaitu penolakan terhadap segala hal yang diasosiasikan dengan feminitas. Gokushufudo secara konsisten menantang prinsip ini. Tatsu tidak hanya memasak, tetapi juga menikmati estetika makanan, mengunggah hasil masakannya ke media sosial, dan dengan bangga membicarakan teknik dapur—aktivitas yang secara stereotip kerap dianggap “tidak maskulin”.
Namun, penting dicatat bahwa drama ini tidak mengolok-olok kerja domestik. Justru sebaliknya, dapur digambarkan sebagai arena kerja serius yang membutuhkan strategi, perhitungan, dan disiplin tinggi. Dengan cara ini, Gokushufudo menggeser makna feminitas dan maskulinitas tanpa harus menghapus batas biner secara total.
Negosiasi, Bukan Revolusi Gender
Meskipun tampak progresif, Gokushufudo tidak sepenuhnya meruntuhkan struktur pembagian kerja berbasis gender. Istri Tatsu, Miku, berperan sebagai pencari nafkah utama dan digambarkan nyaris tidak memiliki kompetensi domestik. Ia bekerja dengan jam panjang, khas budaya korporasi Jepang, dan bergantung sepenuhnya pada Tatsu untuk urusan rumah tangga. Pola ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukan pembagian kerja yang setara, melainkan pertukaran peran yang tetap mempertahankan dikotomi ruang publik dan domestik.
Dengan kata lain, drama ini menampilkan pembalikan peran gender, tetapi tidak membongkar sistem yang melandasinya. Produksi (kerja berupah) tetap terpisah dari reproduksi sosial (kerja domestik tak berupah). Kritik terhadap sistem kerja Jepang yang tidak ramah keluarga juga hadir secara implisit, terutama melalui gambaran ketidakmungkinan pasangan suami-istri untuk sama-sama aktif di ruang publik dan domestik secara seimbang.
Maskulinitas yang Fleksibel, tetapi Masih Keras
Menariknya, meskipun Tatsu melakukan pekerjaan yang diasosiasikan dengan feminitas, ia tetap mempertahankan ciri maskulinitas keras: enggan mengeluh, menyembunyikan kesulitan pribadi, dan siap menggunakan kekerasan untuk melindungi keluarga. Aspek ini menunjukkan bahwa Gokushufudo tidak sepenuhnya meninggalkan maskulinitas hegemonik, melainkan mengombinasikannya dengan elemen baru seperti kepedulian dan kerja perawatan (care).
Fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk hybrid masculinity, di mana nilai-nilai lama tidak dihapus, tetapi disesuaikan dengan tuntutan sosial baru. Maskulinitas tidak lagi semata soal dominasi ekonomi, melainkan juga kemampuan merawat, mengelola emosi (meski terbatas), dan hadir secara aktif dalam kehidupan keluarga.
Popular Culture sebagai Ruang Negosiasi Sosial
Sebagai produk budaya populer, Gokushufudo memainkan peran penting dalam membuka ruang diskusi publik tentang gender tanpa nada menggurui. Humor menjadi strategi utama untuk meredam resistensi audiens terhadap isu sensitif seperti laki-laki dan kerja domestik. Penonton diajak tertawa, tetapi sekaligus merefleksikan betapa kaku dan tidak efisiennya pembagian peran gender yang selama ini dianggap “alami”.
Drama ini menunjukkan bahwa budaya populer tidak selalu bersifat eskapis. Ia dapat menjadi arena negosiasi nilai, tempat ide-ide alternatif diuji, dinormalisasi, dan perlahan diterima masyarakat luas.
Penutup
Gokushufudo tidak menawarkan revolusi gender yang radikal, tetapi justru di situlah kekuatannya. Dengan pendekatan parodi dan narasi keseharian, drama ini memperlihatkan bahwa maskulinitas Jepang sedang berada dalam fase transisi. Laki-laki seperti Tatsu membuka kemungkinan baru: bahwa menjadi maskulin tidak harus identik dengan menjadi salaryman, dan bahwa dapur bukan ruang yang mengancam identitas laki-laki.
Melalui tokoh mantan yakuza yang menemukan makna hidup di balik celemek, Gokushufudo mengajak kita untuk mempertanyakan ulang batas-batas kerja, gender, dan nilai sosial—sebuah refleksi yang relevan bukan hanya bagi Jepang, tetapi juga bagi masyarakat lain yang masih bergulat dengan warisan pembagian kerja berbasis gender. Jika Anda tertarik dengan artikel ini dapat membaca selengkapnya di jurnal Scopus Q1 tulisan Srimulyani, N. E., & Matsuoka, E. (2026). Gokushufudo drama from a gender perspective: negotiating salaryman masculinity and affirming the gendered division of labour in Japanese society. Journal of Japanese and Korean Cinema, 1–21. https://doi.org/10.1080/17564905.2026.2614309.
Penulis: Nunuk Endah Srimulyani, S.S., M.A., Ph.D (Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB Unair).





