Universitas Airlangga Official Website

Transformasi Penglihatan: Tindak Lanjut Jangka Panjang Terapi Lensa Kontak Kaku yang Tembus Gas pada Ambliopia Anisometropik

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ambliopia, yang sering dikenal sebagai mata malas, adalah kondisi ketika kemampuan melihat pada satu atau kedua mata berkurang karena perkembangan sistem penglihatan di otak tidak berlangsung secara normal pada masa pertumbuhan anak. Jika tidak ditangani sejak dini, gangguan ini dapat menetap hingga dewasa dan sulit diperbaiki. Secara umum, ambliopia dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu ambliopia akibat mata juling (strabismus), ambliopia akibat kelainan refraksi, dan ambliopia akibat hambatan pada jalur masuk cahaya ke mata, seperti katarak bawaan atau kelopak mata yang menutupi penglihatan. Jenis yang paling sering ditemukan adalah ambliopia refraktif, yaitu ketika terdapat perbedaan ukuran minus, plus, atau silinder yang cukup besar antara kedua mata (disebut anisometropia). Perbedaan ini menyebabkan otak lebih memilih gambar dari mata yang memiliki penglihatan lebih jelas, sedangkan gambar dari mata lainnya diabaikan sehingga kemampuan melihat pada mata tersebut semakin menurun.

Ambliopia merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang paling sering terjadi pada anak-anak. Diperkirakan sekitar 1,44% anak di dunia mengalami kondisi ini, dengan angka kejadian yang cukup tinggi di kawasan Asia, Amerika Serikat, dan Eropa. Oleh karena itu, pemeriksaan mata secara rutin sejak usia dini sangat penting agar ambliopia dapat ditemukan dan ditangani sebelum masa perkembangan penglihatan berakhir. Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang penglihatan dapat pulih dengan baik.

Penanganan ambliopia bertujuan agar kedua mata dapat bekerja sama secara optimal. Selain penggunaan kacamata, salah satu pilihan terapi yang semakin banyak digunakan adalah lensa kontak Rigid Gas Permeable (RGP). Lensa kontak ini terbuat dari bahan yang kaku tetapi tetap dapat mengalirkan oksigen ke kornea sehingga nyaman digunakan dalam jangka panjang. Pada pasien dengan ambliopia akibat anisometropia, lensa kontak RGP dapat memberikan kualitas penglihatan yang lebih baik dibandingkan kacamata karena mampu mengurangi perbedaan ukuran bayangan yang diterima oleh kedua mata. Dengan penglihatan yang lebih seimbang, otak dapat lebih mudah memproses informasi dari kedua mata secara bersamaan sehingga membantu memperbaiki fungsi penglihatan.

Terdapat beberapa contoh kasus dengan ambliopia akibat anisometropia yang menjalani terapi menggunakan lensa kontak RGP. Setelah penggunaan lensa dalam jangka waktu tertentu, pasien menunjukkan peningkatan tajam penglihatan yang bermakna dibandingkan sebelum terapi. Perbaikan tersebut tidak hanya membantu mereka melihat lebih jelas, tetapi juga meningkatkan kemampuan belajar, beraktivitas sehari-hari, berolahraga, serta rasa percaya diri. Hasil ini menunjukkan bahwa lensa kontak RGP dapat menjadi salah satu pilihan terapi yang efektif untuk pasien dengan ambliopia akibat anisometropia, terutama apabila diberikan sejak usia muda disertai pemeriksaan dan pemantauan rutin oleh dokter spesialis mata.

Penulis: Christina, dr.,Sp.M(K)

Link: https://www.researchgate.net/publication/399399545_TRANSFORMING_VISION_LONG_TERM_FOLLOW-UP_OF_RIGID_GAS_PERMEABLE_CONTACT_LENS_THERAPY_IN_ANISOMETROPIC_AMBLYOPIA