Universitas Airlangga Official Website

Triple Burden of Malnutrition pada Remaja

Triple Burden of Malnutrition pada Remaja
sumber: The Financial Express

Malnutrisi mengacuh pada 2 kondisi: undernutrisi dan overnutrisi, merupakan masalah kesehatan global terkait anak-anak dan remaja. Saat ini terdapat fenomena penurunan angka stunting, namun overweight/obesitas meningkat, yang disebabkan adanya perubahan diet tradisional karena program intervensi nutrisi, atau transisi nutrisi menuju makanan modern. Stunting merupakan bentuk undernutrisi kronis yang mempengaruhi 29.1% anak-anak dibawah usia 5 tahun, dan anak stunting memiliki 2.3-kali menjadi obesitas, yang didukung oleh temuan epidemiologi bahwa prevalen overweight/obesitas terkait stunting sebesar 5.8% pada laki-laki dan 6.8% pada perempuan. Diduga, terjadinya stunting dan overweight/obesitas secara bersamaan disebabkan oleh perubahan mekanisme epigenetik, yang terdiri dari metilasi DNA, modifikasi histon dan RNA non-coding (ncRNA). Dugaan lain melibatkan mekanisme “penghematan” energi yang terjadi pada anak stunted, sehingga merubah oksidasi lipid yang cenderung meningkatkan simpanan lemak berlebih di dalam tubuh, terutama di bagian sentral, sehingga menimbulkan resistensi insulin.

Istilah triple burden of malnutrition mengacuh pada adanya undernutrisi (terutama stunting), kekurangan zat gizi mikro dan overnutrisi, khususnya kelebihan berat badan/obesitas, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, diantaranya gangguan fungsi kognitif (kurang gizi), penyakit pembuluh darah koroner (CVD), diabetes melitus tipe 2 (T2DM), hipertensi, dislipidemia, dan kematian anak. MetS adalah interaksi kompleks dari banyak faktor intrinsik dan ekstrinsik, seperti lemak visceral, peradangan kronis, dan resistensi insulin, yang semuanya mengganggu fungsi metabolisme. Patofisiologinya mencakup beberapa mekanisme, antara lain faktor genetik dan epigenetik, gaya hidup dan lingkungan (kebiasaan makan, aktivitas fisik);  semua faktor ini menyebabkan penumpukan lemak di daerah perut (lemak visceral), yang kemudian memicu perubahan metabolisme, termasuk IR, peradangan kronis, dan aktivasi neurohormonal.

Dalam hal ini, profil MetS remaja kelebihan berat badan/obesitas dengan dan tanpa stunting dibandingkan, serta membandingkan komponen MetS (glukosa darah puasa, trigliserida, HDL-c, tekanan darah) dan parameter antropometri (lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan lingkar pinggang). rasio to-hip) berkorelasi dengan parameter stunting (HAZ). Karenanya dilakukan penelitian observasional dengan desain coss-sectional menemukan 16 subjek remaja obesitas dengan stunted, dengan tujuan untuk membandingkan profil metabolik remaja obesitas dengan stunting dan remaja obesitas tanpa stunting.

Prevalensi MetS pada remaja stunting overweight/obesitas sebesar 18,75%, didominasi oleh perempuan. Terdapat perbedaan signifikan pada BMI,s waist-to-height ratio, lingkar pinggul dan tekanan darah sistol, lebih besar pada subjek stunting dibandingkan non-stunting. Rasio pinggang-pinggul lebih rendah pada subjek stunting dibandingkan non-stunting. HAZ berkorelasi negatif dengan, tetapi berkorelasi positif dengan lingkar pinggul.

MetS pada stunting disertai obesitas hanya dialami oleh perempuan, meskipun jumlahnya sedikit (3 dari 16 subjek), hal ini didukung oleh penemuan lain: anak-anak perempuan yang mengalami stunting mempunyai massa tubuh lebih sedikit dan memiliki persentase massa lemak yang lebih besar dibandingkan anak-anak normal, anak-anak laki-laki yang mengalami stunting mempunyai lebih banyak lemak namun massa tubuh mereka lebih sedikit. Perawakan pendek pada perempuan mempunyai dampak negatif, dan meningkatkan penyakit kardiovaskular, yang berarti secara tidak langsung bahwa perempuan yang mengalami stunting cenderung lebih rentan mengalami obesitas akibat MetS dibandingkan laki-laki. Disebutkan juga bahwa komponen MetS umum terjadi pada individu dengan persentase lemak tubuh lebih dari 25% pada pria atau di atas 30% pada wanita. Pola ini menunjukkan bahwa distribusi dan metabolisme massa lemak berbeda antar jenis kelamin, dengan perempuan memiliki persentase lemak tubuh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Wanita menyimpan lemak sebagian besar di daerah gluteal-femoral, sedangkan pria sebagian besar menyimpannya di daerah visceral. Namun, distribusi lemak subkutan ditemukan lebih tinggi di lokasi bisep dan subskapula, dan cenderung menumpuk di bagian atas tubuh (batang tubuh atau lengan) dalam sebuah penelitian terhadap remaja perempuan Senegal yang mengalami stunting. Namun penelitian ini dilakukan pada remaja dengan stunting normal, bukan pada remaja dengan berat badan berlebih/obesitas.

Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)

Link: https://e-journal.unair.ac.id/IJPH/article/view/46844

Baca juga: Gambaran Status Gizi Siswa Remaja Putri dan Kaitannya Dengan Prevalensi Stunting