Ketika mendengar istilah rongga di dasar tengkorak, sebagian besar orang mungkin membayangkan struktur anatomi yang hanya menarik bagi dokter atau ahli anatomi. Namun, siapa sangka bahwa sebuah rongga kecil bernama sella turcica ternyata menyimpan informasi penting mengenai pertumbuhan wajah dan susunan rahang seseorang. Penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa variasi ukuran struktur ini berkaitan dengan jenis kelainan hubungan rahang (skeletal malocclusion), sehingga berpotensi menjadi informasi tambahan dalam diagnosis klinis.
Sella turcica, yang dalam bahasa Latin berarti “pelana Turki”, merupakan cekungan berbentuk pelana pada tulang sphenoid di dasar tengkorak. Struktur ini menjadi tempat kelenjar hipofisis (pituitari), yaitu kelenjar yang berperan sebagai pusat pengatur berbagai hormon dalam tubuh. Karena letaknya yang strategis dan mudah dikenali pada foto rontgen kepala samping (lateral cephalogram), sella turcica telah lama digunakan sebagai salah satu titik acuan penting dalam bidang ortodonti dan analisis pertumbuhan kraniofasial.
Selama ini, perhatian terhadap sella turcica lebih banyak berfokus pada hubungannya dengan gangguan hormonal atau kelainan perkembangan. Namun, sejumlah penelitian mulai menunjukkan bahwa bentuk dan ukurannya juga berkaitan dengan pola pertumbuhan rahang. Temuan tersebut mendorong kami untuk meneliti apakah hubungan serupa juga ditemukan pada populasi Asia Tenggara, khususnya masyarakat Kamboja yang hingga kini masih sangat sedikit diteliti.
Penelitian ini menggunakan 150 foto sefalometri yang telah tersimpan di rumah sakit gigi Universitas Puthisastra, Kamboja. Seluruh radiografi dikelompokkan secara seimbang menjadi tiga kelompok berdasarkan hubungan rahang, yaitu skeletal Kelas I (hubungan rahang normal), Kelas II (rahang atas relatif lebih maju atau rahang bawah lebih mundur), dan Kelas III (rahang bawah relatif lebih maju). Dari setiap radiografi, kami mengukur beberapa dimensi sella turcica, meliputi panjang, kedalaman, diameter anteroposterior, dan jarak antara dua titik anatomi penting di dalam struktur tersebut. Untuk memastikan hasil pengukuran akurat, dilakukan pula uji reliabilitas antar-pemeriksa yang menunjukkan tingkat kesesuaian sangat baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran sella turcica memang berbeda pada setiap kelompok hubungan rahang. Individu dengan skeletal Kelas III memiliki panjang, diameter anteroposterior, dan ukuran keseluruhan sella turcica yang lebih kecil dibandingkan individu dengan skeletal Kelas I maupun Kelas II. Sebaliknya, kelompok skeletal Kelas II memiliki kedalaman sella turcica yang lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola pertumbuhan rahang ternyata juga diikuti oleh variasi pada struktur dasar tengkorak.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa beberapa ukuran sella turcica cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Diameter anteroposterior dan salah satu parameter pengukuran internal menunjukkan hubungan positif dengan umur responden. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar pertumbuhan tulang telah selesai setelah masa pubertas, proses remodeling tulang wajah masih dapat berlangsung hingga usia dewasa muda.
Bagaimana dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan? Secara umum, laki-laki memiliki ukuran sella turcica yang sedikit lebih besar pada beberapa parameter, sedangkan perempuan memiliki kedalaman yang sedikit lebih tinggi. Akan tetapi, perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik. Artinya, faktor jenis kelamin tampaknya bukan penentu utama variasi ukuran sella turcica dalam penelitian ini.
Dalam praktik ortodonti, diagnosis tidak hanya didasarkan pada posisi gigi, tetapi juga pada hubungan tulang rahang dan dasar tengkorak. Semakin lengkap informasi anatomi yang dimiliki dokter gigi spesialis ortodonti, semakin baik pula perencanaan perawatan yang dapat dilakukan. Meskipun ukuran sella turcica tidak digunakan secara langsung untuk menentukan terapi, informasi ini dapat menjadi indikator tambahan ketika mengevaluasi pola pertumbuhan kraniofasial, terutama pada kasus-kasus dengan kelainan rangka yang kompleks.
Di sisi lain, penelitian mengenai sella turcica juga memiliki implikasi yang lebih luas. Karena struktur ini mengelilingi kelenjar hipofisis, perubahan ukuran yang sangat mencolok dapat berkaitan dengan beberapa kondisi medis, seperti adenoma hipofisis, gangguan hormon pertumbuhan, hingga sindrom empty sella. Oleh karena itu, pengenalan variasi anatomi normal pada berbagai populasi menjadi penting agar dokter dapat membedakan antara variasi fisiologis dan kondisi patologis.
Aspek lain yang tidak kalah menarik adalah pentingnya data spesifik populasi. Banyak standar anatomi yang digunakan saat ini berasal dari penelitian pada populasi Eropa atau Amerika Utara. Padahal, bentuk wajah dan struktur kraniofasial dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, etnis, dan lingkungan. Hasil penelitian pada populasi Kamboja ini memperkaya basis data anatomi masyarakat Asia Tenggara dan menunjukkan bahwa setiap populasi memiliki karakteristik tersendiri yang perlu dipertimbangkan dalam praktik klinis maupun penelitian.
Tentu saja penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Pengukuran dilakukan menggunakan radiografi dua dimensi sehingga belum mampu menggambarkan bentuk sella turcica secara tiga dimensi. Penelitian berikutnya diharapkan memanfaatkan teknologi yang lebih canggih, seperti cone beam computed tomography (CBCT), dengan jumlah sampel yang lebih besar dan komposisi responden yang lebih seimbang.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia adalah sebuah sistem yang saling terhubung. Sebuah rongga kecil di dasar tengkorak ternyata dapat memberikan informasi mengenai pola pertumbuhan rahang, bahkan membantu memperkaya pemahaman tentang perkembangan wajah manusia. Temuan seperti ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu kedokteran gigi tidak hanya bertujuan memperbaiki susunan gigi, tetapi juga membuka pemahaman baru mengenai hubungan kompleks antara anatomi, pertumbuhan, dan kesehatan secara keseluruhan.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Dikutip dari artikel jurnal berjudul: Sella Turcica Morphometry in Skeletal Malocclusions: A Cephalometric Evaluation in a Cambodian Cohort
Artikel dapat diakses pada: https://revista.uepb.edu.br/PBOCI/article/view/5182





