Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Kembali Jalin Sinergi Global dengan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya

Pemberian cinderamata dari Konsulat Jenderal Australia yang diwakili oleh Glen Askew, Konsul Jenderal Surabaya (kiri) kepada Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes Sp PD-KGEH PhD selaku Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi UNAIR (kanan). (Foto: PKIP UNAIR)
Pemberian cinderamata dari Konsulat Jenderal Australia yang diwakili oleh Glen Askew, Konsul Jenderal Surabaya (kiri) kepada Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes Sp PD-KGEH PhD selaku Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi UNAIR (kanan). (Foto: PKIP UNAIR)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali memperkuat kerja sama internasional dengan menggelar Strategic Meeting bersama Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. Dari pihak Konsulat Jenderal Australia di Surabaya yang hadir diwakili yakni Glen Askew yang merupakan Konsul Jenderal Surabaya dan Han Xiao Zhang yang merupakan Konselor (Pendidikan dan Penelitian), Departemen Pendidikan, Jakarta. 

Sementara itu dari pihak UNAIR diwakili oleh Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat, Prof Muhammad Miftahussurur dr MKes Sp PD-KGEH PhD selaku Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi UNAIR, dan Prof Iman Harymawan PhD selaku Direktur Airlangga Global Engagement (AGE).

Pertemuan tersebut berlangsung pada Jumat (14/2/2025) dan bertempat di Ruang Banten, Lantai 4, ASEEC Tower, Kampus B, UNAIR. Terselenggaranya acara itu menjadi wadah diskusi strategis terkait pengembangan hubungan pendidikan antara Indonesia dan Australia.

Pada sambutannya, Prof Iman Harymawan PhD, selaku Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR, menyampaikan bahwa pihak UNAIR telah menjalin diskusi dengan Konsulat Jenderal Australia sebelumnya untuk memperpanjang dan memperdalam kerja sama yang telah terjalin. Salah satu kerja sama utama yang tengah dipersiapkan adalah Western Australia East Java University Consortium (WAEJUC) Research Meeting 2025

“Kami sangat antusias menyelenggarakan International Enrichment Program yaitu WAEJUC 2025 yang akan diadakan di Curtin University, Perth, Australia. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 27 April – 1 Mei 2025,” papar Prof Iman.

Glen Askew, Konsul Jenderal Surabaya dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan Strategic Meeting yang diselenggarakan oleh UNAIR sebagai langkah penting dalam mengelola hubungan pendidikan antara Indonesia dan Australia.

“Kami sangat berterima kasih kepada UNAIR yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Pertemuan ini sangat penting untuk mengelola hubungan pendidikan antara kedua negara,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti program beasiswa dan double degree sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Australia. Lebih lanjut, ia berharap kerja sama ini dapat semakin berkembang dengan berbagai inisiatif baru.

“Kami juga ingin kedepannya agar lebih banyak mengadakan kegiatan seperti lomba pidato atau program kolaborasi seperti yang sudah ada di Aussie Banget Corner UNAIR yang akan berdampak positif bagi hubungan Indonesia dan Australia,” tambahnya.

Diskusi perwakilan UNAIR dengan pihak Konsulat Jenderal Australia untuk membahas keberlanjutan kolaborasi di bidang pendidikan. (Foto: PKIP UNAIR)

Salah satu agenda utama dalam pertemuan ini adalah pengajuan proposal New Colombo Plan 2025 yang disampaikan oleh Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi selaku Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat. Program tersebut bertujuan untuk memperkuat kemitraan Indonesia-Australia dalam bidang pendidikan dan meningkatkan mobilitas mahasiswa melalui program seperti Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) atau program pertukaran pelajar lainnya. 

“Kami memiliki banyak alumni UNAIR yang telah menempuh studi di Australia melalui program double degree maupun beasiswa, sehingga kami berharap program ini nantinya tidak hanya berfokus pada transfer ilmu tetapi juga pertukaran budaya,” jelas Prof Nyoman.

Selain itu, ia menyoroti manfaat yang diperoleh mahasiswa Australia dalam mempelajari isu-isu kesehatan masyarakat seperti stunting dan malaria di Indonesia. UNAIR juga tengah merancang proposal kerja sama dengan Griffith University serta mengembangkan program pengabdian masyarakat dan penelitian terkait ketahanan pangan bersama dengan universitas terkemuka lainnya di Indonesia.

“Kami berharap dapat mengembangkan kerja sama antar-universitas melalui konsorsium guna melanjutkan program ini,” pungkasnya.

Penulis: Adinda Aulia Pratiwi

Editor: Khefti Al Mawalia