UNAIR NEWS – Di tengah derasnya arus perubahan zaman, generasi muda dituntut untuk tetap teguh memegang nilai iman dan moral. Sebagai upaya dalam memperkuat spiritualitas tersebut, Mahasiswa Masjid Ulul ‘Azmi Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Kajian Spesial Kepemudaan. Acara kali ini mengusung tajuk “Spirit Pemuda Masa Kini: Meneguhkan Iman di Tengah Tantangan Zaman”. Kegiatan itu sukses berlangsung pada Selasa (14/10/2025) di ruang utama Masjid Ulul ‘Azmi Kampus MERR-C.
Pada kesempatan itu, hadir Wakil Rektor I UNAIR, Prof Mochammad Amin Alamsjah Ir MSi PhD, yang turut memberikan sambutan. Ia mengapresiasi semangat mahasiswa dalam menghidupkan kegiatan keagamaan di lingkungan kampus UNAIR.
“Setiap generasi, semua punya karakter tersendiri. Namun beberapa tahun terakhir, kita mendengar istilah generasi stroberi. Generasi yang rentan sekali terhadap tekanan lingkungan, mudah stres, putus asa, kadang-kadang sampai kehilangan keimanannya. Mudah-mudahan kita semua jauh dari itu,” tutur Prof Amin.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa generasi muda kini harus menjadi pemimpin yang takut kepada Allah SWT. “Selama kita tidak mendapat pemimpin yang seperti itu, maka sulit sekali kita membangun Indonesia dengan segala permasalahan yang ada. Maka benar yang Imam Syafi’i sampaikan, kehidupan seorang pemuda akan berarti jika memiliki ilmu dan ketakwaan,” ujarnya.
Pemuda sebagai Fase Kuat dalam Kehidupan
Kajian utama kemudian disampaikan oleh Dr KH Reza Ahmad Zahid Lc MA dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam ceramahnya, Gus Reza menjelaskan bahwa masa muda merupakan fase kehidupan manusia yang paling kuat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
“Allah memberi tiga fase kehidupan, yaitu lemah saat kita masih bayi, kuat saat kita dalam usia muda, lalu lemah kembali saat usia kita tua nanti. Masa muda adalah satu-satunya fase kuat yang tidak akan terulang. Maka jangan sia-siakan waktu muda,” tutur Gus Reza.
Ia pun mengingatkan bahwa masa muda adalah masa emas yang sarat godaan. Karena itu, pemuda, lanjutnya, perlu berhati-hati agar tidak tergelincir oleh kesenangan dunia yang menyesatkan.
Gus Reza lantas mencontohkan kisah Ashabul Kahfi dalam Surah Al-Kahfi sebagai teladan pemuda beriman di tengah lingkungan penuh kemaksiatan. “Mereka bersembunyi di gua bukan karena lemah, tetapi karena kuatnya menjaga iman. Allah pun memberi mereka hidayah dan perlindungan,” ujarnya.
Ilmu dan Iman Harus Beriringan
Gus Reza kembali menegaskan bahwa ilmu sejati adalah cahaya dari Allah SWT yang tidak akan diberikan kepada orang yang durhaka. Karena itu, ia menyebut, ilmu perlu disertai dengan iman dan takwa.
“Ilmu tanpa iman akan ruwet, iman tanpa ilmu akan mbulet. Dua-duanya harus satu paket. Orang berilmu yang tidak takut kepada Allah berisiko terjerumus pada kesombongan. Sedangkan orang bertakwa dan berilmu, dia yang benar-benar beruntung,” ungkapnya.
Menutup ceramahnya, Gus Reza berpesan agar generasi muda senantiasa menjaga keimanan dan menjauhi kemaksiatan, meskipun hidup di tengah perubahan zaman yang serba cepat. “Beruntunglah orang yang tetap berpegang pada Islam di akhir zaman. InsyaAllah kita termasuk di dalamnya,” pungkas Gus Reza.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Ragil Kukuh Imanto





