UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menerima kunjungan benchmarking (studi tiru) dari Universitas Diponegoro (Undip) pada Rabu (23/9/2026) di Ruang Amerta, Lt 4 Kantor Manajemen Kampus MERR-C. Kunjungan tersebut dihadiri oleh rektor dan jajaran wakil rektor, dekan, dan pimpinan unit kerja terkait dari kedua universitas. Strategi pengembangan universitas, mulai dari aspek anggaran hingga publikasi riset menjadi pembahasan dalam kunjungan tersebut.
Rektor UNAIR Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin menyampaikan bahwa 2016 adalah tahun di mana UNAIR mulai melakukan akselerasi capaian. “Tahun 2016 kami bersama PTN-BH lain mendapatkan target yang menurut kami luar biasa, yaitu untuk masuk ke peringkat 500 dunia. Suatu target yang menurut kami luar biasa karena pada saat itu kami ada di posisi 700 dunia,” ujarnya.
Target tersebut lantas menjadi penyemangat dan motivasi bagi UNAIR. Pada pemeringkatan QS WUR 2022, akhirnya UNAIR mampu menembus peringkat 500 dunia, tepatnya pada posisi 465 dunia. Posisi tersebut terus menunjukkan tren peningkatan, di mana saat ini UNAIR telah menduduki posisi 276 dunia.
Pengelolaan Anggaran
Selain capaian, Prof Madyan juga menyinggung soal pengelolaan anggaran. Selama 12 tahun terakhir, UNAIR berhasil membangun berbagai sarana dan prasarana secara mandiri. Kehati-hatian dalam mengelola anggaran dan memastikan setiap anggaran yang keluar efektif dan efisien adalah kunci dari keberhasilan tersebut.
“Yang mungkin bisa kita sampaikan tentunya meskipun kita punya anggaran, UNAIR mampu mengelola anggaran ini seefisien dan seefektif mungkin. Kami keluarkan anggaran dengan penuh kehati-hatian, harus ada bukti dan output yang jelas,” jelasnya.

Publikasi, lanjut Prof Madyan, juga menjadi salah satu faktor penting yang membuat ranking UNAIR terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Budaya penelitian yang telah terbangun di kalangan akademisi sangat berpengaruh pada terbentuknya reputasi UNAIR di kancah global.
“Bagi kami seorang dosen sebagai pengajar profesional bisa meningkatkan kesejahteraan melalui pengajaran. Tapi dosen yang senang meneliti kesejahteraannya juga harus terjamin. Dengan demikian terjadi peningkatan signifikan angka penelitian dan publikasi,” jelasnya.
Selaras dengan terbentuknya budaya penelitian di UNAIR, Prof Madyan berharap agar kunjungan benchmarking ini nantinya juga akan berbuah pada kerja sama atau kolaborasi. “Saya berharap Undip bisa berkolaborasi dengan UNAIR dalam bidang riset, sehingga nanti publikasi yang dihasilkan bisa lebih baik dan meningkat,” harapnya.
Peluang Kolaborasi
Rektor Undip Prof Dr Suharnomo SE MSi menyampaikan apresiasinya kepada UNAIR atas diterimanya kunjungan benchmarking tersebut. Ia menuturkan bahwa Undip juga sangat terbuka untuk bekerja sama dan belajar dengan UNAIR untuk kemajuan kedua belah pihak.
“Kami ucapkan terima kasih kepada UNAIR karena sudah menerima kami. Mungkin dari kami ada yang masih kurang, sehingga kami ingin belajar, agar yang kita lakukan untuk anak bangsa bisa maksimal,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat Undip sekaligus Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Periode 2014-2019 Prof Mohamad Nasir MSi Akt PhD juga turut mengapresiasi pesatnya perkembangan UNAIR. Pasalnya, ia juga turut ambil andil sebagai saksi dalam perjalanan UNAIR untuk sampai pada posisi seperti saat ini. Mengingat, saat itu Prof Nasir masih menjabat sebagai Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
“Inilah yang penting bagi kita untuk mengambil pelajaran yang lebih baik. Semoga kita bisa mengikuti jejak UNAIR,” tegasnya.
Ia memberikan saran agar perguruan tinggi memiliki sistem mentoring dengan sesama perguruan tinggi. “Mentoring menjadi penting karena mentoring perlu banyak strategi. Mudah-mudahan Undip bisa belajar dari pengalaman-pengalaman UNAIR dan bisa berkolaborasi,” tuturnya.
Penulis: Yulia Rohmawati





