Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global, termasuk Indonesia. Jika tidak dikelola dengan baik, maka diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, di antaranya komplikasi ginjal yaitu Nefropati Diabetik. Telah banyak upaya pencegahan dan pengelolaan Diabetes diantaranya edukasi, namun angka komplikasi masih tinggi. Perlu adanya edukasi yang efektif agar dapat mengurangi beban kesehatan dan biaya pengobatan.
Tim peneliti Universitas Airlangga mencoba menjawab pertanyaan mendasar program edukasi kesehatan apakah yang efektif dapat digunakan untuk mencegah terjadinya komplikasi ginjal? Studi ini berfokus pada salah satu strategi pendidikan kesehatan berbasis Transtheoretical Model (TTM). Diyakini bahwa perubahan perilaku pasien diabetes dapat dicapai dengan serangkaian tahapan yaitu pra-kontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, dan pemeliharaan. Di mana tiap tahap memerlukan pendekatan dan strategi Pendidikan kesehatan yang berbeda untuk memfasilitasi transisi ke tahap berikutnya.
Menggunakan model data primer, penelitian dilakukan pada 70 pria dan 50 wanita dengan usia kisaran 30-75 tahun penyandang diabetes. Sesuai dengan basis TTM, perubahan tahapan perilaku pasien dilihat dari pengetahuan tentang diabetes dan pencegahannya, adopsi perilaku sehat (pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, kepatuhan pegobatan, kontrol glikemik yang lebih baik), dan kualitas hidup pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan kesehatan berbasis transteoritik terbukti efektif meningkatkan pengetahuan pasien tentang pengelolaan diabetes untuk mencegah komplikasi. Selain itu program ini juga efektif meningkatkan adopsi perilaku sehat pada pasien Diabetes Melitus, hal ini merupakan langkah penting dalam mencegah komplikasi ginjal. Peningkatan adopsi perilaku sehat menunjukkan bahwa program ini berhasil mendorong perubahan perilaku positif pada pasien seperti pola makan sehat, aktivitas fisik teratur dan kepatuhan terhadap pengobatan. Kemampuan kontrol glikemik pasien yang mendapatkan edukasi kesehatan berbasis TTM juga didapati meningkat, hal ini merupakan faktor kunci dalam pencegahan komplikasi ginjal. Pasien mampu mengelola kadar glukosa darahnya yang pada akhirnya dapat mengurangi risiko komplikasi nefropati diabetik. Pada akhirnya, program ini mampu meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes, dampak positif terlihat pada aspek fisik, mental, dan sosial pasien, sehingga dapat megurangi risiko komplikasi ginjal.
Penelitian ini memberikan pilihan beragam intervensi pencegahan komplikasi ginjal pada pasien diabetes melitus. Petugas kesehatan dapat menerapkan program pendidikan kesehatan berbasis perubahan perilaku dengan serangkaian tahapan, secara luas dan berkelanjutan, menggunakan pendekatan sesuai kebutuhan pasien, sehingga pasien diabetes dapat meningkat pengetahuannya, mampu mengadopsi prilaku sehat, kontrol glikemik meningkat, dan kualitas hidup meningkat. Pada akhirnya semua hal tersebut berkontribusi dalam memperlambat dan mencegah risiko komplikasi ginjal. Kolaborasi antar-disiplin dengan melibatkan tenaga kesehatan, ahli gizi, dan psikolog juga penting untuk memperkuat efektivitas program.
Penulis: Dr. Hafna Ilmy Muhalla, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. M. B.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:
https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-105007213897&origin=recordpage





