Universitas Airlangga Official Website

Usulan Algoritma untuk Manajemen Terpadu Koinfeksi TB-SARS-CoV-2 di Negara Endemik Tuberkulosis

Ilustrasi by Hello Sehat

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi ancaman utama pada penyakit menular, juga COVID-19 telah menjadi pandemi global sejak diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020. Hal ini menjadi beban ganda bagi negara endemik TB seperti India, Cina, dan Indonesia. Selain itu, telah terjadi peningkatan TB-SARS-CoV-2 kasus koinfeksi, yang saat ini dilaporkan jarang. Karena koinfeksi berpotensi lebih buruk, penelitian yang komprehensif dan intensif diperlukan dari semua sektor. Pemahaman tentang semua kemungkinan dan memprediksi efek TB-COVID-19 penting untuk mengantisipasi efek kaskade kedua penyakit di semua sektor, juga koinfeksi TB dengan penyakit menular lainnya seperti Influenza-Like Illness (ILI), Infeksi Saluran Pernafasan Akut Parah (severe acute respiratory infection = SARI), dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Hal ini diperlukan untuk memperkuat pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program pengendalian TB yang terintegrasi dengan penyakit menular lainnya. Kesadaran akan pentingnya mengatasi masalah ini mendorong berbagai upaya strategis untuk membentuk sistem manajemen terpadu dalam sistem kesehatan di masa depan, yang mengangkat peran berbagai aspek, termasuk kolaborasi multisenter. Selain itu, penelitian yang konsisten juga diperlukan untuk merancang sistem manajemen strategis yang efisien untuk penyakit menular serius yang dapat diterapkan secara global.

TB adalah penyakit menular yang rumit, beberapa kasus, seperti antimikroba resistensi dan Infeksi TB Laten (LTBI), perlu solusi segera. Namun, banyak kebijakan kesehatan telah melemahkan implementasi managemen TB karena pandemi COVID-19. Kesamaan dari gambaran klinis pada infeksi saluran pernapasan juga mempersulit identifikasi, menunda proses penanganan dan pengobatan. Kondisi ini diperparah dengan tingginya jumlah penduduk dan kasus TB di negara berpenghasilan rendah-menengah seperti India, Indonesia, dan Pakistan. Sejak COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, masyarakat dan pemerintah pun diatur mobilisasi nya untuk menahan penyebaran lebih lanjut dan mengurangi dampak pada populasi, kesehatan struktur dan ekonomi.

COVID-19 memengaruhi populasi yang rentan dan mereka yang terkena penyakit menular lainnya. Misalnya, efek stimulasi dari pandemi akan mengakibatkan penyebaran global epidemi TB dan risiko efek biologisnya, seperti interaksi dua penyakit. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk membuat strategi terbaik untuk menerapkan sistem manajemen terintegrasi dan antisipasi masalah kompleks dalam penyakit menular yang muncul (emerging) atau muncul kembali (re-emerging), untuk tujuan lingkungan yang layak secara global, kesehatan yang baik, dan kesejahteraan.

Konfeksi TB-SARS-CoV-2, data dari meta-analisis dan studi literatur dengan pencarian publikasi yang luas dari berbagai negara, saat ini ditemukan 86 kasus dari 36 penelitian koinfeksi TB-SARS-CoV-2. TB dan COVID-19 memiliki gejala yang cenderung sama, menyerang paru-paru. Gambaran paru menunjukkan kesamaan yang umum, cavitas (32,58%), infiltrat (31,46%), ground-glass opasitas (19,1%), nodul (16,85%), efusi pleura (11,24%), fibrosis (12,36%), konsolidasi (8,99%), lesi milier (5,62%), dan retikula (5,62%), sedangkan perbedaan yang paling nyata pada pemeriksaan laboratorium adalah jumlah leukosit. Sebuah studi kohort menyatakan bahwa pasien dengan TB-COVID-19 memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dan gejala yang parah dibandingkan mereka yang hanya memiliki COVID-19; data dari studi gabungan yang membandingkan kelompok TB-COVID-19 dan non-TB kelompok mengenai rasio odds (OR) menunjukkan persentase kematian 3,46% (822/23.732) pada kelompok keseluruhan, 5,69% (123/2161) pada kelompok TB-COVID-19, dan 3,24% (699/21.571) pada kelompok non-TB; data dari WHO juga menunjukkan peningkatan jumlah kematian akibat TB antara 2019–2020. Faktor penting yang mempengaruhi angka kematian pada kasus TB adalah tingkat deteksi TB yang lebih rendah yang menurun sebesar 18% selama pandemi. Meskipun jumlah kasus TB-COVID-19 rendah, tingkat keparahan dan angka kematian yang tinggi tetap suatu ancaman. Ditemukan juga bahwa penatalaksanaan TB dipengaruhi oleh pandemi, seperti penurunan jumlah temuan kasus TB di beberapa negara. Meta analisis menunjukkan bahwa pasien TB-COVID-19 yang berusia >65 tahun memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, juga tingkat komorbiditas. Beberapa bukti menunjukkan bahwa jenis kelamin juga mempengaruhi risiko ini penyakit, di mana laki-laki memiliki risiko yang lebih rentan daripada perempuan karena tingginya kasus TB.

Implementasi strategis ke depan perlu melibatkan seluruh pelayanan kesehatan, integrasi tata kelola TB-COVID-19 dan penyakit penyerta. Penerapan algoritma integrasi TB-COVID 19 tidak mengesampingkan ILI, ISPA, dan SARI atau mengabaikan HIV, komorbiditas diabetes mellitus, dan pasien immunocompromised lainnya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Setiap waktu pasien dengan gejala infeksi saluran pernafasan mengunjungi unit pelayanan kesehatan, algoritma manajemen standar untuk pasien dengan dugaan koinfeksi PTB, PTB-COVID-19/SARI/ARI/ILI dilakukan untuk menerapkan standar pencegahan, pengobatan, perawatan pasien, dan pengendalian penyakit menular di masyarakat. Demikian pula, itu melibatkan alur standar manajemen pasien pada setiap kunjungan rutin pasien PTB di unit pelayanan Kesehatan, juga acuan pedoman WHO.

 Implementasi algoritma manajemen terpadu TB-COVID-19 dapat tercapai perawatan pasien yang baik dengan hasil penurunan morbiditas dan mortalitas oleh infeksi saluran pernafasan dan berkontribusi terhadap pengendalian TB, terutama di negara-negara endemik.

Kesimpulan, TB lebih krusial dan rumit untuk ditangani saat koinfeksi dengan COVID-19/ SARI/ARI/ILI atau infeksi virus pernapasan lainnya. Oleh karena itu, berdasarkan penelitian implementasi dan desain multisenter, perlu dibuat pedoman dan algoritma yang diperbarui untuk penanganan terpadu TB-COVID-19/SARI/ARI/ILI.

Penulis: Ni Made Mertaniasih, Soedarsono Soedarsono, Tiffany Tiara Pakasi, Zakiyathun Nuha, dan

Manabu Ato

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Trop. Med. Infect. Dis. 2022, 7, 367. https://doi.org/10.3390/tropicalmed7110367 https://www.mdpi.com/journal/tropicalmed  

Ni Made Mertaniasih, Soedarsono Soedarsono, Tiffany Tiara Pakasi, Zakiyathun Nuha, dan

Manabu Ato; Proposed Algorithm for Integrated Management of

TB-SARS-CoV-2 Co-Infection in a TB-Endemic Country; Trop. Med. Infect. Dis. 2022, 7, 367.