Sudut femoral anteversion angle (FAA) adalah sudut yang terbentuk antara sumbu leher femur dan sumbu bidang koronal tulang paha bawah (tulang kondilus femur). Peningkatan sudut FAA akan menurunkan momen abduksi lengan abduktor pinggul dan menyebabkan pola gaya berjalan yang buruk secara kosmetik, gaya berjalan yang tidak efisien, dan keterbatasan fungsional.
Dalam mengukur FAA, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik, radiografi konvensional, atau pemindaian computed tomography (CT). Pemeriksaan klinis yang digunakan untuk mengukur FAA merupakan alat skrining yang sering dikerjakan. Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah dapat dilakukan berulang kali, tidak mahal, aman dan tidak melibatkan paparan radiasi. Namun, metode ini kurang akurat dan tidak dapat diandalkan karena spastisitas otot, deviasi posisi tulang paha dan deformitas tulang.
Dalam mengukur FAA, radiografi 2D konvensional umumnya digunakan untuk diagnosis dan tindak lanjut ekstremitas bawah, tetapi memiliki kelemahan karena sensitif terhadap orientasi pasien dan kelainan bentuk tulang. CT scan mengatasi kelemahan ini dan memberikan perhitungan yang lebih akurat. Dengan kemampuan untuk memindai melalui beberapa irisan dan bahkan membuat rekonstruksi 3D dari lokasi yang terkena, CT dianggap sebagai teknik pencitraan “gold standard” untuk mengevaluasi FAA dan merupakan metode yang dapat diandalkan dan valid. Kerugian dari CT scan adalah memiliki risiko karsinogenik yang tinggi karena paparan radiasi yang tinggi, terutama pada populasi anak.
Perangkat Lunak FEMORA® yang dikembangkan oleh Didim Co, Ltd.,Korea mencoba memecahkan masalah radiasi dan biaya CT scan. Dengan hanya menggunakan X-ray biplanar dan bantuan perangkat lunak FEMORA®, gambar 3D dapat direkonstruksi dan kebutuhan akan CT scan dapat dikurangi. Jika validitas dan reliabilitasnya terbukti, ini akan membantu mengurangi beban biaya dan paparan radiasi pada pasien. Oleh karena itu, harapannya program ini dapat menggantikan kebutuhan akan CT scan atau sebagai standar referensi untuk mengukur FAA baik sebagai alat evaluasi bahkan skrining.
Dalam hal ini evaluasi FAA dilakukan pada 36 sampel pasien dan melalui pemeriksaan fisik, X-ray biplanar, CT Scan dan melalui perangkat lunak FEMORA® dilakukan telaah. Validitas dan reliabilitas dilakukan uji oleh 3 penguji dan dilakukan 3 kali ulangan setiap sampel pada perangkat lunak dan diambill reratanya. FEMORA® sendiri adalah perangkat lunak yang baru dikembangkan yang dapat merekonstruksi gambar 3D tulang paha dari radiografi konvensional.
Pada penelitian sebelumnya, aplikasi ini telah menunjukkan validitas konvergensi dan reliabilitas antar pengamat yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau hasil ini untuk menentukan apakah validitas dan reliabilitas juga berlaku pada populasi pusat penelitian yang beragam dan lokasi geografis yang berbeda. FEMORA® dibuat untuk mengurangi paparan radiasi pada pasien yang memerlukan pemeriksaan rutin dengan CT scan, seperti pasien dengan CP.
Beberapa keunggulan FEMORA® dibandingkan dengan CT scan adalah, pertama, aplikasi ini hanya membutuhkan perangkat seluler dan radiografi konvensional untuk memvisualisasikan gambar 3D tulang paha. Kedua, perangkat lunak FEMORA® dapat mencakup FAA yang luas: dari 18° hingga 83°, dan dengan demikian dapat digunakan untuk berbagai kasus. Ketiga, FEMORA® tidak mengharuskan pasien untuk diam dalam jangka waktu yang lama seperti pada CT scan, sehingga lebih nyaman untuk menilai anak-anak yang biasanya kurang kooperatif.
Metode alternatif yang bisa digunakan adalah sinar-X biplanar yang diinterpretasikan dengan menggunakan sistem/program tertentu. Salah satu program yang paling mirip dengan FEMORA® adalah pencitraan EOS. EOS pada awalnya digunakan untuk rekonstruksi 3D tulang belakang, tetapi telah terbukti memiliki validitas dan reliabilitas yang baik untuk pengukuran sudut anteversi femur.
Dosis radiasi sistem pencitraan EOS telah dilaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan CT scan. Selain itu, pencitraan EOS tulang belakang secara keseluruhan menghasilkan radiasi 6 hingga 9 kali lebih sedikit dibandingkan dengan radiografi konvensional. Perbedaan besar dalam dosis radiasi ini akan serupa dengan FEMORA®. Namun, sistem EOS tidak cocok untuk digunakan di beberapa rumah sakit dan negara karena biayanya yang tinggi, kebutuhan akan peralatan khusus, dan keterbatasan ruang.
Hasil evaluasi perangkat lunak FEMORA® yang kami lakukan ditemukan bahwa reliabilitas penggunaan perangkat lunak FEMORA® sangat baik dan korelasi yang baik dengan hasil CT scan. Sehinga menurut kami FEMORA® merupakan alternatif yang baik untuk CT scan karena menunjukkan korelasi dan reliabilitas yang baik dan mengurangi paparan radiasi pasien. Dan juga karena biaya yang diperlukan untuk pengoperasian yang cukup murah, menjadikan perangkat lunak FEMORA® sangat bisa diaplikasikan di Indonesia sebagai alat evaluasi maupun skrining terutama pada penderita cerebral palsi.
Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Disarikan dari artikel dengan judul: “Validity of measurement of femoral anteversion angle using FEMORA® _software based on two-dimensional radiographic imaging examination femur in children with cerebral palsy in Indonesia” yang diterbitkan di Heliyon 9 (2023):e22243. Link:
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405844023094513





