Nyeri saraf atau nyeri neuropatik merupakan salah satu jenis nyeri kronis yang paling sulit ditangani. Kondisi ini muncul ketika sistem saraf mengalami kerusakan atau gangguan, sehingga rangsangan yang seharusnya biasa saja dapat terasa sangat nyeri. Pasien dapat merasakan sensasi terbakar, tertusuk, tersengat listrik, atau nyeri berlebihan terhadap panas dan sentuhan. Salah satu obat yang banyak digunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah gabapentin. Namun, respons terhadap gabapentin tidak selalu optimal, sehingga para peneliti terus mencari terapi pendamping yang dapat meningkatkan efeknya.
Salah satu kandidat yang menarik adalah vitamin D3. Selama ini vitamin D lebih dikenal karena perannya dalam kesehatan tulang. Padahal, vitamin D juga bekerja pada sistem saraf dan sistem imun. Senyawa ini memiliki aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan peradangan dan fungsi saraf. Karena peradangan pada jaringan saraf ikut berperan dalam mempertahankan nyeri neuropatik, vitamin D3 diduga dapat memberikan manfaat tambahan ketika diberikan bersama obat antinyeri seperti gabapentin.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pharmacia pada 2026 menguji kemungkinan tersebut menggunakan model tikus dengan chronic constriction injury atau CCI. Pada model ini, saraf skiatik diberi ikatan tertentu sehingga menimbulkan kondisi yang menyerupai nyeri neuropatik. Tikus kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok, termasuk kelompok yang mendapat gabapentin saja serta kelompok yang mendapat gabapentin bersama vitamin D3 dalam dosis 500, 1.000, atau 4.000 IU selama 28 hari.
Peneliti mengamati dua bentuk respons nyeri. Pertama adalah hiperalgesia, yaitu respons nyeri yang berlebihan terhadap rangsangan yang memang menyakitkan, dalam penelitian ini berupa panas. Kedua adalah alodinia, yaitu timbulnya nyeri akibat rangsangan yang biasanya tidak menimbulkan rasa sakit, yang dinilai menggunakan rangsangan mekanik pada telapak kaki.
Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan vitamin D3 pada terapi gabapentin berkaitan dengan perbaikan hiperalgesia terhadap panas. Efek tersebut tampak lebih jelas pada dosis vitamin D3 yang lebih tinggi. Pada kelompok yang memperoleh 4.000 IU, perbaikan mulai terlihat lebih awal dibandingkan dosis yang lebih rendah. Namun, manfaat yang sama tidak terlihat secara bermakna pada alodinia mekanik. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme nyeri neuropatik sangat kompleks: suatu terapi dapat memengaruhi satu jenis sensitivitas nyeri tetapi belum tentu memberikan efek yang sama terhadap jenis nyeri lainnya.
Penelitian ini juga menilai TRPV1, sebuah protein pada saraf yang berperan dalam mendeteksi panas dan rangsangan nyeri. Ekspresi TRPV1 pada saraf perifer menurun seiring dengan membaiknya hiperalgesia pada kelompok yang mendapat kombinasi gabapentin dan vitamin D3. Selain itu, gabapentin, baik sendiri maupun dikombinasikan dengan vitamin D3, juga menurunkan infiltrasi sel-sel inflamasi pada jaringan saraf. Temuan tersebut memberi petunjuk bahwa manfaat vitamin D3 mungkin tidak hanya berkaitan dengan metabolisme tulang, tetapi juga dengan modulasi jalur nyeri dan peradangan saraf.
Meski menarik, hasil ini belum berarti pasien dengan nyeri neuropatik sebaiknya langsung mengonsumsi vitamin D dosis tinggi bersama gabapentin. Penelitian tersebut masih dilakukan pada hewan dengan jumlah sampel terbatas. Dosis vitamin D pada hewan juga tidak dapat langsung disamakan dengan dosis untuk manusia. Penelitian klinis masih diperlukan untuk menentukan apakah kombinasi ini benar-benar efektif, berapa dosis yang tepat, serta bagaimana keamanannya dalam penggunaan jangka panjang.
Meski demikian, penelitian ini membuka arah baru dalam penanganan nyeri neuropatik. Vitamin D3 yang selama ini identik dengan kesehatan tulang ternyata berpotensi ikut memengaruhi “sensor nyeri” seperti TRPV1. Jika kelak terbukti pada manusia, pendekatan ini dapat menjadi salah satu strategi terapi tambahan untuk membantu pasien yang belum memperoleh pengendalian nyeri optimal dengan obat standar.
Penulis: Annette d’Arqom, dr., M.Sc., Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
d’Arqom A, Supriyanto HM, Fillah AM, Qorib MF, Rimbun, Lee MT, Kadir SZSA (2026) TRPV1 modulation associated with reduced thermal hyperalgesia following vitamin D3 supplementation in gabapentin-treated neuropathic pain rats. Pharmacia 73: e180741. https://doi.org/10.3897/pharmacia.73.e180741
