Universitas Airlangga Official Website

WANALA UNAIR Selenggarakan Operasional Pendidikan Lanjut (Dikjut) Caving di Tuban

Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Airlangga (WANALA UNAIR) sukses melaksanakan kegiatan Operasional Pendidikan Lanjut (Dikjut) Caving di kawasan karst Kabupaten Tuban, Jawa Timur (Foto: WANALA UNAIR)

UNAIR NEWS – Tim Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Airlangga (WANALA UNAIR) sukses melaksanakan kegiatan Operasional Pendidikan Lanjut (Dikjut) Caving di kawasan karst Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Ekspedisi yang diikuti oleh barisan mahasiswa tangguh ini bertujuan untuk menguji kemampuan teknis susur gua, memetakan rongga bawah tanah, sekaligus mengaplikasikan ilmu konservasi alam. Selama empat hari penuh (21-24/8/2026) tim melakukan serangkaian eksplorasi intensif di empat lokasi berbeda. Antara lain Gua Kempleng, Gua Ngesong Wedhok, Luweng Wareng, dan Gua User 2. Dengan bermodalkan ketangguhan fisik, disiplin keilmuan, dan kerja sama tim yang solid, mereka berhasil menaklukkan rintangan di medan bawah tanah yang ekstrem.

Memulai langkah awal ekspedisi, Gua Kempleng menjadi medan uji pertama bagi tim untuk mempraktikkan penguasaan teknik tali tunggal (Single Rope Technique). Tidak sekadar turun dan naik, para mahasiswa langsung dihadapkan pada skenario simulasi penyelamatan di dalam gua (cave rescue) yang menuntut respons cepat dan tepat. Bertumpu pada sistem lintasan yang dibangun secara teliti di mulut gua, anggota tim secara bergiliran menjalankan peran penting sebagai penyelamat dan korban.

Praktik ini mengharuskan mereka menguasai berbagai manuver manuver perpindahan beban di atas tali, mulai dari metode croll-to-croll hingga sistem counter balance. Kelelahan yang mendera selama bergantung di kedalaman tidak menyurutkan konsentrasi mereka, membuktikan kesiapan mental dan ketahanan fisik yang menjadi instrumen paling krusial dalam sebuah eksplorasi bawah tanah.

Tantangan berlanjut pada hari kedua dengan misi eksplorasi akademis di Gua Ngesong Wedhok. Menembus gelapnya lorong hingga ke bagian tengah ruang gua (chamber), tim membentangkan alat ukur untuk melakukan pemetaan menggunakan metode poligon terbuka. Setiap mahasiswa bersinergi dengan presisi tingkat tinggi, membagi fokus sebagai pembidik jarak dan sudut, pencatat data, hingga pembuat sketsa profil gua.

Setelah berhasil mendokumentasikan lorong, penjelajahan diakselerasi menuju Luweng Wareng. Gua dengan karakteristik bukaan mulut raksasa yang membentang menyerupai dinding tebing curam ini menuntut ketangkasan vertikal yang presisi. Tim harus membangun sistem tambatan lintasan (rigging) yang aman agar tali menjuntai lurus hingga menyentuh dasar tebing, mengandalkan perhitungan ruang yang matang dan pengamanan ganda sebelum akhirnya menuruni kemegahan lanskap geologi tersebut.

Ujian sesungguhnya terhadap kekompakan tim terjadi ketika eksplorasi memasuki area Gua User 2. Di tengah proses penurunan menembus pekatnya kegelapan, tim menyadari adanya tebing batu berpermukaan tajam yang menciptakan friksi berbahaya pada tali lintasan utama. Situasi kritis ini memicu tindakan penyelamatan lintasan yang sangat cepat. Penanganan dilakukan secara beruntun oleh beberapa anggota tim yang segera meluncur turun untuk memasang dan mengamankan kembali posisi matras pelindung (padding) yang sempat bergeser.

Melalui komunikasi taktis dan keberanian mengambil keputusan logis di tengah keterbatasan ruang gerak vertikal, ancaman gesekan tali akhirnya berhasil diatasi tanpa insiden. Keberhasilan menjejakkan kaki di dasar gua kemudian disempurnakan dengan penelusuran lorong horizontal dan pendokumentasian ornamen gua melalui teknik manipulasi cahaya.

Keberhasilan ekspedisi susur gua ini pada akhirnya tidak hanya diukur dari keberanian menembus perut bumi, melainkan juga dari tegaknya komitmen pelestarian lingkungan yang dibawa oleh para anggota WANALA UNAIR. Sebelum meninggalkan kawasan operasi, tim memastikan sterilisasi area basecamp dari segala bentuk jejak manusia melalui penyapuan bersih (sweeping) sampah.

Langkah konservasi ini menjadi wujud nyata dari tanggung jawab etis mahasiswa terhadap alam raya. Rangkaian petualangan di Kabupaten Tuban ini menjadi saksi bisu tentang bagaimana semangat kemahasiswaan UNAIR mampu memadukan ketangguhan fisik, keberanian bereksplorasi, kecakapan mitigasi krisis, serta kecintaan yang mendalam terhadap kelestarian lingkungan.

Penulis: Bima Ardhia Vardhan